Menjaring Bakat, Merajut Interaksi Sosial


Olimpiade IPS SMP 2018, terdaftar 233 peserta didik dengan terbagi atas enam kelas. Terdiri dari 50 peserta didik yang berasal dari SMP Swasta. Sajian sebanyak 100 soal dengan terbagi 25 butir pada setiap mata pelajaran seperti Ekonomi, Sejarah, Georgrafi, Sosiologi.

JOMBANG, MSP – Bertujuan menambah ketertarikan peserta didik akan mata pelajaran IPS, kompetisi ini hadir dan memberikan kontribusi agar menjadi motivasi memilih IPS. Olimpiade IPS SMP 2018 berlangsung pada Rabu (7/2) lalu, bertempat di SMP Sawunggaling, Pandanwangi Jombang.

Pada tahun ke lima kali ini, terdaftar 233 peserta didik dengan terbagi atas enam kelas. Terdiri dari 50 peserta didik yang berasal dari SMP Swasta. Sajian sebanyak 100 soal dengan terbagi 25 butir pada setiap mata pelajaran seperti Ekonomi, Sejarah, Georgrafi, Sosiologi. Kontribusi pendaftaran lima belas ribu rupiah memperoleh sertifikat tertanda Kepala Dinas Pendidikan Jombang.

Ketua FK MGMP IPS Jombang, Ahmad Taufik, M.Pd. mengungkapkan, “Keseluruhan hasil hanya dari peserta didik, seorang guru sebagai fasilitator. Walaupun peserta didik berbakat dan pintar namun tidak dikembangkan seorang guru akan terasa sulit dan tidak mampu meraihnya. Karena guru merupakan tupoksi yang sangat mempengaruhi dengan tidak berdasar lingkungan tempat tinggal.”

Guru IPS, SMP Negeri 2 Jogoroto ini juga menambahkan, ajang olimpiade bentuk partisipasi dan mempersiapkan dalam berkontribusi nyata generasi baru peserta didik untuk mengikuti kompetisi. Kejuaran di ambil 1,2,3 hingga harapan III dengan piagam penghargaan tertanda Kepala Dinas Pendidikan, sehingga ajang ini berpotensi pada penilaian berjenjang.

Ilmu sosial diberikan, sehingga diharapkan mampu merangkul pengalaman sosial peserta didik untuk proses kehidupan. Bagaimana peserta didik menyukai dan tidak lagi menomor duakan IPS. Jika IPA mencetak generasi pekerja, IPS mencetak generasi pemimpin karena di pemerintahan ialah mereka yang berhasil praktik kehidupan sosial melalui demokrasi.

Sangat disayangkan mata pelajaran IPS bukan referensi minat unggulan di sekolah, peserta didik kelas VII E SMP Negeri 1 Jombang, Jason Miracle Gunawan mengilustrasikan dalam ekonomi, dalam kehidupan sehari-hari yang pasti akan berdampak pada kehidupannya nanti untuk profesinya jika menjadi pemilik usaha. Apa saja keperluan dalam pengeluaran dan juga kebutuhan serta memahami penghitungan laba. Kemudian jika pemahaman geografi, ketika menginginkan berlibur ke luar negeri, perlu memahami dari cuaca pada bulan tertentu agar dipersiapkan.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menjelaskan, “Soal ekonomi yang agak berbelit membuat saya merasa sulit dalam menjawab dengan model soal cerita, dan dominan soal sejarah merupakan materi kelas IX yang sebagian belum dipelajari.”

Berbeda dengan peserta didik kelas VII D, Vanny Putri Fadhillah berpendapat, mata pelajaran Geografi dirasa sukar saat menghitung peta kontur. Serta jarak kota kemudian ditentukan dengan bertemunya objek di titik persimpangan yang sama dan menghitung pula episentrum gempa bumi.

Persiapan yang optimal dilakukan kedua perwakilan peserta didik asal SMP Negeri 1 Jombang, hampir setiap hari belajar serta berlatih selama 2 jam. Terkadang terasa berat karena harus melawan rasa mengantuk dan pulang setiap hari maksimal pukul 17.00 WIB, setelah itu istirahat sebentar serta harus belajar lagi. Penuh dalam satu minggu persiapan sangat intensif mengulas dua buku yaitu kumpulan soal olimpiade dan kumpulan soal menjelang ujian sekolah.

Bagi seorang Jashon, hobi menulis ini menggerakkan untuk memilih bidang IPS sebagai materi yang dipelajari lebih mendalam. Mekipun banyak menghafal tetapi membuat dirinya sangat nyaman untuk memahami setiap materi. Sedangkan Vanny menyukai membaca kemudian membuat rangkuman materi pelajaran dengan pulpen beragam warna. Membuat lebih optimal saat melaksanakan ujian dari pada membaca melalui buku paket saat belajar ulang. Kelak keduanya ingin menjadi seorang guru. chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.