Klenteng Hong San Kiong, Gudo Padukan Arsitektur Rumah Adat Joglo


Hal utama yang terlihat di bangunan ini adalah dinding bangunan berwarna merah dan hitam bertuliskan kuning. Warna merah biasanya mendominasi setiap bangunan klenteng karena dipercaya melambangkan kegembiraan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Warna kuning (keemasan) adalah kemuliaan, kerajaan, kemakmuran dan kekayaan. Warna hitam melambangkan energi positif (yang).

GUDO – Keberadaan klenteng di Indonesia tidak lepas dari kedatangan orang Tionghoa yang berimigrasi sejak ratusan tahun lalu melalui kegiatan perniagaan. Peranannya juga beberapa kali muncul dalam sejarah, catatan-catatan tersebut menyatakan bahwa kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti yang berkuasa di Tiongkok (China). Faktor ini yang mempengaruhi menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Tiongkok ke Nusantara.

Sie Agama Klenteng Hong San Kiong, Nanik Indrawati menceritakan bahwa berawal dari perjalanan para leluhur dari Tionghoa dengan menggunakan perahu selama berbulan-bulan, maka mereka membawa patung dewa untuk melakukan sembahyang. Namun dalam sejarahnya, bangunan klenteng ini sendiri tidak serta merta berdiri megah seperti sekarang. Dahulu hanya ada beberapa patung dewa dan berdindingkan seng. Berjalannya waktu dan banyak donatur dari pihak-pihal lain, bangunan klenteng yang megah nan indah pun berdiri diatas lahan seluas 16.200 meter persegi (m2) dengan bangunan seluas 3.500 m2.

“Klenteng Hong San Kiong sendiri diperkirakan dibangun pada tahun 1700-an. Keberadaan bermula dari sebuah keluarga bermarga Tan yang melakukan pemujaan terhadap Kong Co Kong Tik Cun Ong. Sosok keluarga Tan memang memiliki peran cukup penting pada awal berdirinya klenteng ini,” kata perempuan yang juga memiliki nama Tionghoa, Lauw Ay Wan.

Hal utama yang terlihat di bangunan ini adalah dinding bangunan berwarna merah dan hitam bertuliskan kuning. Warna merah biasanya mendominasi setiap bangunan klenteng karena dipercaya melambangkan kegembiraan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Warna kuning (keemasan) adalah kemuliaan, kerajaan, kemakmuran dan kekayaan. Warna hitam melambangkan energi positif (yang).

Namun jika diamati secara seksama, arsitektur klenteng yang berada di Gudo ini berbeda dengan klenteng pada umumnya. Kebanyakan bentuk atap yang dipergunakan di Indonesia menggunakan jenis atap pelana dengan ujung yang melengkung keatas yang disebut sebagai model Ngang Shan dengan ukiran dewa-dewa.




“Kalau Klenteng Hong San Kiong merupakan perpaduan antara bangunan Joglo (rumah adat Jawa) dan arsitektur negeri tirai bambu. Atap klenteng ini berbentuk tajug, semacam atap piramidal yang mengacu pada bentuk gunung yang lekat dengan arsitektur rumah Joglo. Ini merupakan satu-satunya klenteng di Indonesia yang bentuknya seperti ini,” tutur Nanik Indrawati. 

Bangunan utama klenteng terbagi menjadi tiga ruangan yaitu depan, tengah dan belakang. Memasuki ruangan depan akan bersua Hiolo (tungku abu) besar untuk meletakkan dupa yang ditopang tiga kaki berbentuk kaki naga. Disebelah kanan dan kiri berdiri patung Men Shen (Dewa Pintu) dengan tinggi sekitar 2 meter serta patung singa dan gajah.

Di ruangan kedua dijumpai empat tiang penyangga besar berdiameter lebih kurang 50 sentimeter dengan gambar naga. Di dinding bagian dalam pada ruangan ini berjajar gambar-gambar yang mengisahkan “Zaman Tiga Negara” atau juga dikenal dengan nama Samkok yang tergambar dalam kotak-kotak keramik.

Selain itu tampak Genta (lonceng) dan Tambur. Dua alat tersebut berfungsi sebagai persiapan sebelum dimulainya sebuah perayaan sembahyang, atau di beberapa tempat diartikan untuk memberitahukan kepada para Shen Ming bahwa bakal ada sebuah peribadatan. Jumlah pukulan genta biasanya disesuaikan dengan waktu dimulainya upacara sembahyan.

Lebih menelusuri kedalam di ruang belakang terlihat beberapa altar untuk pemujaan bagi para dewa. Di tengah ruang ruang depan dijumpai altar bagi Kong Co Kong Tik Cun Ong. Di sebelah kirinya altar Kong Co Hong Tik Cun Sing atau Dewa Bumi. Sebelahnya Dewa Bumi, altar Kong Co Hyang Thian Sing Tee atau Dewa Langit. Sedangkan, di sisi kanan altar Kong Co Kong Tik Cun Ong ada pula altar Kwan Sing Tee Koen atau Dewa Kebenaran/Keadilan.

Beralih kesebelah kanan bangunan utama terdapat pula lebih kurang sepuluh kamar berjajar untuk patung para dewa yang dikhususkan. Menengok kearah kiri (belakang bangunan utama) maka terlihat dua ornamen khas berbentuk gentong dengan ukuran besar yang berfungsi sebagai tungku pembakaran Ming Zhi (kertas). Di tengah tungku pembakaran terdapat bangunan bertiang delapan yang disebut Pa Kua.

“Pa Kua digunakan sebagai simbol dasar Feng Shui yang telah dikenal peradaban timur sejak ribuan tahun yang lalu. Di era teknologi saat ini, banyak orang mulai mempelajari kembali bagaimana cara mendapatkan energi disekitar daerah rumah dan kantor dengan tujuan positif. Feng Shui dianggap sangat berkaitan dengan menciptakan keseimbangan, selain menetralisir energi negatif juga berfungsi untuk mengaktifkan aliran energi positif,” jelas Nanik Indrawati. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.