Kebiasaan Oral Pengaruhi Pertumbuhan Rahang dan Gigi


Posisi rahang yang ideal dapat dilihat dari samping, yang mana kedua bibir atas dan bawah bila mengatup tidak melebihi ujung hidung. Posisi gigitan normal rahang atas terhadap rahang bawah adalah bila jarak gigi depan atas adalah 2mm lebih ke depan dibanding gigi depan bawah.

drg. Alvina Mudyandari, SpOrt*)

JOMBANG – Di kehidupan sehari-hari mungkin sering kita melihat orang tua yang mencegah, melarang atau bahkan memarahi anak ketika terlihat menghisap jempol. Salah satu alasannya adalah khawatir gigi anak akan tonggos sehingga mempengaruhi penampilannya.

Anggapan tersebut sepenuhnya tidak salah. Karena kebiasaan menghisap jempol memang akan mempengaruhi pertumbuhan rahang, gigi, juga struktur wajah. Rahang dan susunan gigi anak yang gemar menghisap jempol akan lebih maju atau lebih mundur dibanding anak yang tidak suka menghisap jempol. Dengan susunan gigi dan rahang yang lebih maju atau mundur, struktur wajah juga menjadi berbeda. Mulut tidak bisa menutup sempurna.

Selain menghisap jempol, oral habit (kebiasaan oral) lain yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan rahang juga gigi adalah kebiasaan menggigit bibir, kebanyakan adalah menggigit bibir bawah. Efeknya mirip dengan menghisap jempol yakni menyebabkan rahang dan susunan gigi atas akan lebih maju.

Sering memposisikan lidah tidak seharusnya juga dapat mempengaruhi susunan gigi. Posisi lidah ketika menelan seharusnya menempel pada langit-langit mulut. Namun ada beberapa anak bahkan orang dewasa yang memiliki kebiasaan menempatkan lidah pada gigi depan atas atau bawah. Kebiasaan ini dapat membuat susunan menjadi lebih renggang.

Bagi orang sering terkena flu atau yang memiliki riwayat penyakit asma juga perlu untuk memperhatikan teknis bernapas. Terhambatnya saluran pernapasan kerap memaksa penderita flu atau asma untuk bernapas menggunakan mulut. Bernapas menggunakan mulut selain memang tidak dianjurkan dalam teknik pernapasan, juga ternyata dapat mengubah struktur rahang dan bentuk wajah. Lengkung gigi rahang atas dan rahang bawah pada orang yang bernafas melalui mulut akan menyempit dibanding yang normal (oval) sehingga rahang atas dan rahang bawah akan maju serta susah menutup mulut. Disamping itu, bernapas melalui mulut juga bisa mengeringkan rongga mulut dan menyebabkan bau mulut, penyakit gusi dan kerusakan gigi.

Posisi rahang yang ideal dapat dilihat dari samping, yang mana kedua bibir atas dan bawah bila mengatup tidak melebihi ujung hidung. Posisi gigitan normal rahang atas terhadap rahang bawah adalah bila jarak gigi depan atas adalah 2mm lebih ke depan dibanding gigi depan bawah. Posisi gigi taring berada di sudut mulut untuk garis senyum.

Cukup mudah untuk bisa mendapatkan susunan ideal ini yaitu dengan mengatupkan rahang atas dan bawah dan gigi-gigi saling bertemu/mengigit. Untuk memelihara posisi rahang supaya dalam bentuk ideal dilakukan dengan menutup mulut dalam posisi biasa, bibir atas dan bibir atas saling menyatu walaupun saat bernafas. Di dalam mulut gigi tidak perlu nggeget (gigi menggeletuk satu sama lain).

Kebiasaan ini sebaiknya mulai diterapkan pada anak usia pra sekolah atau sekitar 3 hingga 4 tahun karena pada usia tersebut susunan gigi anak sudah mulai lengkap. Lantas bagaimana dengan anak di usia bawah tiga tahun (batita) yang juga kadang gemar menghisap jempolnya? Bagi anak di bawah tiga tahun, kebiasaan menghisap jempol masuk dalam fase oral dan tidak terlalu memberikan dampak selama belum tumbuh gigi. Hanya saja kebiasaan tersebut perlu untuk dikontrol agar tidak berkelanjutan. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pembiasaan ini pada anak.

Lantas apakah hanya anak-anak saja yang perlu menghindari kebiasaan buruk tersebut? Tidak! Orang dewasa juga harus tetap menghindarinya karena susunan gigi dapat berubah karena oral habit (kebiasaan oral) yang buruk. Meski perubahan yang terjadi tergantung pada intensitas, frekuensi, serta durasi kebiasaan buruk dilakukan. Semakin besar intensitasnya, semakin sering dan lama frekuensi serta durasi melakukannya, dampak yang diciptakan juga akan semakin buruk.

Jika terlanjur terjadi adanya kelainan, penanganan dapat menggunakan alat sejak dini. Alat terapi kebiasaan buruk, kawat yang bisa dilepas pasang atau kawat gigi permanen bila seseorang sudah mencapai tahap pertumbuhan tertentu, dengan memperhatikan pertumbuhan akar gigi dan rahang.

Penanganan kelainan ini akan berhasil dengan catatan: kebiasaan buruk yang dilakukan harus lebih dulu untuk dihilangkan. fitrotul aini.

*) Dokter Gigi RSUD Jombang. Juga membuka praktik klinik pribadi di Jl. Adityawarman 41 Jombang (belakang RSUD Jombang)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.