JOMBANG – Panggung megah berwarna dominan terang berdiri di pelataran SDN Jombang 2. Sejak Senin (13/4) hingga Kamis (16/4), sekolah yang berada persis di sebelah barat Ringin Contong itu menggelar kegiatan yang melibatkan 234 peserta didiknya. Selama tiga hari berturut-turut, SDN Jombang 2 menyelenggarakan kokurikuler bertema Generasi Berbudaya (Genbu): Menanamkan Kecintaan dan Melestarikan Warisan Budaya Nusantara.


Siswa SDN Jombang 2 tampak antuasis melihat pementasan wayang di Disdikbud Jombang. (ist.)


Ketua pelaksana, Wulan Sari Indayani, S.Pd., menuturkan kegiatan itu disusun secara terjadwal. Pada pekan pertama, siswa difokuskan pada literasi. Mereka diwajibkan membaca berbagai referensi mengenai ragam budaya di Indonesia.


“Anak-anak juga sempat mengunjungi Pameran Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, sekira dua minggu lalu,” kata Wulan Sari Indayani, Kamis (16/4/2026).


Stan pameran siswa. (ist.)

Pada pekan kedua, siswa membuat kerajinan tangan. Hasil karya itu kemudian dipamerkan di stan pameran pada puncak kegiatan kokurikuler, Kamis (16/4). Selain itu, kata Wulan Sari Indayani, siswa juga dibagi berdasarkan fase pembelajaran. Pada fase A, siswa menyusun kliping tentang budaya Indonesia. Adapun pada fase B, membuat mind mapping, memetakan ragam budaya ke dalam bagan-bagan sederhana. Sementara fase C, mempraktikkan membuat buku pop-up tentang keragaman budaya melalui langkah lipatan kertasnya menceritakan kekayaan tradisi Indonesia.


“Selanjutnya, siswa membuat kerajinan hiasan kepala sesuai tema budaya di masing-masing kelas. Lalu pada pekan ketiga, pekan ini, anak-anak mendapat edukasi pewayangan dan tari tradisional hingga puncak acara hari ini,” tandas Wulan Sari Indayani.


Beberapa hari sebelumnya, SDN Jombang 2 juga menggelar Workshop Edukasi Tokoh Pewayangan. Kegiatan itu menghadirkan Anom Sekti Aji, dalang sekaligus guru SMAN 2 Jombang, sebagai narasumber. Dalam kegiatan itu, siswa dikenalkan pada tokoh-tokoh pewayangan, alur cerita, serta unsur-unsur dalam pagelaran wayang. Mereka juga diajak memperagakan pementasan sederhana, sekaligus mengenal bahan dan proses pembuatan wayang.


“Sebelum pementasan, anak-anak diajak mendalami pewayangan. Istilahnya sebagai pancingan atau intermezzo,” kata penanggung jawab pewayangan, Nunung Mayta, S.Pd.


Anom Sekti Aji, S.Sn., saat memberikan workshop pewayangan kepada siswa di SDN Jombang 2. (ist.)


Selanjutnya, siswa mempraktikkan langsung materi yang telah dipelajari. Seluruh siswa turut berpartisipasi dalam pementasan tersebut, bahkan bergantian memerankan dalang. Kepala SDN Jombang 2, Choirul Tukayaroh, S.Pd., menegaskan, melalui kegiatan kokurikuler ini siswa diharapkan mampu melestarikan budaya leluhurnya, khususnya wayang dan tari tradisional.


Seorang siswa tampak bersemangat mempraktikkan wayang. (ist)

Choir, sapaan akrabnya, menuturkan minat terhadap pewayangan dan tari tradisional selama ini masih terbatas. Keduanya lebih banyak diminati generasi tua, sementara kalangan muda cenderung kurang tertarik.


“Selama ini generasi alpha lebih menyukai permainan berbasis digital. Untuk mengurangi kecanduan game online, salah satu caranya dengan mengenalkan pementasan wayang dan pelatihan tari tradisional,” pungkas Choirul Tukayaroh.(*) Dimas Bagus Aditya

أحدث أقدم