Angin sepoi-sepoi, secangkir kopi hangat, dan pemandangan matahari terbenam di tengah hamparan sawah menambah kesyahduan suasana senja di Bendung Gude, salah satu situs bersejarah peninggalan Belanda di Jombang.
Bendung Gude atau yang dikenal masyarakat sebagai Rolak 70 merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang dahulu digunakan sebagai pengatur aliran irigasi pertanian di wilayah Jombang.
Spot wisata hidden gem di Jombang ini menarik para penikmat senja yang ingin melepas penat setelah melakukan aktivitas dari pagi hingga menjelang sore.
Sebagaimana yang dituturkan ibu Siti, salah seorang penjual minuman kepada Majalah Suara Pendidikan.
“Pengunjung biasanya datang sekitar jam 3 sore, dan pulang selepas terdengar azan maghrib,” ujar Siti saat diwawancarai, Senin (18/5/2026).
Diakui Siti bahwa akhir pekan merupakan hari yang paling ramai dikunjungi para pengunjung diantara hari-hari lainnya. Bahkan banyak penjual yang sering kerepotan dikala melayani pesanan para pelanggan.
“Kalo Sabtu-Minggu, pedagang sampai-sampai kerepotan, dan sering kehabisan karena saking banyaknya orang,” imbuhnnya.
Pengunjung yang datang didominasi oleh kaum muda, baik anak sekolah ataupun mahasiswa. Tidak sedikit diantara mereka yang datang secara bergerombol, biasanya terdiri dari 5-10 orang.
Seperti Gilang, seorang mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari, ia datang bersama lima orang temannya yang juga ingin menikmati senja, selepas kegiatan belajar-mengajar di kampus.
Aktivitas menikmati senja tersebut biasa mereka sebut dengan istilah ‘nyore’.
“Setelah capek dengan tugas kuliah, paling enak ya ‘nyore’,” ungkap Gilang sambil tertawa.
Hamparan sawah hijau, suara air yang mengalir, serta cahaya jingga matahari yang perlahan tenggelam menciptakan suasana tenang yang sulit ditemukan di tengah perkotaan.
Selain menyuguhkan pemandangan yang indah, tempat ini juga terbilang cukup jauh dari jalan raya, sehingga mengurangi kebisingan yang disebabkan oleh mesin kendaraan bermotor.
Berbeda dengan coffee shop yang biasanya berlokasi di pinggir jalan, nuansa tenang, sejuk, dan damai yang dihadirkan oleh gemiricik aliran sungai menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini. Hal ini juga diakui oleh Gilang, dan teman-temannya.
“Kalo disini itu, tempatnya adem karena tidak ada suara motor atau mobil yang sering merusak suasana, bahkan mengganggu keasyikan obrolan,” pungkas mahasiswa asal Garut ini. (*) Naufal Afif