Berselancar di Percaturan Teater Jombang


Teater dalam perkembangannya sudah menjadi sebuah alternatif pendidikan khususnya guna meningkatkan karakter peserta didik. Tidak heran bilamana di sekolah teater menjadi salah satu pilihan di ekstrakurikuler yang wajib dipilih peserta didik guna menyalurkan bakat dan minat.

Judul : Dari Tombo Ati Sampai Tobat Maksiat

Penulis : Imam Ghozali Ar.

Tebal : 116 halaman

Editor : R. Giriyadi

Penerbit : Satu Kata Book Art Publisher

Teater dalam perkembangannya sudah menjadi sebuah alternatif pendidikan khususnya guna meningkatkan karakter peserta didik. Tidak heran bilamana di sekolah teater menjadi salah satu pilihan di ekstrakurikuler yang wajib dipilih peserta didik guna menyalurkan bakat dan minat.

Selain bermain peran, teater juga mengajari seorang individu (peserta didik, red) mendalami kehidupan di luar yang dilakoni selami ini. Alhasil, peserta didik memiliki pengalaman emprisis ketika mempelajarinya. Misalnya saja dalam memerankan tokoh tertentu di sebuah naskah, maka akan ada usaha menyusuri kehidupan perannya tersebut.

Kondisi itu pun yang tersirat dalam buku Dari Tombo Ati Sampai Tobat Maksiat karya Imam Ghozali Ar. yang lebih kurang tiga dekade terakhir mendedikasikan dirinya di percaturan teater Kota Santri. Pengalaman panjangnya ini pun setidaknya banyak membekas di benaknya sendiri ataupun rekan sejawat yang bersama-sama ngopeni seni pertunjukkan modern ini.

Buku setebal 116 halaman ini tidak ubahnya sebuah catatan peristiwa dari pertunjukan terater tahun 1980-an hingga 2000-an. Diantaranya yang menarik hadirnya Bengkel Pembinaan Teater Jombang (Kelbinterbang) di era tahun 1980-an yang mengakomodir pangkalan terter di sekolah untuk menyelenggarakan latihan gabungan.

Bisa dibayangkan betapa meriahnya ketika kelompok teater di masing-masing sekolah berkumpul dan berlatih bersama. Meskipun demikian amat terasa persaingan yang positif untuk menghasilkan pertunjukkan yang memikit baik dari sisi interinsik maupun ekstrinsik. Hal yang sangat jarang sekali di jumpai di era kini. Entah lantaran hiroh teater apakah sudah tidak seperti dahulu lagi atau masih ada pandangan sentimen sebagian orang tentang dunia atas panggung ini.

Kekayaan Kesenian Jombang

Melalui Komunitas Tombo Ati yang di besut, guru SDN Jombatan III Jombang ini pun telah melahirkan banyak karya yang didasari dari kekayaan bentuk kesenian di palemahan kelahirannya ini. Mulai Besutan, Sandur Manduro, Topeng Jati Duwur, dan lain sebagainya.

Walapun tergolong sebuah kesenian rakyat karena sejarahnya memang dimainkan oleh rakyat, di gelar di tengah-tengah pemukiman rakyat, dan di tonton rakyat bukan berarti disajikan begitu saja. Seperti yang diakui alumnus Pascasarjana BKU Filologi Universitas Padjadaran, Bandung, Jawa Barat bahwa meski mengambil ide dasar dari sebuah kesenian rakyat tetap melalui proses rekontruksi artistik. Sehingga saat muncul di atas panggung, maka memiliki perwujudan lain dan memiliki nilai estetis yang sedap di tonton.

Sebelum menyajikan perlu meramu terlebih dahulu dengan pelbagai studi baik secara literatur hingga terjun langsung ke pelaku. Besar harapan banyak yang akan disarikan sehingga tidak bakal keluar dari pakem yang ada. Sebagaimana diketahui dalam kesenian tradisi ada beberapa pakem yang harus dipatuhi. Oleh karena itu, sudah tidak perlu diragukan lagi sewaktu pemanggungan tampak matang.

Dengan demikian, ada upaya lain yang secara eksplisit mencoba mendekatkan ke penonton utamanya kalangan muda. Diakui atau tidak menggaet penonton usia belia tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Namun dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan marcapada pemikirannya. 
n rahmat sularso nh.

No comments

Powered by Blogger.