Arsitektur Eropa Memiliki Ciri dan Filosofi


Jendela pada rumah khas Eropa pada dasarnya memiliki ukuran yang besar. Bentuknya bisa menyerupai persegi panjang dengan sudut-sudut yang tegas atau persegi panjang dengan bagian melengkung pada bagian atasnya.
 
NGORO – Kebesaran bangsa Eropa sangat tampak di Indonesia. Hal itu wajar saja karena negeri gemah ripah nan loh jinawi ini dahulu cukup sering dijajah oleh negara-negara dari benua biru tersebut. Mulai dari Portugis, Belanda, hingga Spanyol. Sehingga banyak peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Diantaranya adalah gaya asitektur rumah di Jalan Raya Blimbing-Pulorejo, Ngoro yang berada disebelah Selatan Balai Desa Pulorejo.

Penandanya diantaranya memiliki pekarangan yang luas di halaman depan. Demikian pilar penyangga ukurannya relatif besar. Biasanya ada di bagian luar dan dalam yang mempunyai fungsi berbeda. Misalnya di bagian dalam seringkali digunakan sebagai pembatas masing-masing ruangan. Sedangkan di bagian luar diperuntukan akses masuk ke rumah serta seringkali berbetuk silinder atau hexa.

Demikian Jendela pada rumah khas Eropa pada dasarnya memiliki ukuran yang besar. Bentuknya bisa menyerupai persegi panjang dengan sudut-sudut yang tegas atau persegi panjang dengan bagian melengkung pada bagian atasnya.

Saking besarnya ukuran jendela rumah kadang menjulang melebihi tinggi orang dewasa. Biasanya, kaca jendela ini dikombinasikan dengan teralis. Bagian dalamnya dihiasi dengan tirai berbahan tebal yang menjuntai. Jendela dilapisi dengan dua buah daun pintu atau bagian atasnya diberi atap kecil untuk menghalau sinar matahari dan air hujan


“Rumah ini sudah ada sejak tahun 1950-an, dulunya pemilik rumah ini adalah seorang Kepala Desa Pulorejo yang pertama. Di masa lampau sang kepala desa terkenal memiliki keturunan cukup banyak, sesuai kepercayaan orang di masa lampau bahwa semakin banyak anak maka dibarengi dengan rezekinya pula. Hanya saja semuanya sudah memiliki kediaman masing-masing di luar kota,” jelas perempuan yang diamanahi menempati dan merawat rumah kuno, Aminah.

Setelah sang buah hati sebagai pewaris rumah memiliki kesibukan sendiri, bangunan diamanahkan ke beberapa orang untuk dimanfaatkan sebagai ruang menyelenggarakan aktivitas pendidikan masyarakat. Sempat pula dijadikan sebagai gedung kesenian, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), PAUD dan TK hingga sekarang.

Rekan Aminah sekaligus Kepala TK yang menempati saat ini, Suwati menambahkan, “Di antara semua pembagian tersebut, bagian terluas berada pada ruang berkumpul keluarga. Karena orang zaman dahulu lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga daripada berdiam diri di dalam kamar.”

Disampaikan dalam penelitian Mayu Dwi Anjani tentang Desain Elementer Ruang Keluarga menyebutkan ruang yang paling besar dari bagian rumah pada zaman dahulu biasanya adalah ruang keluarga yang sekaligus berfungsi sebagai tempat berkumpul anggota keluarga yang juga merupakan pertemuan (pusat) antara ruang-ruang lainnya, seperti ruang tamu, kamar tidur, dan menuju teras belakang.

Semakin ditegaskan dengan pemisahan kamar mandi dengan bagian utama rumah. Pola organisasi ruang dibuat berdasarkan tingkatan atau nilai masing-masing ruang yang terurut mulai dari area publik menuju area private. Pembagian ruang simetris dan menganut pola closed ended plan yaitu simetris keseimbangan yang berhenti dalam suatu ruang. Menariknya saat menuju ke kamar mandi, mata dimanjakan dengan tanaman hias di sepanjang lorong. fakhruddin

No comments

Powered by Blogger.