Menghidupkan Budaya Literasi di Kota Santri


Mengawali kecintaan terhadap budaya literasi tidak perlu dimulai dengan topik bahasan yang bersifat memberatkan. Cukup dimulai dari hal sederhana yang ada di sekitar ataupun rutinitas kebiasaan di kehidupan sehari-hari.

WONOSALAM – Menurunnya budaya berliterasi di kalangan generasi muda sudah bukan rahasia umum yang dirasakan di seluruh daerah di Indonesia termasuk juga di Jombang. Hal itu terjadi sebab sebagian besar di antaranya beralasan bahwa membaca ataupun menulis merupakan kegiatan membosankan dan lebih tertarik mengisi waktu luangnya dengan bermain telepon pintar, walaupun hanya sekedar memainkan permainan daring ataupun membuka media sosial.

Sebagai upaya mengembalikan minat literasi yang perlahan semakin terkikis tersebut, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan beberapa sastrawan setempat guna mengadakan sebuah kegiatan bertajuk Pelatihan Literasi Bagi Komunitas di sejumlah kota atau kabupaten, seperti Tuban, Malang, Gresik beserta Kota Santri ini.

Salah satu pembicara sekaligus perwakilan Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, Sutaji, M.Hum., M.Pd. membuka acara, “Sebenarnya geliat literasi di Jombang termasuk dalam kategori cukup baik daripada daerah lain, karena dapat dilihat melalui banyaknya komunitas atauapun pegiat sastra yang lahir di kota ini. Diantaranya yakni Imam Ghozali, Cucuk Espe, Andi ‘Kepik’ Setyo Wibowo, Anton Wahyudi beserta tokoh-tokoh lainnya. Hanya saja yang perlu dibangkitkan kembali semangatnya untuk berkarya adalah para penerus berikutnya, yaitu peserta didik.”

Dilihat dari kompetensi peserta didik, tambah Sutaji, semua memiliki kemampuan menulis. Hanya saja kendala sekaligus penghambat utama dalam memulai pergerakan menghasilkan suatu karya disebabkan oleh rendahnya kemauan ataupun minat masing-masing individu beserta adanya perasaan bingung untuk menentukan topik bahasan yang hendak dituangkan menjadi sebuah karya tulis.

Mengawali kecintaan terhadap budaya literasi, sebenarnya tidak perlu dimulai dengan topik bahasan yang bersifat memberatkan. Cukup dimulai dari hal sederhana yang ada di sekitar ataupun rutinitas kebiasaan di kehidupan sehari-hari.

“Walaupun terlihat sangat sederhana, tetapi secara tidak sadar terlaksananya segala proses itu menuntut peserta didik untuk melakukan analisa dan seleksi mengenai segala sesuatu yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Selain itu, peserta didik akan menghijrahkan pikirannya dengan lebih sistematis sesuai kebutuhan setiap karyanya,” papar Peneliti Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sekaligus pemateri, Drs. Amir Mahmud, M.Pd.

Poin berikutnya sebagai penentu adalah tingkat kedisiplinan dan rasa percaya diri terhadap suatu karya perlu ditanamkan di benak seluruh peserta didik. Semakin disiplin seseorang berlatih, maka otomatis kemampuannya dalam menulis juga turut terasah.

Begitu pun perihal percaya diri, sebagai peserta didik jangan pernah ragu maupun takut untuk mengikutsertakan karyanya di ajang ataupun media tertentu. Proses tersebut akan melatih mental beserta kemampuan peserta didik dalam melahirkan sebuah karya.

Ketika mengikuti suatu ajang perlombaan apapun, perlu ditanamkan di seluruh benak peserta didik untuk selalu bangga menjadi seorang peserta. Jangan selalu membanggakan diri ketika menjadi juara, sebab hal itu mampu mamatikan semangat seseorang dalam melahirkan sebuah karya.

“Jika dicermati dengan baik, keikutsertaan di sebuah ajang tertentu mampu mencatat nama seseorang sebagai jembatan di kesempatan berikutnya. Walaupun saat itu tidak mampu menjadi juara, tetapi sang juri dipastikan telah membaca karya kita. Terlebih bagi seorang penilis dari daerah, tentunya kelak akan mendapatkan apresiasi tersendiri,” imbuh Sutaji.

Pemanfaatan Teknologi

Di era serba teknologi ini jangan ragu mengikutsertakan atau mengirimkan karya tulis di sebuah perlombaan ataupun media. Pengalaman yang didapat tentu mampu mengasah kemampuan pribadi di bidang jurnalistik. Ketika belum berhasil memenangkan perlombaan atau dipublikasikan di media yang dituju, peserta didik dituntut terus mencoba dan mengevaluasi setiap karyanya. Sampai akhirnya nanti mampu menembus salah satu tujuannya tersebut.


Laki-laki yang tengah menempuh pendidikan S3 di salah satu universitas di Surabaya tersebut mengatakan, “Ditambah lagi, melalui pemanfaatan internet peserta didik tidak perlu mengeluarkan biaya apapun. Tidak ada lagi alasan sulit bagi seseorang yang berkeinginan menggapai mimpinya di bidang jurnalistik. Cukup niat untuk berkembang dan tidak mudah putus asa.”

Selain gratis, akses persebaran informasi di dunia maya kini sudah semakin cepat dan mudah. Guna memperoleh informasi tambahan pun seseorang tidak lagi harus bersusah payah menuju ke Warung Internet (Warnet) seperti dulu. Berbekal telepon pintar di genggaman, informasi sudah bisa segera didapat.

Begitu juga dalam hal teknis penulisan, berbagai pabrikan telepon pintar telah menyediakan aplikasi-aplikasi pengolah kata yang mempermudah seseorang untuk langsung menuangkan karyanya. Sehingga keberadaan komputer ataupun perangkat lainnya digunakan sebagai pendukung penyempurna format tulisan agar lebih sistematik dan tertata.

Melalui segala kemudahan itu, seseorang sudah tidak lagi bergantung pada perangkat tertentu. Sudah banyak alternatif yang dapat ditempuh seseorang guna melahirkan sebuah karya terbarunya secara cepat.

Berlandaskan pada segala potensi yang ditawarkan beserta minimnya minat terhadap literasi di kalangan peserta didik, seorang guru pendamping asal SMA Negeri Mojoagung, Anik Noerachini akhirnya memilih mendaftarkan empat peserta didiknya guna mengikuti kegiatan pelatihan di Padepokan Wonosalam Lestari (PWL) ini pada (21-23/11). Anik berharap, peserta didiknya mampu mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan setelah mengikuti kegiatan dapat melakukan pengimbasan kepada teman lainnya. Supaya giat literasi di sekolah semakin meningkat. fakhruddin

No comments

Powered by Blogger.