Menggambar Manual Hingga Olah Digital

FOTO: Karikatur Muhammad Dendy Pratama. (aditya)

KUDU – Menggambar merupakan kegiatan yang hamir tidak pernah terlewatkan. Bahkan sangking seringnya akhirnya menjadi sebuah kegemaran. Terlebih sekarang ini di era digital, makin banyak sumber yang didapati sehingga semakin memacu motivasi untuk menggeluti. Hal itu terjadi pula pada sosok Muhammad Dendy Pratama, peserta didik SMP Negeri Kudu ini sangat mencintai aktivitas yang terkait erat dengan kreatifitas tersebut.

Terbukti saat ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten ia mampu meraih yang terbaik lomba poster dalam kegiatan rutin saban tahun tersebut. Padahal dalam aturan kali ini tidak hanya menggambar manual, melainkan harus di olah digital dengan bantuan perangkat komputer dan program khusus.

Ketika ditemui di sekolah, peserta didik yang saat ini masih duduk di kelas VII ini menguraikan kisahnya. “Saat itu tiba-tiba saja saya dipanggil ke kantor kemudian diberi tahu untuk mengikuti lomba. Jarak antara saya diberi tahu dan pelaksanaan lomba juga sangat mendadak hanya dua hari. Jadi setelah diberi tahu, saya langsung belajar, mengumpulkan informasi beserta bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat poster.”

Baca Juga: Desi Sasmita Prestasi Floorball Dari Keyakinan

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan dengan manual, berdasarkan informasi yang diceritakan oleh Mohammad Dendy Pratama, pelaksanaan Lomba Poster pada FLS2N 2019 dilakukan dengan olah grafis menggunakan aplikasi. Meski bekal penguasaannya terhadap aplikasi grafis yang akan digunakan masih sangat terbatas, anak pertama dari dua bersaudara itu dapat menyelesaikannya dengan baik.

“Saya biasanya menggambar secara manual. Tapi ketika kemarin harus membuat karya dengan digital saya lebih tertantang dan sepertinya kedua cara menggambar itu bisa disatukan untuk menciptakan karya yang lebih bagus,” ujar Mohammad Dendy Pratama.

Sejak kecil Mohammad Dendy Pratama memang mengaku sudah senang menggambar. Segala hal ia gambar dengan tangan kecilnya. Pola-pola sederhana seperti lingkaran, persegi hingga pola-pola abstrak ia coretkan semuanya ke atas kertas. Beranjak dewasa, gambar-gambar itu mulai berbentuk dan bisa dipahami apa maksudnya.

“Saat TK sudah mulai diikutkan lomba menggambar dan mewarnai. Begitu juga saat SD. Selain mengikuti lomba menggambar dan mewarnai sempat diikutkan lomba kaligrafi juga,” ungkap Mohammad Dendy Pratama sambil malu-malu.

Laki-laki kelahiran 10 Januari 2006 ini memang mengaku tidak membatasi objek, cara, hingga jenis atau aliran gambar. Ia ingin mencoba semuanya.

“Baru ketika pertengahan kelas VII SMP saya lebih tertarik dan fokus pada karikatur dan juga vektor. Tapi tetap sih saya ingin mencoba cara-cara menggambar lain jika nanti ketemu. Seperti melukis yang juga sekarang masih belajar,” tambah Mohammad Dendy Pratama.

Laki-laki yang juga memiliki hobi bermain game ini mengatakan tidak menyediakan waktu khusus untuk mengembangkan kemampuannya dalam menggambar. Kapan pun ingin menggambar akan dilakukannya. Bahkan ketika di dalam kelas saat merasa bosan pun ia gunakan untuk menggambar. Media gambarnya pun tidak dibatasi. Asal kertas dan masih dalam kondisi layak pakai. Sementara untuk menggambar digitalnya, ia sering mencoba-mencoba di rumah.

“Untuk ide-ide atau referensi menggambar, sering lihat di internet, di YouTube, itu sangat membantu,” ungkap Mohammad Dendy Pratama. fitrotul aini.