Moh. Zaki Ubaidillah mencium trofi gelar Thailand Masters. (Dok. PBSI)

Indonesia membawa pulang empat gelar dalam turnamen Princess Sirivannari Thailand Masters 2026 yang berakhir Minggu (1/2/2026). Hasil ini mengukuhkan Indonesia sebagai juara umum, mengungguli India yang berhasil mengunci gelar di tunggal putri setelah menghempaskan wakil Malaysia pada partai final.


Turnamen berlevel BWF World Tour Super 300 ini memperebutkan uang tunai sebesar USD 250.000. Indonesia mengukuhkan empat gelar, dua di antaranya tercipta melalui partai All Indonesian Final.


Dua partai All Indonesian Final terjadi pada nomor ganda putra dan ganda campuran. Di sektor ganda putra, pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana berhasil meredam perlawanan junior mereka, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dengan skor 21-10 21-17. Hasil ini juga menjadi momen kebangkitan Leo-Gas setelah dahaga gelar sepanjang 2025.


Leo Rolly/Bagas Maulana menunjukkan trofi gelar ganda putra. (Dok. Djarum Badminton)

Sementara itu, di nomor ganda campuran, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil sukses merebut gelar pertama mereka di ajang BWF World Tour setelah bersua rekan senegara, Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti, melalui pertandingan ketat tiga gim dengan skor 18-21 21-19 21-17.


Pertandingan tiga gim juga tersaji pada pada partai final ganda putri. Pasangan anyar, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi berhasil mempersembahkan gelar ketiga bagi Merah Putih setelah membalaskan dendam rekan senegaranya, kemarin, dari pasangan Tiongkok, Bao Lijing dan Li Yijing 15-21, 21-15, 18-21. Gelar ini juga menjadi titel perdana mereka sebagai pasangan baru.


Satu gelar lainnya dipersembahkan oleh tunggal putra muda Indonesia, Mohammad Zaki Ubaidillah. Ia sukses menaklukkan wakil tuan rumah, Panitchapon Teeraratsakul, lewat laga tiga gim dengan skor 19-21, 22-20, 21-19.


Prestasi ini menjadi catatan istimewa bagi Ubaidillah yang akrab disapa Ubed. Ia tercatat sebagai kampiun termuda tunggal putra dengan usia 18 tahun 220 hari di ajang BWF World Tour sekaligus meraih gelar pertamanya di level turnamen senior BWF.


Keberhasilan meraih empat gelar ini menjadi semacam penanda renaissance bulutangkis Indonesia setelah dalam beberapa tahun terakhir sempat mengalami penurunan prestasi di sejumlah turnamen internasional. Capaian tersebut juga menunjukkan kebangkitan sektor tunggal putra Indonesia.


Sebelumnya, Alwi Farhan sukses merebut gelar juara pertamanya pada ajang BWF World Tour Super 500 Indonesia Masters 2026. Menariknya, pada turnamen Thailand Masters 2026 ini, Alwi Farhan harus mengakui keunggulan Mohammad Zaki Ubaidillah di babak semifinal dalam dua gim langsung.


Sebaliknya, pada SEA Games 2025 Thailand, Alwi Farhan justru berhasil mengalahkan Ubed dalam perebutan medali emas. Persaingan kedua pemain muda tersebut menjadi gambaran positif regenerasi tunggal putra Indonesia yang semakin kompetitif di level internasional.


Torehan gelar di sektor ganda putri dan ganda campuran juga menunjukkan kecermatan bongkar pasang pemain di nomor ganda. Siti Fadia Silva Ramadhanti sukses mempertahankan gelarnya di Thailand Masters 2026. Tahun lalu ia meraih titel bersama Lanny Tria Mayasari. Kini, bersama pasangan barunya, Amallia Cahaya Pratiwi, Fadia kembali mengangkat trofi ganda putri.


Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti tersenyum lebar dengan gelar ganda putri. (Dok. Djarum Badminton)


Sementara itu, Indah Cahya Sari Jamil akhirnya mempersembahkan gelar BWF World Tour pertamanya kepada Merah Putih. Spesialis ganda campuran itu berulang kali berganti pasangan. Untungnya, bersama Adnan Maulana ia menemukan kecocokan permainan dan tampil solid sepanjang turnamen.


Berbeda dengan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang akhirnya mengakhiri penantian panjang gelar juara setelah 518 hari. Terakhir kali mereka menjadi kampiun adalah pada Korea Masters 2024. Luapan emosi terlihat jelas saat Leo membanting raket usai memastikan gelar Thailand Masters 2026, menandai kembalinya mereka ke podium tertinggi.


Empat gelar ini menjadi angin segar bagi kebangkitan bulutangkis Indonesia menjelang turnamen besar tahun ini, mulai dari Badminton Asia Team Championship, Thomas dan Uber Cup, hingga Kejuaraan Dunia Bulutangkis (BWC, red.). Bahkan, dalam BWC, wakil Indonesia sudah lama tak berada di podium teratas.


Keberhasilan menjadi juara umum di Thailand Masters 2026 pun memunculkan pertanyaan, apakah hasil ini benar-benar menjadi tanda renaissance bulutangkis Indonesia atau justru hanya keberuntungan lantaran absennya pemain papan atas dunia? Jawabannya akan teruji pada turnamen level lebih tinggi seperti All England, yang akan menjadi barometer sesungguhnya kekuatan Merah Putih. (*) Dimas Bagus Aditya

أحدث أقدم