Pembelajaran Matematika Berbasis Permainan Tradisional


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Junariah (2015) menunjukkan bahwa permainan Tradisional dapat mengembangkan kecerdasan jamak logika matematika anak usia 4-5 tahun sebesar 47%.

Sri Lestari *)


Indonesia kaya akan permainan tradisional. Setiap daerah mempunyai permainan tradisional yang khas. Permainan tradisional bersifat menghibur dengan menggunakan alat yang sederhana serta dengan tata aturan yang diwariskan secara turun temurun. Pada jaman Milenial sekarang anak Indonesia lebih akrab dengan permainan yang memanfaatkan media digital, sehingga mereka cenderung berkembang menjadi pribadi yang individual, tidak suka bersosialisasi, dan kurangnya menggerakkan anggota badan.

Hal ini jauh berbeda apabila mereka melakukan permainan tradisional, karena permainan tradisional mempunyai banyak manfaat, antara lain mengembangkan kecerdasan intelektualnya, mengembangkan kecerdasan emosinya, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, melatih kemampuan motorik, mengembangkan daya kreatifitas.


Baca Juga : Warna Pesta Demokrasi

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Junariah (2015) menunjukkan bahwa permainan Tradisional dapat mengembangkan kecerdasan jamak logika matematika anak usia 4-5 tahun sebesar 47%. Damayanti dan Putranti (2016) menyatakan bahwa menggunakan permainan engklek dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 69%. Kedua penelitian itu dilakukan dalam lingkup sekolah. Berikut contoh permainan tradisional yang dapat meningkatkan kemampuan hitung anak:

1. Pathilan

Permainan ini menggunakan lidi sebagai alat untuk memainkannya. Fungsinya untuk membelajarkan anak mengenai penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Banyaknya lidi berkisar antara 20 sampai 30 batang dengan ukuran 20 cm. Lidi-lidi tersebut diberi nilai sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan operasi hitung yang akan dimainkan serta disesuaikan dengan tingkatan kelas. Cara memainkan permainan ini yaitu,

a. Anak diminta untuk duduk melingkar,

b. Anak mengadakan pin suit untuk menentukan siapa yang akan memulai permainan,

c. Anak yang mendapatkan kesempatan bermain pertama melakukan permainan dengan cara menghamburkan lidi ke lantai,

d. Setelah lidi dihamburkan anak mulai mengambil lidi satu persatu dengan catatan lidi yang diambil tidak mengakibatkan lidi yang lain bergerak, jika lidi lain bergerak maka permainan digantikan kepada orang lain,

e. Permainan dianggap selesai jika semua lidi terambil baik itu oleh seorang anak atau beberapa orang anak.

f. Setelah semua lidi terambil, semua siswa diminta untuk mengadakan operasi hitung sesuai dengan banyaknya lidi yang diperoleh dan berdasarkan pada operasi hitung yang ditentukan serta nilai yang diberikan pada lidi.

Misalnya operasi hitung yang ditentukan adalah penjumlahan, dan nilai yang ditentukan untuk lidi adalah 5, jika seorang anak mendapatkan lima lidi maka operasi penjumlahannya adalah 5+5+5+5+5=25.

Dari operasi penjumlahan tersebut dapat dikembangkan lagi dengan pengurangan misalnya 25-5-5-5-5-5=0, atau perkalian 5 x 5=25 dan pembagian 25:5=5 atau 25:5=5.

Selain membelajarkan anak dalam hal matematika anak juga dilatih untuk bersabar, teliti, lapang dada, serta menghargai teman yang dapat mengadakan operasi hitung dengan baik serta membantu teman yang masih kesulitan dalam melakukan operasi hitung.

2. Dakon

Pengaplikasian permainan ini dalam permainan matematika sangatlah mudah. Dakon biasanya memiliki 14 lubang dan memiliki beberapa biji, umumnya dimainkan oleh dua orang. Dua orang tersebut membagi lubang itu sama banyak, yaitu masing-masing tujuh. Setelah kedua orang tersebut mendapatkan lubangnya masing-masing maka mereka wajib mengisi lubang-lubang tersebut dengan biji-biji sesuai dengan kesepakatan. Misalnya setiap lubang harus diisi dengan 2 biji, atau 3 biji, 4 biji dan sebagainya. Pada umumnya biji yang diisi untuk setiap lubang sebanyak 7 biji.

Operasi hitung yang akan dipelajari adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Banyaknya biji untuk setiap anak adalah 49 biji. Permainan ini akan dijalankan sebanyak 7 tahap, yaitu tahap pertama dimulai dengan dua biji untuk setiap kotak sampai dengan yang terakhir adalah berisi 7 biji untuk masing-masing kotak. Pada tahap pertama guru atau orang tua atau teman sebaya meminta untuk memasukkan biji di setiap kotak dengan dua biji. Pada tahap ini anak dapat ditanyai berapa biji yang berkurang dari jumlah biji semula, setelah itu anak diberi kesempatan untuk memainkan permainannya.

Setelah permainan selesai dimainkan guru, atau orang tua atau teman sebaya bertanya kepada anak yang kalah mengenai total biji yang berkurang dan bertanya kepada anak yang menang berapa biji yang bertambah. Manfaat lain dari permainan ini adalah anak dilatih untuk cermat dan tepat dalam menentukan strategi ketika memindahkan biji, konsentrasi dan sabar.

3. Nekeran

Nekeran adalah jenis permainan yang sangat familiar untuk anak-anak di seluruh daerah di Indonesia. Nama lain dari nekeran adalah kelereng. Nekeran pada zaman modern ini terbuat dari kaca yang telah dilebur dan dibuat bulat. Cara memainkannya yaitu,

a. Guru atau siswa membuat lingkaran atau lubang yang di dalamnya diletakkan gulungan operasi matematika.

b. Anak-anak diberikan nekeran dengan jumlah tertentu misalnya setiap anak mendapatkan 6 nekeran.

c. Anak diminta untuk berbaris memanjang ke belakang.

d. Anak yang berada di barisan pertama diminta untuk melemparkan satu per satu nekeran ke dalam lingkaran yang telah disediakan dengan jarak tertentu. Jika kelereng yang dilemparkan masuk ke lingkaran atau lubang, maka anak berhak mengambil gulungan kertas operasi hitung matematika dan menyelesaikan operasi hitung yang ada. Hal ini berlaku juga untuk semua peserta.

e. Guru atau teman sebaya mencocokkan hasil kerja siswa dengan jawaban yang sudah ada, jika jawabannya benar maka siswa tersebut diberi penghargaan.

Penghargaan dapat berupa, ucapan selamat dari semua teman dengan berjabat tanggan, dapat berupa bintang, dapat berupa ungkapan “kamu hebat, dan kamu memang hebat, bisakah kamu mengajari kami?” atau “kami bangga padamu, teruskan dan tetaplah semangat ya kawan”.

Nekeran selain berfungsi untuk matematika fungsi lainnya adalah, melatih anak untuk fokus, melatih anak untuk memberi penghargaan kepada ketercapaian seorang teman dan melatih anak untuk percaya diri.

4. Pasaran

Pasaran adalah permainan jual-beli kecil-kecilan dimana ada penjual dan pembeli. Permainan ini menggunakan berbagai alat permainan seperti sayur-sayuran mainan, buah-buahan mainan, peralatan memasak mainan dan sebagainya. Uang yang digunakan dalam jual-beli pun merupakan uang mainan. Dalam permainan, anak bebas membeli barang yang diperlukan namun harus menggunakan uang yang telah diberikan.

Tujuan permainan pasaran ini agar anak diajak untuk mengenal dan belajar menggunakan uang dengan tepat, anak dapat melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang mengunakan uang. Manfaat lain dari permainan ini adalah anak diajak untuk teliti dalam menggunakan uang, jujur dalam mengadakan transaksi jual-beli, mengaktifkan siswa dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan mempersiapkan anak untuk menjadi masyarakat dewasa.

Dalam setiap permainan, digunakan soal-soal yang berkaitan dengan empat ketrampilan dasar pada matematika yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Soal tersebut didesain sesuai dengan kebutuhan dan tingkatan kelas serta disesuaikan dengan jenis permainan yang akan dimodifikasi untuk membelajarkan anak.

*) Guru SDN Sumberagung II Megaluh.