Induksi Guru, Gerbang Profesionalitas


Orientasi atau pengenalan diarahkan kepada tugas-tugas pokok guru, meliputi orientasi secara teknis maupun administratif. Seandainya diperlukan, dapat juga diperkenalkan kepada guru pemula perihal lingkungan sekolah, sistem yang dipakai di sekolah sampai kepada karakter dari masing-masing personal yang ada di sekolah.

H. Aam Muamar, M.Pd.*)

Dalam teknik menulis ilmiah, istilah induksi atau induktif merupakan cara menulis yang dimulai dari informasi-informasi atau data-data yang khusus, untuk kemudian mengarah kepada pemikiran yang lebih umum dan luas. Lawannya adalah teknik deduktif, yang dimulai dari menjelaskan data-data umum untuk kemudian mengkrucut pada pemahaman yang lebih spesifik. Di antara kedua teknik ini, deduktif lebih banyak dipakai, karena karya ilmiah dimaksudkan untuk menarik kesimpulan hingga diperoleh pemahaman yang konkret.

Sementara dalam ilmu fisika, induksi berhubungan dengan kelistrikan, yaitu proses pembangkitan tenaga listrik (elektrik) di dalam sirkulasi tertutup oleh arus (gerak) magnetic melalui gerak putar.

Baik dalam metode penulisan ilmiah, maupun dalam ilmu fisika, induksi sama-sama berorientasi kepada hasil, dimana apa yang menjadi tujuan dari proses itu dapat diperoleh dengan baik, sesuai harapan. Menarik kesimpulan, merupakan akhir dari proses penulisan ilmiah, sementara arus listrik yang dihasilkan merupakan tujuan dari perputaran magnet pada kumparan. Kedua-duanya diawali oleh proses penyesuaian antara dua komponen yang awalnya berbeda, untuk kemudian dipadukan dalam sebuah proses yang dapat menghasilkan produk.

Artinya, dalam induksi ada setidaknya 3 komponen penting; input, proses dan out-put. Input merupakan masuknya komponen baru yang sudah siap untuk mengikuti tahapan berikutnya mealui proses yang sudah baku, untuk kemudian dilakukan penyesuain terhadap sistem yang ada, agar menghasilkan produk yang sesuai harapan.

Istilah induksi diterapkan dalam manajemen tenaga kependidikan, mengandung arti bahwa para tenaga pendidik pemula yang baru memasuki lembaga pendidikan untuk diberikan bimbingan dan pelatihan oleh guru senior yang linear agar yang bersangkutan dapat lebih siap secara skill maupun mental dan memiliki kompetensi yang perima.

Sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2010, bahwa induksi guru merupakan kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan dan praktek pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran/bimbingan dan konseling bagi guru pemula pada sekolah/madrasah di tempat tugasnya.

Dari pengertian di atas, ada 3kata kunci yang harus jelas kita pahami mengenai program induksi guru pemula (PIGP). Pertama, PIGP merupakan kegiatan orientasi, pelatihan, pengembangan dan praktek pemecahan masalah. Artinya, PIGP lebih bersifat teknis, tidak berupa bimtek yang sarat dengan pemahaman teori dan konsep.

Guru pembimbing lebih bertindak sebagai pendamping sekaligus partner bagi guru pemula dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berhubungan dengan kompetensi pedagogiknya yang menyangkut penyusunan rencana pembelajaran, pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan model-model pembelajaran, kemampuan dalam melakukan penilaian dan melaksanakan program tindak lanjut (remedial atau pengayaan).

Orientasi atau pengenalan diarahkan kepada tugas-tugas pokok guru, meliputi orientasi secara teknis maupun administratif. Seandainya diperlukan, dapat juga dipetkenalkan kepada guru pemula perihal lingkungan sekolah, system yang dipakai di sekolah sampai kepada karakter dari masing-masing personal yang ada di sekolah. Semua itu disampaikan kepada guru pemula supaya dia merasa lebih nyaman dan paham mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, baik yang bersifat skill maupun teknis. Ujung-unjungnya dari semua ini adalah supaya produktifitasnya semakin baik.

Kedua, sekolah, atau tempat dimana guru pemula dan guru pembimbing ada di tempat kerjanya. Areal induksi adalah sekolah dan lingkungan di sekitarnya. Guru pemula tidak harus keluar dari lingkungan sekolah untuk mendapat bimbingan atau penataran kompetensinya. Artinya guru pemula tidak akan direpotkan oleh tugas-tugas tambahan di luar tupoksinya dalam kegiatan PIGP. Dia dibimbing secara alamiyah, berkaitan langsung dengan tugas sehari-hari sehingga lebih memahami secara detil mengenai urutan dan prosedur kinerjanya.

Guru pemula harus paham betul mengenai kerakteristik tempat di mana dia mengajar. Sarana/prasarana, orang-orang yang berhubungan dengannya maupun system yang digunakan. Idealnya, konsep-konsep yang dia kuasai tentang kompetansi pedagogis dan profesionalnya harus disesuaikan dengan karakteristik sekolah dimana dia mengajar. Dalam hal ini, manajemen berbasis sekolah harus disampaikan pula kepada guru pemula, meskipun tidak secara teori, melainkan langsung dengan prakteknya.

Kendatipun guru yang bersangkutan pernah menjadi tenaga honorer di tempat lain, bahkan di lembaga pendidikan yang lebih maju atau lulusan dari perguruan tinggi kependidikan yang ternama dengan yudisium cumlaude misalnya, tapi semua itu tidak berarti kompetensi yang bersangkutan dapat langsung diterapkan di sekolah baru di mana dia diangkat sebagai guru, karena sangat mungkin ada banyak perbedaan yang akan menghambat ketercapaian tujuan pembelajaran di tempat yang baru. Upaya-upaya pengembangan terhadap sekolahnya yang baru harus sesuai dengan karakteristik yang ada.

Ketiga, guru professional merupakan tujuan pokok PIGP. Dalam kamus Wikipedia professional diartikan sebagai seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dengan menerima gaji sebagai upah atas jasanya.

Jadi, guru professional adalah guru yang memiliki keahlian dan memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan pada akhirnya memperoleh penghasilan atau bayaran sesuai jasa yang diberikannya.

Profesionalisme tidak hadir begitu saja, melainkan diperoleh melalui proses yang panjang, baik melalui pendidikan atau pelatihan yang formal maupu non formal. Semuanya dinilai lebih kepada hasil yang dicapainya, tidak kepada atribut-atribut yang disandangnya, misalnya gelar kesarjanaan atau pendidikan yang pernah ditempuhnya. Karenanya seorang yang profesional layak untuk mendapat penghasilan sesuai kinerja yang ditampilkannya dan keahlian yang dimiliki.

PIGP hanya merupakan salah satu cara untuk mencapai profesinalisme bagi guru. Selain itu banyak cara lain yang dapat dilakukan dan diperoleh guru, misalnya diklat keprofesian, bimbingan teknis keahlian tertentu atau melalui pengalaman langsung yang diperolehnya di lapangan.

Induksi dan Profesionalisme Guru

Bannyak media yang dapat diperoleh guru dalam meningkatkan profesonalismenya. Baik yang diselenggarakan secara regular melalui lembaga pemerintah atau swasta, maupun yang dilakukannya melalui autodidak atau kajian terhadap permasalahan-permasalahan yang diperolehnya selama dia menjalankan tugasnya sehari-hari.

Induksi hanya bagian dari semua media tersebut. Pertanyaannya mungkinkah induksi dapat meningkatkan profesionalitas guru?

Pada dasarnya semua upaya bimbingan atau pelatihan pada seseorang mengenai sebuah bidang keahlian, maka sedikit- banyak akan meningkatkan keahlian atau profesionalitas seseorang, dengan catatan semua prosedurnya dilakukan secara benar dan didorong oleh komitmen dari semmua pihak untuk serius dalam menjalankan proses itu. Sebagai contoh, mengapa seorang pengrajin patung atau seni pahat lainnya, mereka tidak lagi membutuhkan pola atau sketsa dari benda yang akan dibentuknya? Jawabannya karena latihan yang intensif di bawah bimbingan seorang maestro telah melatih panca indranya untuk lebih sensitif dari ide dasar yang dituangkannya. Maka secara otomatis, keahliannya yang semakin kuat akan menghasilkan karya yang lebih berkualitas, dan karya yang bernilai tinggi tentunya akan menarik siapapun untuk memberi harga yang tinggi pula.

Mengapa seorang Leonardo da Vinci karyanya dihargai orang dengan milyaran rupiah, seperti lukisan Monalisanya. Bahkan di biro pelelangan baru-baru ini, karyanya yang berjudul The Jesus dibeli oleh seorang Pangeran dari Arab Saudi dengan harga trilyunan rupiah, lagi-lagi semuanya bermuara pada masalah profesionalisme.

Di sini Nampak bahwa betapa bernilainya sebuah peofesioalitas, mengapa? Karena dari tangan-tangan professional sebuha maha karya akan tercipta dalam berbagai bidang, tidak terkecuali di bidang pendidikan.di tangan seorang guru profesional tunas-tunas bangsa yang berkualitas akan terlahir, dan dari tenaga pendidik yang ahli, peradaban bangsa dan duni akan terbangun. Itulah sebabnya upaya untuk terus mengkompanyekan pentingnya profesionalisme dan butuhnya kita dengan guru-guru terammpil terus digalakan oleh pemerintah melalui berbagai program, salah satunya adal induksi.

Mengapa harus induksi?

Boleh dibilang program ini terbilang cukup baru diberlakukan dalam sistem pendidikan di Indonesia, meskipun di Negara-negara luar sudah lama diterapkan. Ide dasar yang melatarbelakanginya adalah bahwa tidak semua kompetensi yang telah dimiliki oleh seorang guru pemula, baik dari hasil belajarnya selama di lembaga pendidikan keguruan maupun pengalamannya sebagai tenaga honorer atau guru tidak tetap, belum tentu sesuai dengan yang dbutuhkan oleh lembaga yang mengangkatnya sebagai tenaga pendidik.

Terutama yang berkaitan dengan hal-hal teknis yang terdapat di lembaga pendidikan tempat dia mengabdi, dibutuhkan pemahaman dan skill untuk menaklukkannya. Proses induksi memberikan celah untuk bisanya masuk seorang guru pemula kepada hegemoni kegiatan yang notabene menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Jadi boleh dibilang, bahwa PIGP merupakan pintu gerbang bagi seseorang untuk menjedi profesional.

Beberapa uraian dasar mengenai katerkaitan PIGP dengan meningkatnya profesionalisme guru: 1) bimbingan yang continue, 2) materi bimbingan yang lebih aplikatif, 3) pembimbing dari seorang guru senior yang linear dengan materi yang diampunya, dan limit waktu satu tahun yang lebih leluasa.

1) Bimbingan yang continue
Praktek bimbingan dari seorang guru senior terhadap guru pemula dalam PIGP dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Bimbingan diarahkan kepada peningkatan kompetensi pedagogik, profesional, keperibadian dan sosial guru.

Sifatnya yang continue, lebih memungkinkan bagi seorang guru pemula untuk secara bertahap meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya di bawah bimbingan guru senior.

2) Materi bimbingan yang lebih aplikatif
Guru pembimbing memiliki tugas untuk memberi pemahaman dan pelatihan dasar bagi guru pemula segala hal yang berkaitan dengan tupoksi guru, yaitu menyusun perencanaan, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian dan menindaklanjuti hasil penilaian.

Dengan ruang lingkup yang sedikit dan langsung bersentuhan dengan tugas utama guru, didukung dengan kompetensi yang telah dimiliki sebelumnya, maka dengan bimbingan saat proses induksi, guru pemula akan dengan mudah menguasai materi-materi tersebut, selama dia memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya.

3) Pembimbing dari seorang guru senior yang linear dengan materi yang diampunya.

Pola pembimbingan banyak mengalami hambatan dalam mencapai targetnya jika tidak ada keterkaitan secara linear antara pembimbing dengan yang dibimbing. Seorang dosen membimbing guru mata pelajaran misalnya, atau seorang praktisi membimbing seorang konseptor. Semuanya hanya akan memperbaiki dari aspek keterpenuhannya pemahaman atau melengkapi keterampilan yang belum dikuasainya, tidak dapat menyelesaikan persoalan secara lebih mendasar.

tapi seandainya kesamaan dari keahlian dan bidang yang dikuasainya atau disebut dengan linear, maka hambatan-hambatan itu akan sedikit teratasi, mengingat ada kesesuaian pemahaman dan pengalaman dari kedua belah pihak.

Guru pemula mata pelajaran PAI-BP yang diinduksi oleh guru pengampu mata pelajaran yang sama akan dengan mudah membangun chemistry di antara keduanya yang dengannya mudah terbukanya dialog dan komunikasi yang intensif, termasuk dalam mencari solusi dari permasalahan yang ditemui di lapangan.

4) Limit waktu 1 tahun yang leluasa.

Kegiatan bimbingan dalam PIGP dilakukan secara alamiyah, yaitu bersentuhan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pemula seperti biasa sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Guru pembimbing hanya memberikan arahan dengan metode andragoginya untuk lebih menyempurnakan dan menguatkan seandainya ada yang terlewat atau terlupakan dalam kegiatan pembelajaran yang akan, sedang atau telah dilaksanakan. Program ini berlangsung selama satu tahun pelajaran.

Limit waktu 1 tahun cukup memberi keleluasaan bagi guru pemula untuk mengeksplor potensi-potensi yang ditemuinyai dalam mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Dan waktu 1 tahun ini masih bisa ditambah kembali seandainya hasil penilaian belum menunjukan skor yang diharapkan.

Kegiatan pembelajaran merupakan sebuah proses yang dinamis. Guru dituntut untuk dapat terus mengembangkan kompetensi dan meningkatkan keterampilannya dalam memberikan layanan yang lebih baik, sebagai sebuah tuntutan profesional. PIGP merupakan salah satu media bagi guru pemula untuk dapat meningkatkan profesionalismenya melalui bimbingan yang continue, materi bimbingan yang lebih aplikatif, pembimbing dari seorang guru senior yang linear dengan materi yang diampunya, dan limit waktu satu tahun yang lebih leluasa. Wallahu’alam…

*) Pengawas Disdik Kab. Bandung Jawa Barat

No comments

Powered by Blogger.