Menentukan Formulasi yang Tepat Tahun Pelajaran Baru


JOMBANG – Belum adanya angin segar soal penurunan penderita Covid-19/Korona membuat agaknya keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makariem di nilai penuh resiko. Selain belum besar prosentase kesembuhan dan matinya mata rantai penyebaran, malah akan memperbesar resiko penularan.

Hal itu diamini oleh Pengamat Pedidikan Jombang, M. Thamrin Bey yang mencoba memahami tidak secara datar. Melainkan harus utuh mulai peserta didik berangkat dari rumah hingga ke sekolah. Interaksi yang terjadi selama perjalanan itu sangat memungkinkan terjadinya penularan yang masif. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum yang berpotensi adanya pengumpulan banyak orang.

“Oleh karena itu, pastikan dulu di tiap daerah. Sekarang ini sudah banyak daerah yang masuk zona merah. Kalau tetap dilakukan pembelajaran di sekolah, akan menimbulkan malapetaka lebih mengerikan lagi,” ungkap Dosen STIE Dewantara Jombang ini.

Baca Juga: Jawa Sedikit Zona Hijau dan Kuning Korona

Senada dengan M. Thamrin Bey, Aktivis Pendidikan Jombang, Asymuni Sukir, M.Si juga melihat kondisi ini terlalu dipaksakan. Butuh pelbagai sekenario agar pembelajaran peserta didik tetap berjalan maksimal dan optimal. Mulai dari infrastruktur pendukung hingga pengalihan strategi pembelajaran menyesuaian kondisi sekarang ini. Jangan sampai terjadi blunder hanya akibat memaksakan melangsungkan tahun ajaran baru seperti biasanya.

Padahal era Mendikbud RI, Daoed Joesoef tahun 1978 hingga 1983 pernah menggeser tahun pelajaran mulai Juli 1979 melalui UU 0211/U/1978. Ada tiga pertimbangan yang diungkapkan oleh Mendikbud RI pada kabinet Order Baru tersebut seperti yang disampaikan oleh kumparan.com. Pertama, terjadi kesulitan proses perencanaan pendidikan kalau jatuh pada Bulan Januari. Hal itu di lihat pada tutup buku anggaran, banyak laporan yang kontras. Kedua, menyamakan dengan tahun pelajaran baru di luar negeri. Harapannya akan memudahkan peserta didik jika ada yang melanjutkan pendidikan di sana. Ketiga, libur panjang Bulan Desember bertepatan dengan musim penghujan. Ini pertimbangan lain Daoed Joesoef yang berkeinginan peserta didik benar-benar dapat menikmati liburannya.

Selain itu berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terhadap 602 reponden guru terhadap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ditemukan kendala utama adalah perangkat yang digunakan dan akses jaringan internet. Dikatakan oleh Komisioner KPAI, Retno Listyarti kalau kendala itu masih belum bisa diselesaikan dalam kurun waktu dekat, terpaksa untuk capaian pembelajaran wajib di rubah tidak sama seperti pembelajaran normal biasanya.

“Sudah menjadi keluhan banyak orang tua dan peserta didik, PJJ masih beroientasi pada penilaian belaka. Sekedar memberikan tugas semata tanpa mengganti dengan sejumlah kegiatan bermakna,” terang perempuan berhijab ini seperti yang dilansir dalam cnnindonesia.com.

Untuk itu dia menilai sebaiknya sekarang ini selain mengundur tahun pelajaran bisa juga tetap melakukan PJJ. Sebab situasi sekarang belum menunjukkan perubahan yang baik terkait penyebaran Korona. Hanya saja perlu perubahan orientasi hingga pencapaian pembelajaran. Ditambah dengan pelatihan kepada guru harus diberikan mengenai penggunaan serta pemanfaatan media pembelajaran berbasis Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) dengan menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Kalaupun terpaksa harus mundur tahun pelajarannya, maka formulasi baru harus disiapkan dengan matang. Hal ini agar nantinya ketika dilaksanakan sudah siap dan tidak sampai terjadi pelbagai permasalahan. Waktu jeda lebih kurang enam bulan bisa digunakan dalam mempersiapkan dan memberikan materi bermanfaat bagi peserta didik baik baru maupun lama dengan tetap PJJ.

Reporter/Foto: Aditya Eko P./Dok.MSP