74 Tahun Indonesia Merdeka Perang Melawan Ideologi Radikal


Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Jombang, Zulfikar Damam Ikhwanto menegaskan bahwa ada kelompok tertentu yang memupuk radikalisme di Indonesia. Tujuannya tidak lain ialah untuk kepentingan politik dan kepentingan ekonomi semata.

JOMBANG – Penyebaran paham radikal sekarang ini sudah sangat gawat dan tidak ada sekat. Terlebih di zaman global seperti saat ini segala macam informasi sangat terbuka lebar, penyebaran paham radikal terorime sudah mulai sistemik dan sangat mengkhawatirkan. Doktrin ideologi radikal bisa menyerang siapa saja, tidak peduli itu anak muda atau tua, kaum intelektual pun bisa saja terpengaruh paham radikal terorisme.

Dampak dari pemahaman yang salah tentang ideologi agama, telah menyebabkan peristiwa kericuhan di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti halnya yang teori ilmuan politik, Samual P. Hungtinton yang menyebutka bahwa radikalisme merupakan bagian dari skema benturan peradaban atau clash of civilization. Bahkan dirinya memprediksi akan meningkatnya radikalisme dan terorisme di dunia yang perlu diwaspadai.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Jombang, Zulfikar Damam Ikhwanto menegaskan bahwa ada kelompok tertentu yang memupuk radikalisme di Indonesia. Tujuannya tidak lain ialah untuk kepentingan politik dan kepentingan ekonomi semata.

Baca Juga : 
SSB SKB Gudo Mandiri dalam Mencetak Prestasi

“Sampai kapan pun pemuda harus peduli dengan masalah ini. Sebab dalam setiap periode sejarah peradaban, selalu ada kelompok yang menunggangi sentimen agama, suku dan ras, untuk memprovokasi massa agar bertindak anarki dan melakukan pemberontakan sehingga terjadi ketidak stabilan dalam kehidupan berbangsa,”

Agama tidak diajarkan sebagai nilai perdamaian, lanjutnya, tetapi dijadikan alat untuk menggelorakan kebencian dan amarah terhadap pemerintah atau pihak-pihak lain yang bersebrangan. Paling parah, ada kelompok tertentu yang menjadikan orang tidak alim atau tidak memiliki kapasitas sebagai pemuka agama namun dijadikan kiblat untuk belajar agama.

“Ini eranya, spiritualisme menjadi barang mewah. Masyarakat sedang gandrung dengan isu keagamaan, bagaimana masyarakat di brainwash oleh orang yang tak berilmu, namun jago retorika, bahkan ada kelompok yang meyakini hoaks dan fitnah sebagai hal yang halal, bahkan wajib, karena dianggap bagian dari siyasah (politik Islam),” ujar Zulfikar Damam Ikhwanto.




Lelaki berpadan tambun ini pun mengajak kepada para generasi muda untuk menjaga ideologi negara agar tidak pupus oleh masifnya radikalisme. Menurut dia, usaha itu bukan untuk generasi muda saat ini tetapi untuk anak cucu generasi sekarang dan puluhan tahun mendatang.

Zulfikar Damam Ikhwanto menmbahkan yang harus diwaspadai, brainwash dan doktrin radikalisme ini banyak yang ditanamkan ke para pelajar, bahkan ke anak-anak usia dini di TK atau pra-sekolah tertentu. Jika kelompok ini dibiarkan, generasi mendatang di negeri ini, bisa didominasi oleh kelompok radikal. Kalau sudah begitu, mudah menyulut emosi mereka untuk melakukan anarkisme hingga tindakan terorisme.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, KH. Cholil Dahlan, menjelaskan bahwa salah satu persoalan yang dialami bangsa Indonesia belakangan ini adalah terkait radikalisme agama yang bentuk gerakannya ingin menjadikan Islam sebagai agama sekaligus negara. Gerakan ini dianggap radikal karena cenderung menggunakan kekerasan yang berbasis agama.

“Islamisme, perjuangan kekuasaan politik untuk memperjuangkan suatu tantangan yang berbeda dengan apa yang ada dan telah disepakati oleh negara Indonesia yang berlandaskan pascasila, mungkin ini adalah sebuah persoalan yang sangat serius. Ini menjadi tantangan bagi kita karena kelompok islamisme ini kemudian masuk ke lini pendidikan di semua jenjang,” ungkapnya.

Fenomena yang terjadi di sekolah saat ini adalah menyebarnya eksklusivisme yang cenderung intoleran atas pandangan atau paham yang berbeda. Pada proses penyebarannya biasanya melalui kurikulum, ekstrakulikuler, dan kegiatan lain.

Untuk mengatasi hal tersebut, KH. Cholil Dahlan menekankan untuk mencegah lahirnya radikalisme yang dapat dilakukan dengan cara merombak total cara pandang agama Islam, cara mengajarkan pelajaran agama kepada para peserta didik, dalam hal ini peran guru sebagai pendidik menduduki posisi kunci. Sebab di tangan para pendidiklah, anak didik dapat dibentuk cara pandangannya terhadap agama dengann kacamata Rahmatan lil alamin.

“Dalam membibit nilai-nilai agama yang inklusif di kelas, maka proses pendidikan agama harus moderat, agama itu cinta kasih. Ajarkan bahwa Islam itu adalah agama kasih sayang Allah SWT sebagai Rahmatan lil alamin,” kata laki-laki yang juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Darul 'Ulum Jombang itu. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.