Kembangkan Sembilan Kecerdasan Majemuk


TK Darut Taqwa, Desa Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang terus berupaya mengembangkan pembelajaran serupa. Selain pembelajaran klasikal dalam pembentukan kecakapan logika pada umumnya, lembaga yang berada di daerah pedesaan ini mampu memanfaatkan segala potensi alam di sekitar lingkungan.

BANDARKEDUNGMULYO – Tingkat kecerdasan seorang anak tidak hanya diukur melalui kecakapan logika saja, masih ada sejumlah kemampuan lain yang tergabung dalam kecerdasan majemuk. Kecerdasan tersebut meliputi verbal-linguistik, logis-matematis, spasial-visual, kinestetik-jasmani, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalis dan eksistensial.

Teori sembilan kecerdasan majemuk pertama kali dilontarkan seorang profesor dan psikolog Universitas Harvard, Howard Gardner. Teori itu menjelaskan bahwa setiap poin memiliki kesinambungan satu sama lain. Apabila berhasil menerapkan seluruh aspek secara baik, suatu lembaga pendidikan dapat melahirkan anak didik dengan kecakapan di segala bidang dan terpenting menumbuhkan kemandirian.

Layaknya TK Darut Taqwa, Desa Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang terus berupaya mengembangkan pembelajaran serupa. Selain pembelajaran klasikal dalam pembentukan kecakapan logika pada umumnya, lembaga yang berada di daerah pedesaan ini mampu memanfaatkan segala potensi alam di sekitar lingkungan. Mulai dari tersedianya tanaman produktif berbuah seperti kelengkeng, belimbing serta mangga guna mengenalkan anak didik mengenai nama, bentuk, hingga rasa masing-masing buah. Kemudian juga tumbuhan hias berupa berbagai macam jenis bunga dapat dipergunakan saat pembelajaran menanam secara langsung. Sehingga guru bisa meminimalisir anggaran pengeluaran lembaga, serta mengurangi beban orang tua.



Kepala TK Darut Taqwa, Hj. Siti Khalimah, S.IP. S.Pd., AUD memaparkan, “Walaupun berada di desa, Alhamdulillah komite sangat berperan aktif dalam mendukung keberhasilan program pembelajaran. Ketika lembaga memiliki satu rencana kegiatan dan dirasa memberikan dampak positif bagi anak didik, saat itu juga komite segera mengambil langkah. Pihak sekolah hanya bertindak sebagai penggagas dan fasilitator, semua kegiatan teknis diserahkan kepada komite sebagai panitia.”

Berbekal dukungan komite yang begitu tinggi sekolah tertarik terus mengembangkan kegiatan dalam melatih soft skill anak didik melalui kegiatan tambahan saat pembelajaran, supaya tidak menambah jam belajar di TK. Seperti halnya kecerdasan eksistensial dari hadrah, interpersonal berupa hafalan doa sehari-hari, kinestetik dengan menari, drumbband dan ada satu yang kemungkinan tidak ditemukan di lembaga lain adalah permainan alat musik angklung sebagai wujud kecerdasan musikal. Harapannya, ketika berada di hadapan banyak orang anak didik bisa tampil percaya diri.

Ketika pembelajaran berlangsung, anak didik secara bergantian di setiap harinya memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti semua kegiatan tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Tetapi secara tidak langsung guru melakukan penilaian mengenai keahlian masing-masing dan melakukan seleksi sesuai bidang untuk dijadikan regu ataupun perorangan sebagai perwakilan sekolah apabila suatu saat diundang mengikuti sebuah perlombaan tertentu.

“Khusus penggunaan alat musik angklung dimainkan guru atau anak didik untuk dipergunakan sebagai pengiring ketika semua bidang keahlian ditampilkan. Lantaran puncak dari pembelajaran berbagai bidang kecerdasan anak tersebut ada saat pentas seni akhir tahun. Saat seluruh anak didik menunjukkan berbagai keahlian yang telah dipelajarinya sehari-hari. Penampilan terbaik juga diberikan apresiasi agar semakin termotivasi kedepannya,” jelas perempuan yang kerap disapa Bunda Khalim tersebut. fakhruddin

No comments

Powered by Blogger.