Gugah Jiwa Budaya Lokal Generasi Muda


Pentingnya memberikan pengenalan seni dan budaya sejak dini. Mereka juga wajib punya bekal soal seni dan budaya lokal, dengan begitu kepribadian dan karakter kita sebagai bangsa Indonesia akan tumbuh. - Sulastri Widianto -

JOMBANG – Perkembangan zaman yang pesat membuat arus informasi dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat, mulai dari informasi sensasional sampai hal positif maupun negatif. Adanya hal itu banyak fenomena-fenomena yang ditimbulkan, salah satunya adalah demam Drama Korea dan K-pop yang sedang melanda kalangan muda. Banyaknya cerita dihadirkan pada khalayak yang disuguhkan dengan cerita cinta bak negeri dongeng yang mampu membuat anak muda tertarik menggemarinya.

Padahal membicarakan kebudayaan Indonesia tidak kalah menariknya dari kebudayaan negara lain dengan keberagaman penduduknya. Negara yang memiliki 17.504 pulau ini juga mempunyai tarian tradisional dan alat musik serta pakaian adat yang tidak kalah bagusnya.

Menanggapi fenomena-fenomena tersebut, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengkel Musik Indie (BMI) Universitas Darul 'Ulum (Undar) Jombang, menggelar Konser Budaya dengan tema ‘Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa’. Berbagai kesenian lokal, turut ditampilkan dalam acara yang digelar di Auditorium Undar Jombang (10/11).

Ketua Panitia Pelaksana, Mita (19) mengemukakan, “Acara ini menampilkan kesenian asli Jombang yaitu Jaran Dor, Wayang Topeng Jatiduwur serta grup musik lokal seperti Besuts, Central Of Peace (C.O.P) dan Komunitas Musisi Jombang. Kita sengaja mengkolaborasikan dua hal tersebut agara mereka tidak hanya mengenal musik modern saja. Tetapi juga mengingatkan kembali bahwa ada kesenian dan kebudayaan yang dimiliki Jombang.”

Mita menyampaikan bahwa dihadirkannya kesenian lokal Jombang ini merupakan hasil dari penelitian para anggota BMI Undar ke sejumlah penggiat budaya selama satu bulan lebih. Sebelum acara ini digelar, diadakan penggalian data akan kearifan lokal yang dimiliki oleh Jombang. Setelah itu hasilnya di suguhkan pada acara ini.

Sementara itu, keturunan ke-5 pewaris Wayang Topeng Jatiduwur, Sulastri Widianto mengatakan, “Alhamdulillah anak-anak masih mau memperhatikan kesenian tradisional ini. Penting untuk memberikan pengenalan seni dan budaya sejak dini. Sebab mereka juga wajib punya bekal soal seni dan budaya lokal. Dengan begitu, kepribadian dan karakter kita sebagai bangsa Indonesia akan tumbuh. Ini lagi yang harus saya tekankan kepada generasi muda dan anak-anak di tengah situasi globalisasi. Kita tidak boleh meninggalkan dan melupakan kearifan lokal budaya dan seni.”

Wayang Topeng Jatiduwur tambah Sulastri Widianto, juga berhasil mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) sebagai salah satu Warisan Budaya Tak benda Indonesia 2018. Prestasi ini didapat karena tarian ini berhasil menempati urutan ke 52 dari 224 peserta penerima penghargaan dengan klasifikasi enam kategori.

Di konfirmasi di tempat berbeda, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jombang, Suparno, S.H. menuturkan, “Pengusulan terkait Warisan Budaya Tak Benda harus memenuhi beberapa indikator yang telah ditentukan. Di antaranya adalah seni pertunjukan sudah tergolong hampir punah tetapi masih memiliki maestro (penerus). Berikutnya, kesenian pernah dijadikan satu objek penelitian dan kajian ilmiah dalam bentuk skripsi maupun dokumentasi administrasi pembelajaran budaya. Kemudian dibuktikan melalui eksistensinya yang mencapai minimal limapuluh tahun.”

Kesenian yang hadir sejak abad ke 19 ini memiliki satu tradisi khusus pada saat tanggal Satu Suro (1 Muharram dalam kalender hijriyah), yakni adanya upacara pembersihan semua topeng secara turun temurun. Prosesi ini pun yang masuk dalam penilaian, juri dapat menentukan keunikan serta perbedaan kesenian satu daerah tertentu dengan lainnya. Data hasil penilaian tersebut nantinya akan menjadi penentu dalam sidang penentuan keputusan kelayakan calon penerima sertifikat.

“Penghargaan membanggakan ini membuktikan jika Kota Santri bukan hanya terkenal akan banyak pesantren saja, tetapi juga keberagaman budaya dan keseniannya juga. Oleh sebab itu generasi penerus harus saling berkomitmen meningkatkan kesadaran dalam melestarikan segala bentuk keberagaman potensi di Jombang,” ujar laki-laki kelahiran Blitar tersebut.

Selain itu, tambah Suparno kesenian Jaran Dor juga merupakan kesenian tradisional Kuda Lumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik jidor yang saat ditabuh berbunyi dor, sehingga jaranan ini di sebut Jaran Dor. Adapun alat musik selain jidor adalah kendang dan sepasang kimplung yang terdiri dari tiga biji dengan ukuran berbeda. Satu yang berukuran besar di sebut thong dan yang kecil disebut ketipung. Sekarang, alat musik Jaran Dor di tambah gong peking saron ketuk kenong atau biasa disebut dengan gamelan.

Jaran dor ditampilkan dengan beberapa tari pengiring, yang sekarang ditambah dengan tari bantengan. Urutan penampilannya adalah tari bapangan, tari jaranan khas Jombang, tari topeng atau tari humor, tari jepaplok dan ditutup dengan tari bantengan.

Bahkan menurut pengamatan Bambang Nurwijanto, masih banyak potensi lain yang sangat mumpuni untuk dikembangkan. Berbekal sinergi antara masyarakat dengan Disbudpar dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) kreatif nantinya di tahun 2019 mampu mengajukan kearifan lokal berikutnya. aditya eko / chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.