PETERONGAN – Di ruang tamu yang tak begitu luas itu, meteran kain spunbound diukur dan dipotong sesuai ukuran. Jumlahnya pun dihitung dengan teliti sebelum dipindahkan untuk menjalani proses selanjutnya, yakni penyablonan desain gambar. Selesai proses sablon, kemudian dibagikan pada empat penjahit untuk dirangkai hingga membentuk sebuah tas yang siap digunakan.

Rutinitas itu yang hampir setiap hari dijalankan oleh pasangan suami istri, Don Albertus Agung dan Denok Ria Kuswati. Di rumahnya, di Dusun Pagotan, RT.05/RW.03, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan, pasangan suami istri itu memang menerima pesanan pembuatan tas kain untuk hajatan, souvenir, seminar, dan sebagainya.

Meski seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual, namun Denok Ria Kuswati berani memberi jaminan bahwa pengerjaan tas produksinya memiliki kualitas yang baik. Sablon halus dan jahitan rapi serta kuat.

“Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang di rumah. Saya ambil jahitan borongan tas di tempat orang lain. Namun kemudian suami menawarkan untuk mencoba usaha sendiri. Alhasil dengan sedikit nekat, kami pun akhirnya membuka usaha ini,” urai Denok Ria Kuswati mengawali cerita.

Selaiknya orang baru membuka usaha, belum semua proses dilakukan sendiri. Di awal usahanya, Denok Ria Kuswati menyerahkan proses penyablonan pada pihak ketiga. Hanya pemotongan dan penjahitan yang dilakukan sendiri. Penjahitan pun tidak sepenuhnya dilakukan sendiri. Ibu dua anak itu sudah mencari penjahit lain untuk membantu.

Namun di pertengahan 2018, sebanyak delapan rol (setara dengan 2.400 buah) pesanan mengalami kesalahan saat proses penyablonan. Namun kala itu pihak penyablon tidak mau turut bertanggung jawab.

“Dari kejadian itu saya akhirnya nekat juga untuk belajar sablon. Belajarnya juga otodidak. Dari video-video yang ada di internet,” tambah Don Albertus Agung.

Lantaran seluruh proses produksi tas masih menggunakan metode manual sejak pemotongan, sablon, hingga penjahitan. Denok Ria Kuswati selalu menekankan kepada pelanggan atau calon pemesannya untuk tidak memesan dalam tenggat waktu yang mendadak.

Ibu dua anak itu memberikan perkiraan waktu pengerjaan waktu satu minggu untuk jumlah pesanan di angka sekitar seratus buah. Semakin banyak jumlah pesanan, maka perlu semakin banyak waktu juga yang dibutuhkan.

“Namun yang namanya pelanggan apalagi jika itu dari organisasi atau instansi rata-rata selalu minta cepat. Akibatnya kami harus rela lembur untuk bisa menyelesaikan pesanan,” ungkap Denok Ria Kuswati.

Baca Juga: Wisata Wonosalam Mulai Bergeliat

Meski seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual, namun Denok Ria Kuswati berani memberi jaminan bahwa pengerjaan tas produksinya memiliki kualitas yang baik. Sablon halus dan jahitan rapi serta kuat.

Jika sedang ramai pesanan, pasangan suami istri itu bisa mengerjakan sekitar tiga ribu buah tas dalam satu bulan. Sementara jika sedang sepi, minimal pesanan tigaratus tas masih bisa masuk dan dikerjakan. Selain bersama dengan sang suami, Denok Ria Kuswati juga dibantu empat orang lain untuk proses menjahitnya.

Internet dan media sosial menjadi sarana untuk mempromosikan produk buatannya. Melalui akun Facebook dan Instagram “Tas Spunbound Jombang”, Don Albertus Agung membagikan gambar hasil produksi usahanya.



Hasilnya, pesanan mengalir tidak hanya dari sekitaran Jombang. Melainkan merambah ke kota atau kabupaten lain. Menariknya, Don Albertus Agung dan Denok Ria Kuswati mengisahkan jika pelanggan pertama mereka dulu justru berasal dari luar pulau, tepatnya dari Batam.

“Selain dari internet, pemesan juga datang dari getok tular pelanggan yang sudah biasa memesan tas di sini,” tambah Denok Ria Kuswati.

Saat ditanya mengenai rentang harga tas kain buatannya, Denok Ria Kuswati menyebut di kisaran harga Rp 3 ribu sampai Rp 4.500 untuk satu buah tas dengan desain sablon satu warna. Namun harga bisa berubah tergantung pada ukuran tas dan kerumitan desain saat penyablonan.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini
Sebelumnya Berikutnya