Revitalisasi Pasar Tradisional Menjawab Tantangan Modern


Pasar tradisional secara perdana hadir sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan masyarakat karena faktor kedekatan. Kolaborasi kedekatan dengan perkembangan teknologi ditambah adanya gagasan baru, menjadi faktor hadirnya pasar modern.

JOMBANG – Pasar menjadi satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur untuk usaha menjual barang, jasa serta tenaga kerja. Penunjang kebutuhan ini berkembang secara fleksibel melalui permintaan masyarakat yang sudah merasakan kemudahan melalui pertumbuhan teknologi.

Pasar tradisional secara perdana hadir sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan masyarakat karena faktor kedekatan. Kolaborasi kedekatan dengan perkembangan teknologi ditambah adanya gagasan baru, menjadi faktor hadirnya pasar modern.

Kasi Pemeliharaan dan Pengembangan Dinas Perdagangan Kabupaten Jombang, Mahmudi menjelaskan, “Saat ini yang menjadi tujuan utama ialah membentuk perkembangan pasar tradisional dengan eksistensinya yang khas agar tidak tergilas oleh persaingan penjualan. Melalui metode Ambil Tiru Modifikasi (ATM) beberapa hal yang menjadi kelebihan pasar modern.”

Mahmudi juga menambahkan, metode ATM ini kemudian dikemas dalam bentuk pengaturan secara zonasi. Secara umum terdapat empat jenis zonasi, yaitu basah, kering, khusus dan puja sera atau Pedagang Kaki Lima (PKL). Zonasi basah terdiri dari dagangan daging, sayuran, buah dan ikan. Sedangkan zonasi kering dikhususkan untuk jenis dagangan konveksi, gerabah, peralatan rumah tangga serta alat elektronik. Pengelompokkan berikutnya yakni zonasi khusus yang mengkatagorikan bentuk barang penjualan tangan kedua (bekas) sesuai tahun buku izin diterima dan juga perdagangan hewan.




Kasi Penerimaan dan Pendataan Dinas Perdagangan Kabupaten Jombang, Muhammad Donny Ardyansyah, SSTP.,MM. menyatakan, “Hal ini memberikan satu jawaban, bahwa masyarakat ialah konsumen yang segmentif. Jika pasar tradisional memiliki zonasi yang jelas, maka minat masyarakat berbelanja akan semakin tinggi.”

Selain itu, imbuh Donny, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi pasar tradisional kehilangan tempat di hati masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Penyebabnya adalah semakin terbatasnya waktu berbelanja di pasar tradisional dan di saat bersamaan pula supermarket di dekat permukiman kian menjamur. Berkat segala fasilitas kenyamanan, kemudahan, serta kelengkapan di dalamnya, pada akhirnya mampu mengalihkan pilihan sejumlah masyarakat untuk berbelanja ke supermarket, walaupaun harga setiap barang relatif lebih mahal.

Guna mengantisipasi hal tersebut, pasar tradisional harus berbenah dalam segala aspek. Mulai dari menjaga kualitas barang dagangan, pengaturan zonasi, sistem pelayanan hingga menjaga lingkungan pasar supaya lebih bersih dan nyaman.

Sebagai upaya revitalisasi pasar, Dinas Perdagangan Kabupaten Jombang juga memberikan dukungan secara langsung dengan membangun Pasar Sehat dilengkapi beberapa fasilitas penunjang lainnya. Seperti penyediaan tong sampah di setiap penjuru pasar lengkap beserta keamanan.

Keberadaan Pasar Sehat ini digadang-gadang akan menjadi pasar yang mengedepankan kebersihan lingkungan. Seperti pengolahan limbah sampah dan air bekas pencucian barang dagangan, terutama daging. Di tahun 2019 mendatang terdapat lima pasar yang akan menjadi fokus utama, diantaranya adalah pasar Mojoagung, Peterongan, Bareng, Perak dan Ploso.

“Serangkaian usaha tersebut dilakukan supaya pasar tradisional bisa terus bertahan dan diminati masyarakat, sebab terdapat beberapa hal menarik yang tidak didapatkan selama berbelanja di supermarket. Salah satunya yakni solidaritas antar penjual serta proses jual beli terjadi secara langsung mengakibatkan terjadinya tawar menawar dan jam buka lebih awal, tepatnya pukul 00.00 WIB,” pungkas Muhammad Donny Ardyansyah.  chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.