“Mulai masuk jenjang SMA saya sudah mulai menyukai sepeda merk federal. Kisaran tahun 1988 sampai dengan 1990-an. Sepeda berjenis Mountain Bike (MTB) tersebut merupakan produk dalam negeri yang saat itu merajai di kelasnya.

JOMBANG – Dahulu kebutuhannya hanya sebagai alat transportasi saat berangkat sekolah hingga aktivitas harian. Kini sebagai benda yang diminati, bahkan mengkoleksinya serta menjadi hobi Catur Sujatmiko, SE.

Dahulu fungsi sepeda sebatas sebagai alat transportasi. Namun sekarang sepeda juga bisa menjadi kesenangan, koleksi, hingga investasi. Catur Sujatmiko, SE. contohnya, hobinya bersepeda sejak duduk dibangku sekolah membawanya kini mulai mengkoleksi pelbagai jenis sepeda keluaran lama. Hal ini pun akhirnya menjadi hobi yang digeluti hingga kini.

“Mulai masuk jenjang SMA saya sudah mulai menyukai sepeda merk federal. Kisaran tahun 1988 sampai dengan 1990-an. Sepeda berjenis Mountain Bike (MTB) tersebut merupakan produk dalam negeri yang saat itu merajai di kelasnya. Tahun 1998 hingga 2000 mulai berburu sepeda dengan ragam jenis dan model untuk di koleksi,” kenang pria berkacamata ini.

Baca Juga : 
Hari Kebangkitan Nasional 2019 Pupuk Semangat Gotong Royong

Koleksinya terbilang berkelas. Lantaran selain keluaran dalam negeri, Catur Sujatmiko juga mengkoleksi sepeda produksi mancanegara. Sebut saja dari Prancis, Jepang dan Amerika. Koleksinya yang berasal dari Perancis ialah merk Peugeot, sedangkan jika dari Jepang terkumpul tiga koleksi diantaranya merk Redgedeer, Bridgestone MB3, Miyata Carbon. Merk Gary Fisher Celerity, Alpinestar Cromega, Federal Mount Everest produksi asal Amerika Serikat, dan asal Indonesia merk Federal Street.




“Sekarang ini saya berniat menambah koleksi. Selaiknya saat krisis moneter yang melanda Indonesia satu dekade silam. Banyak sepeda yang unik sesuai dengan seleranya dijual oleh para kolektor,” ungkap Catur Sujatmiko saat dihubungi via telpon. 

Selain bentuk unik menjadi pertimbangan Catur Sujatmiko dalam berburu sepeda. Tampilan yang bagus dengan perpaduan warna pada karbonnya cukup membuatnya berhasrat untuk membeli. Sangking sudah ahlinya dalam menilai kualitas sepeda, pria 53 tahun ini cukup melihat penampilan sepeda tersebut sudah tahu produksi tahun berapa. Baginya pewarnaan sepeda dahulu itu tidak asal, ada cerita dibaliknya sehingga pasti memiliki karakter khusus.

Kesan vintage yang muncul menambah daya tarik tersendiri. Terbukti sepeda yang pernah dibelinya harga Rp 500 ribu, kini bisa ditawar hingga Rp 5 juta. Lelaki yang keseharian bekerja sebagai supervisi di perusahaan swasta di Surabaya ini mengaku masih memiliki angan mengkoleksi sepeda balap. Sejauh ini masih menjadi pertimbangan karena harganya yang relatif mahal dan body sepeda yang ramping. chicilia risca