BARENG –
Cinta datang dari mata turun ke hati, istilah itu tepat sekali disematkan kepada Sigit Waluyo. Penghobi miniatur kapal laut ini mengakui awalnya jatuh hati kepada sarana transportasi di air itu. Selaih kehebatannya juga bentuknya. Baik yang modern atau klasik seakan memiliki karakter tersendiri.

Terlebih bila mengamati seksama kapal klasik yang masih membentangkan layar untuk mengarungi lautan. Selain ukurannya sangat reposisi, bentuknya juga terbilang sangat estetik. Itu semua semakin menambah kecintaan dan rasa ingin tahu yang sangat besar.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, lelaki yang tinggal di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng ini sering melihat kapal laut melalui televisi. Maklum saja, saat itu internet belumlah segencar sekarang. Setiap ada tanyangan tentang kapal laut di layar kaca, Sigit bergegas menyaksikannya.

Baca Juga: Produksi Melimpah, Permintaan Kian Meruah

“Sayangnya saat itu tidaklah semudah sekarang kalau ingin mendapatkan miniatur kapal laut. Dengan kemampuan otodidak, saya membuat sendiri sebisa mungkin,” ungkap lelaki 37 tahun ini.

Untuk melatih keterampilannya, Sigit kerap membeli kapal miniatur yang sudah jadi. Kemudian membongkarnya lagi. Hal itu untuk mengetahui detail ukuran, bentuk, hingga beratnya. Harapannya, bisa membuat sendiri benda seni tersebut. Sigit akhirnya mampu membuat kapal miniatur itu meski bentuknya awal belumlah seindah saat ini.

Sigit Waluyo mengakui, “Untungnya memiliki bekal pertukangan meubeler. Sehingga bisa untuk mendukung hobi saya tersebut.”


Kini, Sigit semakin lihai. Dia sudah bisa mengukur sendiri berat yang pas supaya kapal laut buatannya yang berbahan dasar kayu mampu mengapung dengan baik. Selanjutnya tinggal memoles bentuknya sesuai kehendak. Semua itu semakin klop dengan adanya platfom menonton video yang banyak menjelaskan pembuatan miniatur kapal laut. Sehingga semakin melengkapi koleksinya dengan renik kapal laut yang hampir persis dengan aslinya.

Sigit menggunakan bahan dasar Kayu Sengon atau Kamper, karena bahan tersebut terbilang ringan dan mudah dibentuk. Hobi yang digeluti warga Pulosari ini akhirnya berbuah manis. Banyak orang datang memesan. Dari situ pula Sigit meraup penghasilan. Soal harga, kata Sigit, menyesuaikan model, ukuran, dan tingkat kerumitannya.

Reporter/Foto: Aditya Eko P.
Sebelumnya Berikutnya