Generasi Sandwich Harus Cari Sumber Penghasilan Baru


Generasi sandwich (Baca: Roti Lapis) diperkirakan dapat mengalami kesulitan ekstra dalam mengatur keuangan selama masa pandemi. Perubahan pola konsumsi dan pengaturan kembali keuangan bulanan harus dilakukan secara lebih tepat guna. Beban berat yang harus ditanggung sebenarnya masuk akal. Dilihat dari keberadaannya saja, generasi ini berada pada posisi yang terjepit di tengah-tengah.

Istilah generasi sandwich pertama kali dikenalkan Dorothy A. Miller pada 1981 silam. Kala itu, melalui tulisannya di Jurnal Social Work, Dorothy memperkenalkan keberadan generasi sandwich sebagai sebutan bagi mereka yang terjepit di antara tanggungjawab terhadap orangtua dan keluarga barunya.

Baca Juga: Saiman Gambus Misri Sudah Mendarah Daging

Generasi sandwich banyak mendapat tekanan karena mereka harus memenuhi kebutuhan orangtua yang sudah berumur lanjut. Pada saat bersamaan, generasi ini juga menjadi tulang punggung keluarga barunya. Beban ganda yang harus ditanggung menjadikan generasi sandwich terjepit. Jika diibaratkan, persis seperti daging dan isi roti sandwich yang ditekan dari atas dan bawah.

Di masa pandemi Covid-19, beban generasi ini bisa jadi bertambah lebih banyak. Apalagi jika mereka terdampak perubahan kondisi ekonomi yang terjadi, entah dirumahkan atau terkena PHK.



Bertambahnya beban hidup generasi sandwich dapat dilihat dalam tabel tersebut. Survei terhadap 1.343 responden, menemukan fakta bahwa 93 persen responden generasi sandwich memiliki tanggungan cicilan atau hutang. Jumlahnya lebih besar dari rasio hutang generasi non-sandwich, yakni 84 persen dari total responden.

Ditelusuri lebih dalam, ada 52 persen generasi sandwich yang harus memenuhi iuran rutin BPJS Kesehatan keluarga dan orangtuanya. Kemudian, 33 persen generasi ini juga harus menanggung cicilan sepeda motor dan 30 persen bertanggungjawab terhadap utang keluarganya di bank.

Hanya 45 persen dari seluruh generasi sandwich yang mengaku rutin mengeluarkan uang untuk melunasi utang dirinya sendiri. Sisanya, generasi ini yang harus menyisihkan pendapatan tiap bulan untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga inti, orangtua, atau keluarga besar.

Permasalahan muncul dalam riset yang sama, ditemukan fakta 68 persen generasi sandwich mengalami penurunan pendapatan selama pandemi Covid-19. Rasio yang sama juga ditemukan pada kelompok responden non-generasi sandwich. Akan tetapi, jelas beban hidup mereka lebih ringan dibanding orang-orang yang termasuk generasi sandwich.



Sebanyak 70 persen generasi sandwich mulai membuka tabungannya demi menutup seluruh kebutuhan. Kemudian, 54 persen dari mereka yang punya dana cadangan mulai menggunakan alokasi darurat.

Bahkan, 36 persen dari generasi ini mengaku sudah mulai berhutang demi menjaga kebutuhan keluarga. Mereka mencari hutang melalui kerabat terdekat, bank, atau layanan teknologi finansial.

Sumber Penghasilan Baru

Selain berhutang dan membuka tabungan, ada juga generasi sandwich yang mulai berusaha memenuhi kebutuhannya dengan menjual berbagai barang atau makanan. Usaha dalam mencari sumber pendapatan baru ini disarankan agar dilakukan masyarakat, terutama bagi mereka yang sama sekali tak berpenghasilan di kala pandemi Covid-19.

Perencana Keuangan Independen, Ahmad Gozali mengatakan sumber pendapatan baru atau tambahan wajib dimiliki masyarakat, khususnya bagi yang penghasilannya turun 50 persen lebih. Sumber penghasilan baru yang bisa dilakukan, misalnya, dengan menjual berbagai barang atau makanan yang laku secara musiman.

Gozali berpendapat, produk semacam masker, disinfektan, dan paket internet termasuk dalam contoh sumber penghasilan musiman, karena permintaannya diyakini akan surut ke depannya.

Daripada menjual barang tersebut, masyarakat khususnya generasi sandwich disarankan lebih memilih produk jualan lain yang memiliki prospek jangka panjang. Produk-produk ini contohnya makanan, produk segar hasil olahan, dan makanan beku yang distribusinya mengandalkan layanan antar.

Atur Keuangan

Secara umum, Gozali mengelompokkan kemampuan masyarakat untuk bertahan hidup selama masa darurat dari 3 variabel kunci. Ketiganya yakni rasio dana cadangan yang dimiliki, cicilan eksisting (Pembiayaan Tunai), dan jumlah penghasilan.



Dia menyebut seseorang masih bisa bertahan hidup meski pendapatannya turun hingga 30 persen di masa darurat. Syaratnya, orang terkait tak memiliki cicilan utang berlebihan. Jika penghasilan seseorang berkurang 50 persen lebih, maka ia masih bisa bertahan hidup asal tak memiliki hutang sama sekali.

Apabila penghasilan seseorang berkurang 30 persen, dan cicilan eksistingnya mencapai 35 persen dari pendapatan, maka dana cadangan harus digunakan orang tersebut untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam masa serba tidak menentu saat ini, pengaturan kembali pos pengeluaran harus dilakukan. Terutama oleh generasi sandwich dan mereka yang tak bekerja karena PHK atau dirumahkan.

Dalam pandangan Gozali, pengaturan ulang pos pengeluaran harusnya bisa dilakukan, karena masa bekerja dan berkegiatan dari rumah diyakini turut mengurangi biaya hidup hingga 30 persen. Pengurangan ini berasal dari efisiensi biaya transportasi, makan di luar, serta budget bersosialisasi.

Akan tetapi, pengaturan ulang pos pengeluaran diakui sulit dilakukan generasi sandwich yang pada dasarnya sudah memiliki beban hidup besar. Karena itu, generasi ini disarankan mulai lebih efektif lagi menggunakan dana cadangan.

Sumber/Rewrite: lokadata.id/Tiyas Aprilia