Meraih Rupiah dengan Membuat Batu Bata


Berprofesi sebagai pembuat batu bata sudah ia tekuni sejak puluhan tahun silam bersama keluarganya. Menurutnya membuat batu bata cukup mudah dan bahannya pun melimpah, tetapi prosesnya lumayan lama dan membutuhkan tenaga ekstra.

DIWEK – Kebutuhan batu bata dalam pembangunan sangan penting. Selain sebagai bahan utama membuat bangunan, batu bata masih dianggap lebih kokoh dibanding dengan material lain seperti batako maupun batu kapur. Selain itu harga yang terjangkau pun menjadikan batu bata masih banyak dipilih. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila usaha pembuatan batu bata memiliki potensi yang menguntungkan.

Peluang tersebut tidak dilewatkan begitu saja oleh Sobirin, warga Dusun Sugihwaras, Desa Bandung, Kecamatan Diwek. Berprofesi sebagai pembuat batu bata sudah ia tekuni sejak puluhan tahun silam bersama keluarganya. Menurutnya membuat batu bata cukup mudah dan bahannya pun melimpah, tetapi prosesnya lumayan lama dan membutuhkan tenaga ekstra.

“Peralatan yang diperlukan cukup sederhana seperti cangkul, alat pencetak batu bata, tungku pembakaran, kayu bakar atau sekam (kulit) padi. Sedangkan bahan bakunya dari tanah liat dan air saja,” kata Sobirin ketika ditemui di lahan pembuatan batu batanya.

Namun dalam pembuatannya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan jenis tanah agar batu bata terjamin kualitasnya. Hampir semua jenis tanah dapat digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata kecuali yang mengandung pasir atau kapur. Apabila tanah yang digunakan tercampur dengan pasir dan kapur, maka hasilnya tidak maksimak karena mudah pecah.

Sobirin menjelaskan bahwa untuk mengetahui tanah tersebut bagus yaitu dengan mencampur tanah dengan air, lalu diaduk hingga rata. Selanjutnya diinjak-injak hingga lumat dan buang kerikil maupun kotorang yang ada. Setelah lumat, tanah direndam selama satu hari dan jangan sampai terkena panas matahri. Jika tanah tersebut tidak merekah, berarti tanah tersebut baik untuk bahan batu bata.

“Setelah memilih tanah yang tepat, kemudian dicampur dengan air sampai menjadi adonan tanah liat. Tidak ada takaran pasti, asalkan tanah tidak terlalu basah maupun kering. Karena jika terlalu basah maka akan sulit untuk dicetak dan jika diangkat dari alat cetaknya akan langsung meluber,” jelasnya.

Selanjutnya jika adonan selesai, tahap selanjutnya adalah ke proses pencetakan batu bata. Batu bata dicetak dengan ukuran panjang 20 cm, lebar 10 cm dan tinggi 5 cm. Alas untuk menaruh batu bata yang masih basah harus menggunakan tanah kering dan ditaburi pasir sedikit sehingga waktu pengangkatan batu bata kering mudah dan tidak gampang pecah.

“Biasanya ada juga yang menggunakan papan untuk alasnya agar mudah dipindahkan. Proses penjemurannya sekitar tiga hari hingga adonan kering berwarna coklat keputihan, itu pun tergantung dari cuacanya. Setelah itu barulah tahap terakhir yaitu pembakaran,” ujar Sobirin.




Proses pembakaran memakan waktu yang cukup lama, tambah pria paruh baya itu. Hampir satu minggu dengan bara api yang harus selalu menyala setiap harinya. Sebenarnya, proses ini bisa lebih cepat jika saja membakarnya menggunakan kayu bakar. Namun, harga kayu yang sangat mahal membuat para pengerajin menyiasatinya dengan menggunakan sekam padi. 

Selama satu minggu penuh bara api harus selalu dijaga. Untuk mengerjakan pekerjaan ini, ada buruh khusus yang melakukannya. Buruh tersebut bertugas menjaga bara api dan menabur sekam di atas tumpukan batu bata pada waktu pagi dan sore hari.

“Memang pekerjaanya tidak terlalu susah. Namun resikonya sangat besar. Karena mereka menabur sekam padi langsung diatas tumpukan batu dengan bara api sekam yang masih menyala. Jika terjatuh masuk kedalam tumpukan batu, maka resikonya kaki bisa mengalami luka bakar yang amat parah,” papar sobirin.

Setelah meleawati proses pembakaran yang memakan waktu cukup lama, maka batu akan tampak matang jika warnanya mulai kemerah merahanSelanjutnya batu bata mesti didinginkan didalam kilang selama tiga hari, setelah itu barulah batu bata bisa dibongkar dan dijual kepada para tengkulak.

Pada saat ini harga kualitas I batu bata Rp600 ribu per 1000 buah dan kualitas II Rp560 ribu per 1000 buah. Harga tersebut menurutnya “harga ditempat”, artinya konsumen masih harus mengeluarkan sendiri ongkos angkut mobil, bongkar muat tergantung jauh dekat jarak tujuan. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.