Reward and Punishment Motivasi Raih Prestasi


Pemberian hadiah oleh guru dapat bersifat positif dan juga negatif. Pemberian penghargaan atas suatu prestasi memang penting, hal ini akan membuat orang yang meraih prestasi itu merasa dihargai. Peserta didik akan merasa usahanya belajar dan terus belajar guna mendapatkan peringkat dikelas tidak sia-sia.

PERAK – Hadiah dan hukuman merupakan salah satu cara dalam mengajarkan anak tentang baik dan buruk. Perilaku yang baik patut mendapat hadiah sementara perilaku buruk patut mendapat hukuman. Namun dalam hal ini sebagai orang tua harus bijak dalam memberikannya, agar tujuan memberi hadiah dan hukuman dapat tercapai.

Berdasarkan penelitian Neuroscience yang dipublikasikan situs e-science news tahun 2008, anak-anak menangkap bahwa hadiah lebih baik daripada hukuman. Riset tersebut menunjukkan bahwa area otak yang terletak di luar korteks otak besar bereaksi sangat kuat terhadap input positif. Hadiah dianggap lebih memiliki efek positif terhadap perasaan anak.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kabupaten Jombang, Alim, M.Pd berpendapat, “Sejatinya manusia lebih suka dicatat amal baiknya dari pada amal buruknya. Namun saat ini banyak dari sekolah yang hanya mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh peserta didiknya. Padahal itu tidak baik, seharusnya yang dikedepankan adalah penghargaan bagi peserta didik juga.”

Reward atau hadiah, menurut Alim, merupakan pemberian baik berupa benda atau non-benda sebagai penghargaan atas keberhasilan seseorang dalam meraih target atau pencapaian tertentu. Hal ini adalah pencapaian seorang peserta didik terhadap prestasi tertentu.

Pemberian hadiah oleh guru dapat bersifat positif dan juga negatif. Pemberian penghargaan atas suatu prestasi memang penting, hal ini akan membuat orang yang meraih prestasi itu merasa dihargai. Peserta didik akan merasa usahanya belajar dan terus belajar guna mendapatkan peringkat dikelas tidak sia-sia.




“Peserta didik akan merasa diperhatikan dan diakui kemampuannya.Ini akan mendorong atau memotivasi anak yang bersangkutan dan teman-temannya untuk terus berprestasi agar mendapatkan hadiah reward. Merasa dihargai dan merasa diakui, serta akan terjadi persaingan positif, diantara para peserta didik menjadi terbaik dari yang terbaik,” jelas pria yang juga menjabat sebagai kepala SMP Negeri 1 Perak.

Namun disisi lain, pemberian hadiah akan menimbulkan sifat pamrih pada peserta didik. Setiap usaha selalu harus disertai dengan imbalan. Ketika guru memintanya melakukan sesuatu hal tanpa hadiah, peserta didik cenderung cuek dan malas-malasan. Hal ini tentu sangat tidak baik terhadap perkembangan pola pikir anak-anak.

“Soluasinya adalah dengan porsi yang pas. Guru tidak selalu harus memberikan hadiah berupa benda melainkan menggantinya dengan pujian, tepukan atau penghargaan lain. Sehingga peserta didik tidak akan berharap lebih terhadap hadiah yang diberikan. Pemberian hadiah juga bisa dilakukan setiap saat terhadap mereka, tidak selalu ketika bagi raport. Bahkan ketika peserta didik bisa menjawab pertanyaan di kelas guru bisa langsung memberinya hadiah dengan cara memberi tepuk tangan dan sebagainya,” papar pria asal Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang itu.

Pemberian hadiah juga tidak melulu diberikan kepada peserta didik yang berprestasi secara akademik, tambah Alim, bagi yang berprestasi secara sikap juga bisa diberi penghargaan. Seperti paling rajin piket, paling sopan dan perbuatan baik lainnya. Sehingga bagi sebagian peserta didik yang memang kurang secara akademik, bisa memperoleh penghargaan dengan cara berbeda.

Selain reward, memberikan hukuman atau punishment juga boleh dilakukan terhadap peserta didik yang melakukan kesalahan. Ini tidak lain agar membentuk sikap disiplin peserta didik dan mengetahui bahwa apa yang dilakukannya terebut tidak tepat. Namun dalam pemberian hukumannya pun juga harus yang sesuai dengan sistem pendidikan.

“Kalau menurut saya bukan hukuman, tetapi pembinaan dan kesadaran. Itu pun harus sesuai dan tidak mungkin seperti zaman saya dahulu seperti hukuman fisik. Di sini guru harus tahu bagaimana membina agar peserta didik sadar akan kesalahannya dan tidak melakukannya lagi. Pembinaan dan kesadaran ini semata-mata agar peserta didik menjadi lebih baik,” tutup Alim. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.