BANDAR KEDUNGMULYO – Siang hari dengan cuaca terik makan jambu air pasti segar rasanya. Terlebih jambu air dengan ukuran jumbo. Tentu membuat puas dan kenyang bagi yang mengkonsumsinya. Salah satu jenis jambu air yang berukuran besar adalah Jambu Bol, atau masyarakat Jombang khususnya Desa Gondang Manis, Kecamatan Bandar Kedungmulyo menyebutnya Jambu Darsono.

Memang jenis jambu ini belum banyak yang mengenalnya. Jambu Darsono sudah lama ditanam beberapa khalayak, namun tidak dibudidayakan. Kebanyakan jambu dengan nama latin Syzygium malaccense ini ditanam di pekarangan, koleksi tanaman hias, atau sebagai pohon pelindung. Sekalipun ada desa-desa yang menjadi sentra penghasil buah ini, tetapi bukan bentuk perkebunan. Itu sebabnya Jambu Darsono sulit dicari dan harganya sangat tinggi.

Bermula dari kegelisahan tersebut Pemerintah Desa Gondang Manis membuat inovasi dengan mengangkat potensi lokal yang ada di desanya. Hal itu dilakukan agar lebih bermanfaat baik dari segi pembudidayaan dan perekonomian masyarakat sekitar. Inovasi tersebut adalah membuat Kampung Wisata Jambu Darsono yang ada di Dusun Gondang Legi.

Baca Juga: TK Negeri Mojowarno Pembinaan Khusus Kemampuan Anak Didik

Menurut Kepala Dusun Gondang Legi, Sukiyat, sejak puluhan tahun silam, lahan di rumah-rumah warga banyak yang ditanami pohon Jambu Darsono. Bahkan ada di antara warganya yang mempunyai puluhan pohon Jambu Darsono.

Pengembangan Dusun Gondang Legi menjadi Dusun Wisata ini memerlukan waktu yang lumayan panjang. Pasalnya sebagai tahap utama perawatan pohon Jambu Darsono harus dipahami secara baik oleh para petani. Penggunaan pupuk organik sangat disarankan agar pohon jambu tersebut bisa menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas lebih baik. Selain itu pelatihan membuat pupuk organik juga diterapkan, hal tersebut bertujuan agar petani dan warga tidak bergantung pupuk dari luar. Jika sudah demikian, maka akan sanggup meminimalisir biaya perawatan tanaman itu.

Perlu diketahui bahwa Jambu Darsono di dusun ini memiliki rasa khas jika dibandingkan dengan daerah lain. Hal tersebut diungkapkan Prof. Indah Prihartini, salah satu dari tim Forum Layanan Iptek Bagi Masyarakat yang terdiri dari Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Wisnu Wardhana Malang dan Universitas Darul Ulum Jombang.


Menurut Indah, ukuran jambunya memang sedikit lebih kecil dari buah berasal dari Jamaika tersebut, namun baik warna dan rasanya sangat berbeda. “Jadi ini sangat potensial kalau dikembangkan dengan baik,” ujarnya.

Namun demikian, pengembangan Kampung Wisata Jambu Darsono bukan tanpa kendala. Salah satunya, kampung wisata ini tidak bisa dikunjungi setiap waktu. Karena Jambu Darsono termasuk buah musiman. Tanaman ini mulai berbunga sekitar bulan Mei, dilanjutkan fase pembuahan, dan dapat dipanen pada Juli-Agustus. Buah matang sekitar dua bulan atau 60-80 hari setelah bunga mekar. Namun cepat dan tidaknya kemunculan buah juga dipengaruhi faktor pemeliharaan dan kesesuaian dengan syarat tumbuh.

Oleh karenanya, selain dinikmati buahnya, warga Dusun Gondang Legi juga dibekali cara mengolah Jambu Darsono dalam bentuk lain. Seperti selai jambu, sirup jambu dan lain sebagainya. Hal itu dinilai menjadi produk dengan jangka panjang dan dapat dijual pada saat musim panen sudah berlalu. Saat musim panen, 20 pohon biasanya dapat menghasilkan dua ton Jambu Darsono.

Reporter/Foto: Aditya Eko P./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya