Retensi Perjuangan Pasukan Wanara



Berdasarkan penuturan seorang pengelola wisata, Herman bahwa setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 atau tepatnya ketika Belanda dan sekutu mulai menginvasi kembali wilayah Indonesia, Sumberboto merupakan tempat pergerakan Organisasi Angkatan Kehutanan yang terdiri dari Korps Karyawan Kehutanan atau daerah Batalyon III.

MOJOWARNO – Saksi sejarah pengorbanan para pahlawan tidak hanya terbukti atas kehadiran rumah bergaya klasik yang berdiri kokoh di sejumlah daerah saja, melainkan juga bisa dilihat melalui keberadaan beberapa monumen tertentu. Salah satunya yakni monumen Wanara yang terdapat di lingkup wisata Sumberboto, Mojowarno.

Berdasarkan penuturan seorang pengelola wisata, Herman bahwa setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 atau tepatnya ketika Belanda dan sekutu mulai menginvasi kembali wilayah Indonesia, Sumberboto merupakan tempat pergerakan Organisasi Angkatan Kehutanan yang terdiri dari Korps Karyawan Kehutanan atau daerah Batalyon III. Berjalannya waktu, pada (24/8/1945) pergerakan tersebut resmi dibentuk dan diberi nama Pasukan Wanara dengan jumlah pasukan 39 orang dan dikomando langsung oleh pasukan kehutanan di bawah kepemimpinan Soejarwo, selaku asisten direktur kehutanan.

“Di luar pengukuhan itu, Pasukan Wanara juga telah mendapat pengesahan khusus dari Panglima Besar Jendral Soedirman. Alhasil, pusat komando berada di Yogyakarta dan basis pasukannya tersebar di berbagai hutan yang ada di pulau Jawa,” ujar laki-laki berkumis tersebut.

Baca Juga : Lomba Kreasi Busana Daerah Fashion Show Ibu/Ayah dan Anak Wujud Harmonisasi

Ketika menghadapi invasi Belanda dan sekutu, Pasukan Wanara memanfaatkan sisa senjata peninggalan kolonial Jepang di Jombang dan sekitarnya. Khususnya di daerah seputar Pabrik Gula (PG) Tjoekir sebagai basis utama tentara negara Mata Hari Terbit saat menginvasi pesantren dan sumber gula di Kota Santri.




Selain memanfaatkan senjata peninggalan Jepang, di Sumberboto pun menyimpan banyak senjata. Hal itu terbukti dari ditemukannya bom seberat limaratus kilogram di sungai setempat. Pada akhirnya, Pasukan Wanara mencari senjata lainnya yang masih bisa diambil mesiunya dan kemudian dikumpulkan untuk dirakit kembali menjadi senjata baru.

Herman menambahkan, “Hanya saja, saat mencoba merakit bom seberat limaratus kilogram tadi tiba-tiba meledak dan menggugurkan lima pasukan yang sedang berada di sekitar lokasi perakitan.”

Sebagai bentuk mengenang peristiwa tersebut dan atas perintah Komando Batalyon IV Pasukan Wanara dan Kepala Perumahan Perhutani Unit II Jawa Timur, Soehando Sastrosadarpo menginstruksikan untuk mendirikan Monumen Perjuangan Pasukan Wanara yang diresmikan pada (19/7/1970). Selanjutnya, setiap tanggal itu diperingati sebagai Hari Pasukan Wanara oleh Perhutani dan pengelola Sumberboto. Tepatnya ketika Soejarwo menjadi Menteri Kehutanan periode 1983-1988.

Hingga kini, monumen masih dijumpai berdiri kokoh di sebelah kolam renang. Bentuk monumen pun terjaga hingga saat ini, bagian bawah menyerupai kubus dengan penyangga pondasi batu khas peninggalan kolonial yang mengutamakan kekuatan dan dua patung menyerupai Pasukan Wanara tengah berperang melawan penjajah. Di bagian depan serta belakang nampak ukiran lima nama pasukan yang gugur lengkap dengan tanggal diresmikannya monumen. Kemudian di bagian kanan kiri, bisa dilihat gambaran perjuangan para pejuang masa itu.

“Apabila tidak mampu berjuang laiknya seorang pahlawan semasa peperangan, sebagai generasi muda seharusnya mau mengenang jasa leluhur yang telah berjasa dengan menjaga dan merawat segenap peninggalannya. Bukan sebaliknya, merusak ataupun membiarkannya rusak termakan usia,” pesan laki-laki asal desa setempat tersebut. fakhruddin