Implementasi Poros Pendidikan


Kelompok kerja baik itu KKG atau MGMP yang ada di Jombang telah memiliki program kerja yang tersusun secara baik
JOMBANG, MSP – Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan wadah kerja sama guru-guru dalam satu gugus, berupaya meningkatkan kemampuan profesionalitasnya. Hubungan dengan kegiatan KKG dalam profesionalitas guru, dipertanggungjawabkan melalui hasil nyata dari serangkaian proses pembenahan melalui evaluasi secara berkala.

Sedangkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah forum atau wadah kegiatan profesional guru mata pelajaran pada jenjang SMP/MTs, SMPLB/MTsLB, SMA/MA, SMALB/MALB yang berada pada satu wilayah/kabupaten/kota/kecamatan/sanggar/gugus sekolah. Dengan pola pembinaan baik secara vertikal sesuai jenjang, maupun horisontal antar teman sejawat.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Dr. Pri Adi, MM. menjelaskan, “KKG dan MGMP adalah bengkelnya para guru sebagai tempat perbaikan, evaluasi, dan juga meningkatkan kompetensi guru.”

Perkembangan MGMP khususnya Kabupaten Jombang berjalan baik setiap semester. Hal ini ditunjukkan melalui keseriusan serta dukungan penuh dengan menerbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 31 Tahun 2017, tentang Kelompok Kerja dan Musyawarah Kerja Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang sebagai payung hukum pelaksanaan KKG dan MGMP, hingga fasilitas nyaman dipergunakan untuk kegiatan setiap minggunya oleh MGMP.

Misalnya untuk MGMP SMP wilayah utara sudah tercukupi fasilitasnya seperti bangunan gedung pertemuan, laptop, LCD. Bangunan terdapat di dalam area sekolah serta sudah berjalan selama 2 tahun.

Terdapat lebih kurang 87 KKG dan 60 MGMP yang terpantau oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang dilaporkan berjalan dengan baik serta lancar. Sumber Daya Manusia (SDM) seperti anggota, pembimbing serta pengawas sebagai pembina juga mempengaruhi prosesnya. Keseimbangan dari pengawas dimampukan berjalan bersama kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT). Oleh karenanya dorongan penuh diciptakan pengawas dan kepala UPT agar mampu berperan aktif dalam pengembangan profesional untuk mutu pendidikan.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Abdul Madjid, S.Psi yang mengungkapkan bahwa beberapa kelompok kerja baik itu KKG atau MGMP yang ada di Jombang telah memiliki program kerja yang tersusun secara baik. Namun ia juga tidak menampik bahwa masih ada juga kelompok kerja yang hanya digunakan untuk sebatas berkelompok tanpa memiliki program yang jelas. Ditambahkannya, bahwa sebuah kelompok kerja harusnya yang produktif, inovatif, peka zaman. Jika kelompok kerja dijalankan secara dinamis maka akan cepat berkembang.

“Saat ini kelompok kerja pun menjadi dasar bagi program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dalam PKB setiap kelompok kerja memiliki instruktur atau mentor atau narasumber masing-masing. Disana akan membahas apa yang menjadi kebutuhan guru yang ada dalam kelompok kerja. Jadi, kebutuhan guru anggota ini apa, kompetensi apa yang perlu kita tingkatkan. Seorang mentor sudah bisa membantu semuanya. Di semua modul dan kompetensi,” urai Abdul Madjid.

Namun ditambahkan oleh pria yang juga menjadi Operator program PKB Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang ini masing-masing kelompok kerja memiliki kebutuhannya masing-masing. Sehingga tiap kelompok kerja akan memilih materi atau modul yang berbeda-beda.

“Terkait bantuan materi atau bantuan anggaran pendanaan dan sebagainya, selama ini yang men­-support adalah anggaran bantuan pemerintah yang dilewatkan ke Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK). P4TK ini yang menyalurkan ke kelompok kerja secara nasional. Berhubung anggaran terbatas, tidak semua kelompok kerja dapat melainkan hanya beberapa saja,” ujar Abdul Madjid.

Disadari juga oleh pria berkumis ini bahwa mood dan semangat guru baik dalam hal mengajar atau peningkatan keprofesionalan pasti mengalami fluktuasi. Sehingga tentang bagaimana menjaga kestabilan semangat guru itu yang juga perlu diperhatikan. Dengan arahan serta dorongan yang tepat dari berbagai pihak khususnya dari pemimpin atau penggerak yang ada di dalam kelompok kerja semangat untuk berkembang tetap akan bergairah.

“Kuncinya pada ketua dan juga pengurus kelompok kerja. Jika mereka memiliki visi yang baik besar kemungkinan anggotanya juga dapat turut bergerak. Kami dari Bidang Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan juga tidak henti-hentinya untuk mendorong para guru untuk meningkatkan keprofesionalan kerja,” ucap Abdul Madjid.

Kritik justru disampaikan oleh Sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Jombang, Heri Mujiono, S.Pd., M.Pd. Menurut pendapatnya kelompok kerja khususnya KKG sebagian belum memiliki program yang serius. Mereka melakukan pertemuan rutin setiap bulan. Hanya saja pertemuan itu sekedar rutinitas belaka belum jelas tujuan dari pertemuan pada bulan tertentu ingin mengembangkan tentang apa.

Dari pengalamannya, sebelumnya Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) telah melakukan pembinaan melalui program Bermutu seharusnya dapat dideseminasikan atau direfresh kembali untuk menyusun program KKG itu dari mulai apa, sasarannya apa dan targetnya kapan itu harus segera diprogramkan. Sehingga pertemuan rutin KKG dapat bermakna.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala SDN Kepanjen II ini mengatakan, “Diskusi-diskusi di KKG sudah seharusnya diisi dengan diskusi yang profesional bukan hanya ceramah-ceramah yang bersifat nasihat. Sudah tidak waktunya lagi. KKG juga sudah waktunya memiliki program yang jelas. Memilih narasumber yang kompeten. Pembinaan yang dilakukan pengawas pun harus bersifat to the point dengan pengembangan kompetensi. Diberikan keterampilan apa yang seharusnya dikerjakan di kelas. Bukan lagi dijelaskan tentang hal-hal yang sifatnya filosofis yang sifatnya misalnya bagaimana idealnya seorang guru. Nasihat pitutur juga seharusnya dikurangi. Guru lebih diajak untuk lesson studies yaitu bagaimana dia mengkaji ulang apa yang pernah dia lakukan, dibahas, dibedah bersama-sama ketika mengajar dengan suatu metode sebenarnya apa kelemahannya dan kemudian dicari jalan keluarnya.”

Sehingga menurut Heri Mujiono saran yang tepat bagi kelompok kerja ke depannya adalah, rumuskanlah program KKG dengan jelas dan serius karena ketika seorang guru telah melaksanakan tugas perlu ada yang namanya update informasi maupun kompetensi karena satu-satunya bengkel yang sekarang ini formal itu ya KKG itu. Program yang dirumuskan pun seharusnya didasarkan pada kebutuhan pengembangan kompetensi guru. Baik pengetahuan sains (keilmuan)nya, misalkan membahas tentang materi pembelajarannya maupun metodologinya. Jadi dapat diadakan evaluasi kebutuhan serta angket ke depannya kelompok kerja ini membutuhkan apa. chicilia risca / fitrotul aini.

No comments

Powered by Blogger.