Bersepeda Obat yang Mujarab


“Rutinitas bersepeda yang saya lakukan selama empat bulan ini membuahkan hasil memuaskan. Tubuh menjadi lebih segar dan sudah terlepas dari konsumsi obat.” - Sudarmawan, ST. -

JOMBANG – Semkin berkembangnya zaman juga mendorong kesadaran sesesorang untuk memilih hidup sehat. Oleh karenanya mulai bermunculan pelbagai metode hidup sehat diantaranya memilah dan memilih makanan; istirahat yang cukup serta mengolah pikiran; ada juga berolahraga secara teratur. Tentu harapannya adalah menjaga kesehatan jiwa sekaligus raga karena tantangan hidup sehat di era modern seperti saat ini semakin besar. Laiknya ungkapan seorang pengarang asal Irlandia, Jonathan Swift yakni Kesehatan selalu tampak berharga setelah kita kehilangannya.

Hal itu pun disadari oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Konstruksi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Jombang, Sudarmawan, ST. Bermula saat alaergi kulit dan penyakit asma akut menyerangnya, lantas segera menerapkan pola hidup sehat dalam kesehariannya. Diantaranya adalah tekun bersepeda tiap pekannya, sesekali memilih moda transportasi yang pertama kali dikembangkan oleh Baron Karls Drais von Sauerbronn untuk menuju ke tempat kerjanya.

Sudarmawan, ST. menjelaskan, “Rutinitas bersepeda yang saya lakukan selama empat bulan ini membuahkan hasil memuaskan. Tubuh menjadi lebih segar dan sudah terlepas dari konsumsi obat.

Bersepeda, tambah bapak tiga anak ini, merupakan olahraga yang sangat menyenangkan dan menyehatkan. Setiap tempat yang dilalui dan disinggahi menjadi pengamatan yang bermakna serta menggembirakan. Hingga pada suatu kesempatan menyempatkan diri untuk mengabadikan suasana dengan memotret melalui gawainya.

Pria yang menggemari fotografi ini, menularkan kepada buah hatinya agar hidup lebih sehat dengan berolahraga. Setiap akhir pekan tiba, waktu berliburnya dimanfaatkan dengan bersepeda bersama istri serta putranya. Jarak tempuhnya pun relatif dekat hanya berkisar lima kilometer di lingkungan Jombang Kota.

“Penting untuk melakukan beragam persiapan saat ingin bersepeda. Sempat kecolongan saat bersepeda ke wilayah Ngoro dengan jarak tempuh 43 kilometer lantaran mengalami dehidrasi di tengah perjalanan. Terlebih dahulu pahami kondisi tubuh saat akan berangkat, membawa bekal secukupnya, serta lengkapi peralatan keamanan berkendara agar lebih nyaman,” tutur pria yang berdomisili di Desa Kaliwungu itu.

Sekali waktu sebelum berangkat kerja, Cak Wan sapaan akrab Sudarmawan menyempatkan bersepeda santai diseputaran tempat tinggalnya. Bahkan berlanjut saat agenda kerja melakukan survei ke sejumlah lokasi kontruksi. Memilih menggunakan sepeda untuk meninjau perkembangan pembangunan. Sementara sepeda yang dipilih menyesuaikan kebiasaanya dalam bergowes terutama di jalan landai dan tidak terlalu terjal, maka Sudarmawan memilih jenis sepeda Polygon Mountain Bike (MTB) 3 x 7 speed.

Alasan lain bersepeda dampaknya mampu menghilangkan stres, baik tekanan pekerjaan atau kepenatan saat terkena macet di jalan. Baginya, bersepeda adalah persoalan menikmati kayuhan maupun situasi dan kondisi disekitar jalan yang dia lalui. Kerja otak pun sedikit memperoleh waktu beristirahat sejenak.

Walaupun dapat menyalurkan kecintaannya, namun terbesit ketakutan dalam diri Sudarmawan. Utamanya prilaku pengendara bermotor yang tidak mengindahkan hak pesepda di jalan. Bahkan seringkali emosinya turut tersulut sebab membahanyakan.

“Setiap bertandang diberbagai wilayah seputar Kota Santri ini, selalu resah dengan pengendara bermotor. Keadaan jalan raya yang penuh dengan hingar-bingar kendaraan bermotor dari populasi masyarakat yang meningkat, namun tidak menghargai pengguna jalan lainnya,” tandas pria berkumis tipis tersebut. chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.