Perempuan paruh baya sedang me-nyunggi di sentra kuliner Sermier Kayangan. (Adit)

Perempuan. Para puan. Wanita. Atau apa saja panggilan yang disandangkan pada keturunan Hawa. Konon, karena Hawa, Adam harus terusir dari surga. Begitulah kisah yang kita dengar dalam ajaran agama.


Namun justru karena perempuan pula kita hadir di dunia. Dari rahim merekalah kehidupan bermula. Kita mengenalnya dengan satu nama yang paling sederhana namun sakral: ibu. Sosok hebat yang melahirkan kita ke dunia yang fana ini.


Dari rahim seorang ibu pula lahir nama-nama besar yang kelak menjadi panutan umat manusia. Dari sanalah hadir Muhammad, Yesus Kristus, hingga Siddharta Gautama – tokoh-tokoh yang ajarannya menuntun jutaan bahkan miliaran manusia di seantero dunia.


Namun perempuan tidak hanya hadir sebagai ibu. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga tampil sebagai sosok yang tangguh. Mereka bekerja, berjuang, memimpin, bahkan melakukan banyak hal yang selama ini kerap dianggap sebagai wilayah laki-laki.


Sejarah juga mencatat perempuan-perempuan yang berani menembus batas zamannya. Kita mengenal sosok Raden Ajeng Kartini. Dalam banyak literatur, ia dikenal gigih memperjuangkan agar perempuan memperoleh hak untuk belajar. Pada masanya, ia menolak anggapan bahwa perempuan harus hidup dalam kebodohan. Karena itulah Kartini menggagas pendidikan bagi kaum perempuan.


Setelah Kartini wafat, semangat itu tidak berhenti. Perjuangannya dilanjutkan oleh Dewi Sartika yang juga mendirikan sekolah bagi perempuan. Pada masa itu, gagasan tersebut dianggap tak lazim, bahkan oleh sebagian orang dipandang mustahil. Bagaimana mungkin perempuan bersekolah, apalagi belajar bersama laki-laki?


Namun, waktu akhirnya membuktikan bahwa keberanian mereka tidak sia-sia. Berkat perjuangan tokoh-tokoh seperti Kartini dan Dewi Sartika, perempuan kini memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menempuh pendidikan dan berdiri sebagai kalangan terpelajar.


Hari ini perempuan hadir di berbagai ruang kehidupan. Mereka mengurus rumah tangga, tetapi pada saat yang sama juga mampu berdiri di ruang-ruang publik. Mereka menjadi guru, pengemudi ojek daring, pembuat genteng, pemimpin, pekerja keras, bahkan tulang punggung keluarga. Kekuatan mereka sering kali dipandang sebelah mata. Namun justru dari sanalah terlihat ketangguhan yang sesungguhnya.


Karena itulah perempuan layak disebut perkasa. Bukan karena mereka ingin menandingi laki-laki, tetapi karena mereka mampu menjalankan begitu banyak peran dalam hidup sekaligus.



Barangkali dari sinilah kita perlu lebih sering menyoroti kisah-kisah perempuan yang kuat, yang berani, yang menginspirasi. Perempuan-perempuan perkasa yang hadir di sekitar kita, tetapi sering luput dari perhatian. /
* Dimas Bagus Aditya

#EdisiHariKartini
Lebih baru Lebih lama