Program Diniah Sekolah Ikhtiar Wujudkan Jombang Beriman


Program Diniyah ini sebenarnya bertujuan untuk menumbuhkan pendidikan karakter religi peserta didik supaya semakin mengenali syariat Islam lebih mendalam serta mengembalikan citra Kota Santri sebagai Jombang Beriman yang sudah dikanal sejak dahulu.

JOMBANG – Laju pendidikan selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Diantaranya wacana yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan Kabuapten Jombang yakni menyelenggarakan program Diniyah di jenjang pendidikan SD hingga SMP. Diketahui, selama ini Diniyah telah diterapkan di beberapa satuan pendidikan yang memiliki latarbelakang kultur keagamaan yang kuat layaknya di pondok pesantren.

Adanya program baru ini sebenarnya bertujuan untuk menumbuhkan pendidikan karakter religi peserta didik supaya semakin mengenali syariat Islam lebih mendalam serta mengembalikan citra Kota Santri sebagai Jombang Beriman yang sudah dikanal sejak dahulu. Di dalam program Diniah Sekolah tidak jauh berbeda seperti di madrasah, hanya saja di sekolah difokuskan pada materi Akidah Akhlak, Fiqih dan Tauhid.

Kepala Kemenag Kabupaten Jombang, Abdul Haris mengungkapkan, “Materi pembelajaran Diniah Sekolah bisa memberikan pengetahun baru bagi peserta didik SD maupun SMP yang sebagian besar selama ini hanya memperoleh pelajaran umum serta agama tentang tata cara beribadah saja. Kini semakin berkembang kearah menjalani hidup sesuai dengan syariat agama.”

Demi meningkatkan karakter generasi penerus dan sesama pemangku kebijakan lembaga pendidikan, Kemenag sangat mengapresiasi setiap inovasi berkaitan dengan pembentukan sisi religi peserta didik. Setelah program Diniah sudah benar-benar berjalan di sekolah, harapannya peserta didik dapat menangkap setiap materi dengan baik serta mengaplikasikannya di kehidupan nyata dalam bermasyarakat sehingga mampu memangkas angka penyimpangan sosial di sektor pendidikan.




“Kemungkinan besar pembahasan materi tidak jauh berbeda seperti di madrasah ataupun pesantren, pembedanya bisa saja terletak di proses penyampaian kepada peserta didik. Di madrasah dan pesantren, guru lebih menggunakan acuan kitab kuning dengan huruf pegon guna mengajak peserta didik mengartikannya secara langsung sembari menjelaskan makna setiap kata lengkap beserta contohnya. Sehingga peserta didik mendapatkan penjelasan secara utuh di setiap materinya,” papar ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH. Kholil Dahlan. 

Ketua Majelis Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Jombang tersebut juga menghimbau supaya dalam merekrut guru Diniah harus penuh kesungguhan menseleksi berdasarkan kemampuan menyampaikan materinya. Jangan sampai paparan materi dari guru menimbulkan penafsiran ganda di kalangan peserta didik yang nantinya mengakibatkan terjadinya kesalahan persepsi.

Koordinator diniah PPDU Jombang, Nurul Huda menuturkan, “Oleh sebab itu, sekolah juga harus menentukan metode penyampaian yang hendak diberlakukan sebagai modal utama menentukan kriteria guru. Kriteria selanjutnya adalah tingkat penguasaan materi. Ketika kedua aspek sudah siap, perlahan pendidikan Diniah akan beradaptasi dan mampu diterima peserta didik.” fakhruddin