Megengan

Kata megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan. Tradisi ini sering pula disebut sebagai ritual mapag atau menjemput awal bulan puasa. Memasuki bulan Ramadan, melalui ibadah puasa manusia tidak hanya diperintahkan untuk menahan makan dan minum melainkan juga menahan segala hawa nafsu. Tradisi megengan tidak akan lengkap tanpa kehadiran kue apem.

Grebeg Apem

Grebeg Apem dilaksanakan sebagai agenda tahunan menyambut bulan Ramadan. Sebelum dibuat gunungan, apem biasanya dibuat PKK diseluruh 21 kecamatan di Jombang. Bahannya beranekaragam mulai dari beras sampai nonberas dan nonterigu. Gunungan apem diarak, diiringi kesenian bernuansa Islami sepanjang Jalan KH Abdurahman Wahid, start GOR menuju bundaran Ringin Contong sampai Aloon-Aloon Jombang. Selanjutnya, gunungan menjadi rebutan masyarakat.

Maleman


Di hari-hari akhir bulan masyarakat memiliki tradisi maleman. Di malem telu, limo, pitu, songo (malam tiga, lima, tujuh, sembilan atau malam hari ke 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan) masyarakat akan membagikan kue atau makanan. Beberapa ada yang melakukan iktikaf di masjid dengan harapan bisa mendapatkan berkah malam lailatul qadar.

Baca Juga: 90 Persen PKBM Siap UNBK

Nyekar

Sebelum memasuki bulan Ramadan masyarakat menyempatkan untuk kembali melaksanakan tradisi nyekar (ziarah kubur). Tujuannya yakni untuk mendoakan orang tua juga leluhur. Di sisi lain, nyekar juga dapat dipahami sebagai upaya untuk mengingat akar silsilah dan menyambung hubungan keluarga. Anak-cucu yang mungkin tidak sempat mengenal anggota keluarga karena sudah terlebih dahulu dikenalkan melalui tradisi ini.

Kenduri Cobek

Acara kenduri cobek dilaksanakan oleh Pondok Shidiqqiyah. Hal ini merupakan ritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Cobek dipilih sebagai sarana karena mengingatkan tentang kematian karena bahan dasar cobek terbuat dari tanah liat. Cobek dibuat dengan empat unsur yang sama dengan jasmani manusia, yakni tanah, air, udara, dan api.

Ongol-ongol

Jajanan khas Ramadan ini hanya ada di Kecamatan Plandaan, khususnya di Desa Klitih. Jajanan dengan tekstur kenyal ini disajikan dalam bentuk seperti sate yang ditusuk dengan isi 3 Ongol-Ongol Singkong dengan warna yang bervariasi. Warna merah menggunakan buah Naga, warna hijau memanfaatkan daun Suji sebagai pewarna alaminya, dan kuning adalah warna dasar dari Singkong.

Olah Data/Desain: Fitrotul Aini/Aditya Eko P.
Sebelumnya Berikutnya