Perlu pembawaan khusus ketika menghadapi anak. Meskipun membangun fokus anak bukanlah permasalahan berarti, karena anak pada prinsipnya gemar didongengi. Terlebih bila yang disampaikan materinya tidak jauh dari kehidupannya. 

JOMBANG - Beragam penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat seperti tindak kriminal mampu merugikan banyak pihak, merupakan refleksi miskinnya konsep moral yang dimiliki. Tentu generasi muda merupakan aset yang bernilai ketika pencegahan lebih tekankan guna menyelamatkan generasi penerus bangsa. Berdasarkan pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), moral didefenisikan sebagai ajaran yang diterima tentang baik ataupun buruk secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan susila. Moral harus ditata dengan baik sehingga dalam interaksi sosial dapat terarah positif. Salah satu caranya adalah dengan sajian dongeng yang di dalamnya terkandung banyak pesan moral.

Bagi seorang pendongeng nasional, Faisal Rizal, kegiatan mendongeng tak semata-mata menceritakan tentang dongeng yang bermuatan kisah rekaan ataupun khayalan pada anak. Bahkan, mendongeng berarti bercerita tentang kehidupan sosial atau realita yang dikemas dengan bahasa anak. Referensi yang dipergunakan dalam inti materi bahan cerita bisa bersumber dari buku (dongeng, cerita rakyat, fabel, dan sebagainya). Ketika sudah memahami inti sari cerita, selanjutnya dikembangkan. Pengembangannya menjadi sebuah konsep dalam kisah karangan pribadi melalui inovasi, kreativitas di imanjinasi sebelum disampaikan.

“Memang dongeng mampu dinikmati siapa saja. Tetapi sejauh ini, anak bisa dikatakan sebagai penikmat atau sasaran utama. Bentuk cerita yang dibacakan ataupun disampaikan, umumnya dikemas secara sederhana agar dapat dicerna para penikmat cilik ini. Berdasarkan kemampuan membaca yang rata-rata masih minim, penyampaian cerita secara lisan menjadi lebih tepat ditunjukan untuk anak,” tambah pria asal Kota Depok Jawa Barat.

Baca Juga : Dongeng Tradisi Leluri Masa Lampau

Arah dongeng, lanjut pria yang pernah meraih Juara I Pemuda Pelopor bidang Pendidikan tingkat Kota Depok, sebagai ruang edukasi pesan moral tersebut berperan memperkuat landasan dasar anak. Sehingga sangat penting membangun kenyamanan serta kedekatan dengan anak, agar kemistri terjalin lebih awal dan mudah untuk menyelami wujud mendongeng.

Langkah mengawali dongeng, Faisal Rizal selalu menggunakan ice breaking, game, ataupun atraksi sulap. Ketika suasana sudah terbangun dan masuk dalam situasi yang diinginkan pendongeng, barulah beranjak ke dongeng penyampaiannya dengan alat peraga (boneka/wayang, alat sulap).

“Boneka merupakan ikon seorang pendongeng yang berkembang berdasarkan kebutuhan. Dintinjau dari hal tersebut, alat peraga dongeng saat ini tentu berbeda dengan dongeng terdahulu. Jika dahulu hanya menggunakan boneka yang tak memiliki defenisi dominan secara fisik maupun visualnya, kini variasi serta inovasi dari boneka sebagai tokoh dongeng memiliki karakter sesuai perannya yang lebih terlihat penegasannya,” ulasnya.

Menelusuri pengalaman Faisal Rizal sebagai seorang pendongeng profesional, sosoknya mengemban sebuah tugas untuk menjaga kelengkapan sebuah cerita dengan mengekspresikannya. Bentuk emosi yang tepat dan berdampak dalam mengembangkan diri untuk penikmat dongeng. dengan memberikan gambaran dalam bentuk audio visual melalui kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah dari suara setiap tokoh karakrer yang diperankan.

Materi yang sering diulas dalam dongengnya, terkait dengan permasalahan yang ada disekitar. Seperti kecanduan game online, tindak asusila, hingga merambah kepada anak sulit belajar. Pemilihan materi tersebut guna membangun kedekatan yang secara tidak disadari akan membantu mengatasi masalah melalui perintah atau solusi yang terkonsep. Uraian pengalaman ini mendapat sebuah respon bahkan perubahan positif pada anak yang mengalami permasalahan dalam sosialnya. Berdasarkan atas riwayat pesan pendek dalam akun media sosial Faisal Rizal, beberapa peserta didik menyatakan dirinya mampu merubah sebuah kebiasaan yang merugikan dirinya seperti malas belajar atau bermain game tanpa henti.


Begitu halnya dengan pendongeng anak yang berasal dari Jombang, Achmad Sjafi’i. Pria yang berprofesi sebagai polisi di Polsek ini pun mengamini bahwa perlu pembawa khusus ketika menghadapi anak. Meskipun membangun fokus anak bukanlah permasalah berarti, karena anak pada prinsipnya gemar didongengi. Terlebih bila yang disampaikan materinya tidak jauh dari kehidupannya.

Diceritakan oleh anggota korps seragam cokelat berpangkat Aipda ini kalau sejak tahun 2009 dengan berkeliling ke sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) dan juga jenjang SD, SMP, dan SMA melalui interaksi dongeng yang menyenangkan dan fleksbel menggunakan alat peraga sesuai materi.

Pria yang kerap disapa Memet ini juga menceritakan bahwa terdapat perbedaan cara penyampaian dongeng berdasarkan jenjang. Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menggunakan cara manual yakni alat peraga seperti boneka, replika rambu lalu lintas, dan lain sebagainya. Kemudian sajian yang diberikan untuk jenjang SD dan MI, mempergunakan media yang divisualkan dari benda elektronika atau telepon pintar yang ditampilkan di proyektor kemudian beraksi mendongeng.

“Beralih ke jenjang SMP dan SMA, mereka langsung saya ajak untuk bermain atau berperan bersama dalam alur cerita layaknya teater atau drama. Peran saya sebagai pendukung dibelakang layar atau sutradara,” tandasnya.

Bagi pria yang memiliki tiga anak tersebut melihat bahwa, dongeng menjadi perantara pesan yang baik dan mudah dipahami oleh anak dan juga peserta didik misal saja tentang bentuk larangan berlalu lintas atau nilai moral. Bentuk penyampaian yang menyenangkan seakan bermain bersama, menjadi lebih mudah diterima dan mampu terselami.

Selain itu pengembangan pendidikan karakter menjadi mudah diterapkan pula dalam dongeng. Seperti yang dilakukan oleh Juara I Lomba Mendongeng Tingkat Kabupaten Jombang 2019, Pujowati Nurma Ningsih. Kemudian diaplikasikan untuk pembelajaran di kelas selama satu tahun terakhir.

“Media mendongeng dipakai pada beberapa tema pembelajaran KB dan TK. Terdapat perbedaan yang dijumpai setelah menerapkan mendongeng dengan sarana belajar anak. Anak lebih interaktif, seperti ikut merasakan masuk dalam cerita tersebut, hingga membuat anak melakukan refleksi gerakan badan hingga emosional pada situasi tertentu,” terang Pujo sapaan akrabnya.

Jika melihat reaksinya, anak semakin diasah atau dilibatkan dalam konsentrasi serta kolaborasi dari semua panca indera, baik visual dan suara pendukung suasana yang didengarnya. Seperti yang diilustrasikan harimau si pemangsa dan seekor tikus penolong, bahwa pesan moral yang terkandung adalah sebagai makhluk hidup harus saling tolong menolong.

Dalam penerapannya Pujowati Nurma Ningsih mengenakan baju yang mengilustrasikan salah satu peran dalam materinya agar menarik perhatian anak didik. Setiap percakapan diekspresikan dengan tampilan gerakan seolah dirinya yang berada dalam cerita tersebut.

“Peran hewan masih digemari oleh anak. Sehingga imajinasi yang diolah dalam cerita tersebut memperlihatkan sosok hewan buas dan juga tangguh ternyata juga membutuhkan pertolongan hewan lain. Selain itu, pendidikan karakter yang disematkan pada anak didiknya diantaranya bentuk empati. Seperti kata tolong, permisi, dan terima kasih. Menerapkan tiga kata ajaib ini akan membuat anak terbentuk dalam pengaruh positif ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,” tegas perempuan yang aktif mengajar di Kelompok Bermain (KB) Islam Terpadu Al Ummah Tampingmojo Tembelang ini.

Perempuan berdomisili di Tembelang tersebut berharap agar dongeng mampu memasyarakat tak hanya dikalangan guru dan anak didik, tetapi di lingkungan keluarga menjadi hal utama. Sebab dilingkungan keluarga, tercipta pendidikan pertama yang akan anak dapatkan dengan periode waktu lebih lama dibanding di sekolah.

Mendongeng memiliki beragam cara dalam penggunaan dan penyampaiannya. Hal tersebut dilakukan oleh Ketua dan Pengelola Rumah Baca Sahabatku (RBS) Mojowarno, Kurnia Khoirun Nisa misal dalam mengawali belajar. Peserta didik yang belajar dengannya ini diajak untuk mendengarkan dongeng yang ia bacakan barulah kemudian belajar bersama.

“Kegiatan tersebut untuk menggugah peserta didik berliterasi. Karena saya biasanya merekomendasikan buku bacaan dan kemudian dipergunakan sebagai ide mendongeng. Setiap pertemuan saya selalu bertanya, buku mana yang sudah pernah dibaca. Beberapa buku yang tersedia di lemari RBS ini mayoritas buku bacaan anak atau cerita rakyat,” ucapnya saat ditemui di kediamanannya.

Dalam praktiknya mendongeng, Kurnia Khoirun Nisa mencontohkan membacakan dongeng lewat buku dengan ekspresi karakter dan tokoh yang divisualkan oleh buku bacaan yang dirinya pegang. Secara sederhana anak mendengar, melihat, dan memahami bentuk larangan atau nilai moral yang tersirat. Sebagai pendongeng, pendalaman mendongeng tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Pasalnya menentukan model mendongeng perlu disesuaikan minat anak. Disisi lain ada juga yang menjiwai peran dalam dirinya melalui ekspresi mimik wajah, suara, gerakan, dan riasan, serta kostum sebagai penunjangnya.

“Menciptakan karakter suara dari pelaku dongeng anak, masih terasa sulit kecuali mereka yang mempunyai bakat dan talenta khusus pada vokal. Sehingga untuk merubah karakter suara saat beraksi dongeng, hanya melakukan pembeda tempo suara yang diucapkan. Kalau misal mengekspresikan rasa amarah, maka pengucapannya lebih cepat dari ucapan yang sebelumnya atau situasi sebaliknya,” urainya saat mempraktikkan sebagai pendongeng.


Berbicara pengembangan yang saat ini terjadi, kedekatan manusia dengan teknologi mampu sinergi sebagai pilihan alternatif bahan dan juga media dongeng. Hal ini diterapkannya pada beberapa relasinya di luar negeri untuk mendokumentasikan kegiatan berliterasi di sana. Selanjutnya dikondisikan dalam satu kegiatan nonton bersama dengan menjelaskan maksud dari video yang ditonton.

“Merasakan dampak positif dan juga kekurangan yang keduanya memiliki solusi berbeda. Dampak positifnya ialah mampu mengikuti perkembangan zaman dengan baik dan tentu membuat anak semakin punya referensi lebih fleksibel dalam berekspresi. Kekurangannya ialah, secara berangsur-angsur, buku akan dengan pasti ditinggalkan oleh anak sebagai sumber informasi ide mendongeng. Kekurangan lainnya, terdapat penambahan waktu dalam mempersiapkan alat pendukung, misal dengan mempersiapkan proyektor untuk nonton bersama agar terlihat lebih jelas dengan layar besar,” keluhnya.

Pengenalan pada buku lebih dominan diterapkan di RBS sebagai media referensi ide mendongeng. Efeknya yang dihasilkan oleh perempuan yang sering disapa Lia itu mengutarakan, membuat anak lebih nyaman, fokus, konsentrasi membaca yang terarah, serta waktu yang digunakan tepat.

Mencermati pengambilan ide atau media yang dipergunakan dalam mendongeng, bagi ibu satu anak itu lebih nyaman dengan cara konfensional. Hal tersebut juga terasa kala menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kisah yang disampaikan oleh dalang sebagai pendongeng, juga diambil dari kisah fiksi yakni satu diantaranya cerita sejarah Mahabarata dan Ramayana.

Kepala Seksi Sejarah dan Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Anom Antono, S.Sn. sekaligus dalang menjelaskan, “Sang dalang menuturkan cerita yang sepertinya terdengar kisah nyata, namun jika dicermati hanyalah fiktif belaka. Pedoman yang dalang memiliki berasal dari sumber cerita yang jelas dan alurnya sama dengan dongeng pada umumnya. Cerita tersebut berkembang disesuaikan dengan adat serta budaya masyarakat sekitar Jawa Timur dan atau Jawa Tengah.”

Menurut pria yang mendalami sekolah tentang dalang tersebut juga mengemukakan, wayang merupakan sarana mendongeng yang didukung beberapa perangkat lainnya. Seperti diantaranya kelir, pelepah pisang, kepyak, kotak, pengerawit, sinden. Gabungan komponen ini merupakan pendukung yang berkesinambungan, namun kendali sentral berada pada dalang. Bentuk penampilannya menyesuaikan sehingga menjadi satu bagian perkembangan zaman yang mampu terjawab. Anom mengutarakan jika penyampaian dongeng sesuai perkembangan zaman saat ini lebih mudah.

“Tetapi melihat siapa penonton (penerima cerita), misal saja penikmatnya ialah anak muda terdapat tantangan yang membuat semakin kreatif. Sehingga dalang akan secara terkonsep menyampaikan materi dan pesan yang erat kaitannya dengan situasi yang dialami generasi muda kini. Misal saja bahayanya penggunaan narkoba, atau aksi demonstrasi,” jelas Anom Antono.

Didukung pula dengan kemasan penampilan sinden muda, kemudian kolaborasi alunan musik non gamelan. Namun tak meninggalkan ciri khas wayang pada khususnya. Selanjutnya bahasa yang dipergunakan memiliki beberapa tingkatan yang berlandaskan pada pakem perdalangan. Secara fleksibel akan ada penyesuaian ucapan pada beberapa peran wayang dalam menyampaikan pesannya.

“Untuk pendalaman peran dari para lakon, dalang akan dibantu oleh pengiring dalam seberapa capaian suara yang harus dilantunkan untuk peran-peran tertentu. Diketahui dalang memerankan lebih dari satu tokoh pewayangan. Sehingga pembedanya ialah tinggi atau rendahnya nada yang dipergunakan. Maka warna suara yang disajikan dalang akan terkesan berbeda karakternya,” tutup Anom. chicilia risca