TEMBELANG – Bertandang ke Desa Bedahlawak, Kecamatan Tembelang rasanya mata dibuat segar. Hamparan hijau daun sawi yang tumbuh subur dengan pola hidroponik. Memang belakangan warga Desa Bedahlawak serentak mengembangkan pola pertanian hidroponik sebagai upaya pemberdayaan ekonomi.

Kepala Desa Bedahlawak, Masrum mengakui, “Sejak awal 2020 warga sepakat untuk meningkatkan perekonomian melalui pertanian hidroponik. Paling tidak memberikan tambahan penghasilan untuk peningkatan perekonomian.”

Dipilihnya model pertanian ini tak lain karena kemudahan dalam perawatannya. Senyampang itu tidaklah membutuhkan lahan yang luas, cukup dipelataran rumah saja. Masrum menambahkan, ketika kesepakatan sudah didapat berikutnya pelatihan dan praktik. Hasilnya semua serentak menerjuni secara langsung sehingga kedepan bisa mandiri mengelolanya.

Dipilihnya model pertanian ini tak lain karena kemudahan dalam perawatannya. Senyampang itu tidaklah membutuhkan lahan yang luas, cukup dipelataran rumah.

Walaupun demikian, Desa Bedahlawak tidak kemudian lepas tangan begitu saja saat warga telah mampu bertani hidroponik sendiri. Melalui kader Pemberdayaan Kesejaheraan Keluarga (PKK) Desa Bedahlawak membantu dalam pemasarannya. Mulai dari membangun jaringan hingga branding produk agar lebih diminati pasar.

“Secara berkala oleh pemuda desa yang ditunjuk akan dikontrol. Hal itu tak lain guna memastikan kualitas sawi hidroponik yang ditanam agar merata. Tak sampai ada ketimpangan misalanya dari segi ukuran,” tegas Masrum.

Petani Hidroponik Desa Bedahlawak, Miftachol Ilmi menerangkan, pemberdayaan warga dengan menanam melalui media hidroponik ini membuka pintu usaha di bidang pertanian. Karena proses perawatan yang tak sulit serta waktu panen hanya cukup 25 hari. Sudah begitu keuntungan yang dirasakan bisa dua sampai tiga bulan. Modal awal yang dikeluarkan pun tergantikan dan bahkan lebih.

Baca Juga: Dampak Negatif Media Sosial Terhadap Remaja


Miftachol Ilmi menambahkan, “Sawi yang saya tanam pasti laku terjual dari pembeli yang mayoritas memesan online. Sehingga tanpa harus datang serta menjajakan ke pasar. Mendekati masa panen, sawi saya sudah ada yang memesan dan tinggal kirim.”

Kedepan ditargertkan satu Rukun Tetangga (RT) akan memiliki satu lahan yang panjangnya delapan meter dengan minimal 400 bibit. Sehingga dengan jumlah 19 RT yang totalnya 920 Kepala Keluarga (KK) akan memiliki lahan tanaman hidroponik sawi dan berpenghasilan setiap sebulan sekali dengan nominal kurang lebih Rp 1 juta.

Berkat kerjakeras, kini Desa Bedahlawak di kenal sebagai Kampung Hidroponik Seroja. Kepanjangan dari Sejahtera, Barokah, dan Jaya diresmikan oleh Menteri Desa (Mendes), Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar pada Sabtu (29/8).

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y. 

Sebelumnya Berikutnya