Diskusi dan Pemutaran Film Siti Potret Peliknya Perempuan


“Sebagai antisipasi bagi para kaum muda yang ada di Jombang, khususnya perempuan harus mulai membangun cara berpikirnya sejak dini. Jangan sampai termakan bujuk rayu seseorang dengan alasan apapun. Apabila mengalami perlakuan menyimpang, maka harus berani menyuarakan atau melaporkan kepada seseorang yang berwajib untuk menghentikan dan memberikan ganjaran setimpal pada pelaku.” -Novita Sari-

JOMBANG – Problematika yang menimpa kaum perempuan perihal strata sosial dan gender, kini sudah bukan lagi menjadi sebuah fenomena asing atau baru. Banyak kasuistik di lingkungan sekitar melibatkan perempuan sebagai kambing hitam maupun biang keladi setiap permasalahan.

Guna memberikan edukasi terhadap generasi muda yang tengah berada dalam fase pencarian jati diri, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Jombang menggelar sebuah acara Pemutaran dan Diskusi Film SITI di salah satu kafe. Walaupun terkenal dengan sebutan Kota Santri tetapi permasalahan serupa juga kerap terjadi.

Ketua PKBI Cabang Jombang, Igog Iman menjelaskan, “Acara ini bekerjasama dengan PKBI Jawa Timur, Duta Kesehatan Kabupaten Jombang, beserta Forum Anak Jombang (FAJ) sebagai peserta maupun panitia penyelenggara. Turut hadir pula seorang Psikolog, Nailatin Fauziyah; aktivis muda, Novita Sari dan filmmaker, Taufan Tohari sebagai narasumber diskusi.”

Dipilihnya film SITI karya Eddie Cohyono sebagai sajian maupun topik pembahasan tidak hanya berdasarkan segala capaian prestasinya semata, melainkan makna yang terkandung di dalamnya. Film berlatar di sekitar kawasan Pantai Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta ini mengisahkan tentang kerasnya kehidupan seorang perempuan bernama Siti.

Sesuai cerita, Siti merupakan sesosok ibu rumah tangga muda tulang punggung keluarga. Hal itu dikarenakan sebuah musibah menimpa sang suami yang kehilangan kapalnya untuk mencari nafkah sampai akhirnya mengakibatkan kondisinya semakin melemah, serta terus terbaring lemas di atas tempat tidur. Terlebih kapal tersebut dapat dibeli melalui uang pinjaman dan sudah jatuh tempo, sehingga harus segera dibayarkan.

Demi membayar hutang suami dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Siti yang telah memiliki seorang putera ini harus berpikir keras mengenai cara mendapatkan uang dengan jumlah cukup banyak. Akhirnya, kala fajar menyongsong Siti memilih berprofesi sebagai penjual peyek jingking (hewan laut yang hidup di pesisir pantai) dan ketika malam datang berubah menjadi seorang wanita pendamping sebuah tempat karaoke di daerah setempat.

Peliknya beban hidup Siti kian bertambah dengan ditutupnya tempat karaoke tersebut, sebab penghasilan semakin berkurang. Sampai pada suatu saat, seoarang anggota kepolisian bernama Gatot hadir di kehidupannya. Meskipun mulanya sempat terpikat dengan paras ketampanan dan segala kemudahan hidup yang ditawarkan, tetapi Siti tetap memilih setia merawat sang suami.

“Pelajaran berharga film ini adalah kesetiaan terhadap pasangan serta mencekamnya potret kemiskinan terhadap kondisi psikologis seseorang akibat minimnya taraf pendidikan. Hal itu tercermin dari fisik seorang Siti menggambarkan sosok perempuan muda yang memilih menikah di usia dini, sehingga kemungkinan besarnya pendidikan tidak didapat secara tuntas,” jelas Taufan Tohari selaku pembicara.

Potret SITI di Kota Santri

Sebagai anggota dari Women's Crisis Center (WCC) Jombang, Novita Sari memaparkan jika sosok Siti sebenarnya tidak hanya terjadi di film semata, tetapi di Kabupaten Jombang pun sama. Sejumlah kasus tindakan asusila yang mengakibatkan terjadinya paksaan pernikahan dini masih dapat dijumpai. Hal itu disebabkan karena pernikahan dini dianggap menjadi satu jalan keluar bagi sebagian orang tua guna mempertanggungjawabkan suatu perbuatan asusila yang melibatkan buah hatinya.

Sebenarnya, apabila dilihat melalui kacamata hukum tindakan asusila seharusnya dipertanggungjawabkan sesuai prosedurnya melalui pihak berwajib. Sebab setelah melakukan pernikahan dini, tidak ada jaminan bagi keduanya akan menjalani kehidupan dengan bahagia. Bahkan bisa sebaliknya, justru mampu menjerumuskan sang buah hati ke dalam jurang yang lebih dalam.

Hanya saja, latar belakang seseorang dalam melakukan tindakan tersebut tidak hanya berlandaskan dari terjalinnya hubungan spesial antara laki-laki dan perempuan saja. Terdapat sebagian perempuan yang beralasan bahwa himpitan ekonomi dan minimnya taraf pendidikan mampu memaksa seseorang untuk memilih menjadi sosok pemuas hawa nafsu laki-laki hidung belang.

Melalui riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jombang pada tahun lalu, menunjukkan bahwa persentase kemiskinan di Kota Santri masih terbilang cukup tinggi, yakni 10,48%. Turun 0,22% dari tahun 2016. Meskipun mengalami penurunan, tetapi angka sekian persen tersebut jika dinominalkan masih berkisar antara 131,16 ribu orang.

Novita Sari menjelaskan, “Oleh sebab itu sebagai bentuk antisipasi bagi para kaum muda yang ada di Jombang khususnya perempuan, harus mulai membangun cara berpikirnya sejak dini. Jangan sampai termakan bujuk rayu seseorang dengan alasan apapun, begitupun mengenai ajakan pernikahan dini. Demikian juga saat mengalami perlakuan menyimpang, maka harus berani menyuarakan atau melaporkan kepada seseorang yang berwajib untuk menghentikan dan memberikan ganjaran setimpal pada pelaku.”

Selain hal pokok mengenai himpitan ekonomi yang disebabkan oleh rendahnya taraf pendidikan, tokoh Siti juga mengajarkan kepada seluruh penikmat film di Indonesia khususnya generasi muda Jombang supaya tetap setia terhadap pasangan hidupnya kelak. Bagaimanapun keadaan pasangan hidup saat itu harus tetap mendapatkan dukungan sang istri guna memberikan semangat supaya kembali bangkit dari keterpurukan yang tengah dialami.

“Seperti kata pepatah bahwa di balik laki-laki sukses terdapat perempuan hebat di belakangnya,” imbuh pengisi acara lainnya Nailatin Fauziyah. fakhruddin

No comments

Powered by Blogger.