JOMBANG – Di balik musibah masih ada hikmah yang dapat di petik. Laiknya merebaknya penyebaran Korona di Kota Santri, memunculkan inovasi menggerakan geliat pasar tradisional untuk berjualan secara online. Hal ini sebagai salah satu cara mumutus mata rantai penularan, dengan banyak orang yang belum diketahui riwayat perjalanan atau interaksinya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang, Bambang Nurwijayanto mengungkap bahwa ini merupakan salah satu wujud upaya dalam menghentikan penyebaran Korona. Selain itu paling tidak membuat laju ekosistem di pasar tradisional tetap berjalan.

“Mekanismenya ditunjuk pedagang beberapa kebutuhan pokok yang mengakomodir/mengorganisasikan, kemudian jika ada pembeli yang pesan maka segera disiapkan dan diantar,” ungkap Bambang Nurwijayanto.

Baca Juga: Waspada Perubahan Iklim Terhadap Kesedian Beras

Sementara promisi taktisnya menggunakan jaringan sosial media dan getok tular, dari mulut ke mulut dirasakan paling efektif. Jadi tidak perlu repot juga harus menghindari penutupan jalan ataupun kebijakan di tiap desa. Pada prinsipnya tak ada ubahnya dengan berjualan online yang sudah lumrah berlaku selama ini.

Baik pedagang maupun pembeli langsung bertransaksi, sekaligus menjamin kualitas bahan. Biasanya lebih awal dengan mengirimkan bahan yang akan di beli, selanjutnya terjadi tawar menawar hingga perhitungan keseluruhan dengan biaya antarnya.

“Meski ditinjau dari tingkat daya beli pengunjung yang berkurang antara 60% hingga 70%, harga barang stabil masih menjadi pilihan konsumen untuk memilih pasar tradisional. Sehingga optimis melakukan inovasi perkembangan pasar menjadi tujuan atas keberadaan pasar tradisional,” jelas Bambang Nurwijayanto.

Kepala Pasar Pon Jombang, Hariono mengungkapkan sekarang ini transaksi lebih berkembang malahan. Pembeli sebelum datang menghubungi terlebih dahulu pedagang yang biasanya sudah menjadi langganannya mengutarakan membutuhkan sejumlah bahan. Tanpa ada tawar menawar yang panjang, berikutnya disiapkan dan tak selang lama di ambil oleh pembeli langsung dari depan pintu gerabang tanpa harus turun dari kendarannya.

Hariono mengatakan, “Sudah mirip dengan membeli ala drive true. Datang langsung pulang.”

Adanya pasar online seperti ini ternyata pendapatan rata-rata per harinya meningkat. Kalau sebelum adanya mekanisme daring ini perolehan sehari sekitar 718 ribu rupiah, sekarang mencapai hingga 740 ribu rupiah. Sekarang ini di Pasar Pon terdapat 76 toko, 340 pedagang dengan lapak, 400 pedagang lesehan, 140 pedagang ayam.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.
Sebelumnya Berikutnya