Si Cungkring yang Gagah Bertanding


Rafiansyah Dwi Fardani peserta didik SDN Mojokrapak II Tembelang menjadi atlet karate yang mewakili Jombang di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi membawanya sebagai Juara Harapan III Kategori Kumite (tanding).

TEMBELANG –
Kepindahan Rafiansyah Dwi Fardani ke SDN Mojokrapak II Tembelang justru memberikan keberuntungan tersendiri. Atlet karate yang mewakili Jombang di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi membawanya sebagai Juara Harapan III Kategori Kumite (tanding).

Kepala SDN Mojokrapak II Tembelang, Wulyadi, S.Pd. menjelaskan, “Ayahnya memberikan dukungan sepenuhnya kepada anaknya untuk bergelut di dunia seni bela diri ini. Oleh karena itu, sejak menimba pendidikan di SDN Mojokrapak II Tembelang secara berkelanjutan mendapatkan pelatihan yang serius.”

Menurut peserta didik yang saat ini duduk di bangku kelas tiga dibutuhkan usaha keras dalam mencapai prestasi di tingkat provinsi. Selain latihan yang tiada henti, pertandingan demi pertandingan harus di lalui dengan mengalahkan lawannya. Alhasil berbuah manis, di Kota Santri Rafi sapaan akrabnya selalu mengungguli atlet karet lainnya dengan menjadi Juara I pada tahun 2017 dan 2018.

Menariknya, melalui karate juga anak kedua dari dua bersaudara ini mengaku lebih displin. Baik sewaktu berlatih maupun belajar guna meningkatkan kemampuan akademisnya di sekolah.

“Sesekali di selingi olahraga lain seperti berenang. Selain mampu melatih fisik, tentunya sebagai sarana reksreasi,” terang Rafiansyah Dwi Fardani.

Rasa Sakit Serta Kepercayaan Diri

Sementara itu guru olahraga SDN Mojorapak II Tembelang, Muhammad Fadeli, S.Pd. mengatakan kelemahan peserta didiknya tatkala terkena tendangan lawan di bagian perut. Bahkan air mata pun tidak tertahan untuk menetes sangking sakitnya. Ibaratnya, tembus hingga ke tulang bagian belakang.

Walaupun demikian optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi untuk tetap menang, mendorong Rafiansyah Dwi Fardani tumbuh semangat juang tiada tertahan. Sekalipun dari postur tubuh lawan lebih unggul, semakin memacu untuk bisa mengalahkan.

Muhammad Fadeli mengakui, “Rafiansyah Dwi Fardani sempat mendapat perawatan medis usai terkena tendangan di perut. Bersyukur tidak sampai cidera dan terus melanjutkan pertanding. Walau perbedaan cukup menonjol secara fisik, tapi jenjang sekaligus kelas pertandingan sama maka harus dihadapi.”

Ayah Rafiansyah Dwi Fardani, Wulyadi pun berupaya keras meningkatkan berat tubuh putera kebanggannya tersebut. Setidaknya lebih berisi serta jangan sampai tampak kurus, namun kengganan menyantab sayuran pun menjadikan kendala tersendiri.

Lelaki berusia delapan tahun ini mengaku ingin terus melanjutkan karier sebagai atlet karate dengan lebih giat berlatih. Khususnya melatih Jurus Kata (kemantapan setiap gerak) karena menuntut keluwesan gerakan kaki dan tangan secara bersamaan. chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.