JOMBANG – Bagai menemukan mutiara di tengah belantara samudera, itulah yang diakui oleh Make Up Artist (MUA) asal Jombang Dwi Saputri. Profesi yang ia geluti tidak lepas dari pilihannya ketika masih duduk di bangku SMA. Dwi Saputri memantapkan diri di jurusan vokasi tata rias, padahal ada tata boga dan tata busana, namun kehendaknya kuat di bidang mempercantik rupa.

Faktor pendorong lainnya adalah, dikuatkan dengan kebiasaan sang ibunda yang kerap bersolek. Semua itu semakin klop karena Dwi Saputri juga gemar seni lukis. Sehingga kemampuan itu bisa dikombinasikan untuk merias wajah seseroang.

“Menjalani karier sesusai dengan hobi rasanya sangat menyenangkan. Meski dilakukan berulang kali tak sedikit pun terbesit kebosanan. Walaupun sudah mencapai tingkat nasional, saya tidak berhenti untuk belajar,” ungkap Dwi Saputri saat ditemui Majalah Suara Pendidikan.

Baca Juga: Daya Magis Kenduren Wonosalam 2020

Anehnya, perempuan berhijab ini mengakui bahwa dirinya sendiri kurang begitu suka mempercantik diri. Justru semakin tertantang kalau memoles wajah orang lain. Selain harus memahami karakter bentuk muka, karakter kulit pun wajib diketahui agar tidak sampai menimbulkan efek yang merugikan konsumennya. Utamanya dalam pemilihan bahan make up yang bakal digunakan.

“Dasar memahami anatomi tubuh manusia pun sangat diperlukan. Sehingga ketika sudah mulai berkarya, akan mengetahui bagian wajah yang memiliki peluang untuk ditonjolkan. Selain makin cantik secara pandangan, tentunya ketika didokumentasikan pun tak kalah menariknya,” terang perempuan yang kerap di sapa Dwisa ini.


Kata kunci dalam usaha ini adalah saling percaya. Baik dalam tim sendiri maupun oleh pelanggan. Jika ada kepercayaan yang sudah tertanam, selanjutnya dalam memoles wajah menjadi nyaman. Karena tidak ada keraguan di kedua belah pihak.

Kepercayaan itu, tambah Dwi Saputri, ditimbulkan dari pengalaman dan peningkatan kompetensi. Oleh karenanya, ia tak segan untuk terus meningkatkan kemampuannya. Kalau sudah mencapai kepuasan pelanggan, ia berkeyakinan peluang bisnisnya semakin terbuka lebar.

“Bisnis ini tak lepas dari getok tular (pembicaraan). Hal itu tercipta andaikan hasilnya bagus dan membuat pelanggan puas. Tak ayal pasti dengan sendirinya akan menyita perhatian khalayak,” ungkap sarjana Menejemen Pemasaran ini.

Disinggung tentang jenjang karier, Dwisa mengungkapkan, predikat tingkat nasional itu tidak lepas dari upayanya meningkatkan kualifikasi. Baik melalui serangkaian latihan hingga lewat tes. Sehingga memperoleh kualifikasi tersebut.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya