Gerakan Literasi Santri Pondok Pesantren Al Anwar


Siti Sa’adah, S.Pd., pustakawan disana merasa gelisah. Mengingat membaca merupakan bagian dari aktivitas santri. Sehingga bilamana untuk membaca buku ataupun jenis bacaan lain saja sulit, bagaimana dengan memahami bacaan yang bertuliskan huruf Arab.

DIWEK – Pondok Pesantren (Ponpes) selalu lekat dengan pendidikan keagmaan. Para santri mempelajari pelbagai keilmuan agama utamanya Islam. Baik secara merenik melalui Alquran dan Hadist, atau kitab-kitab lain dilanjutkan dengan mengaplikasikannya. Tentunya tujuannya bukan saja supaya memperdalam keilmuan para santri saja, melainkan sebagai bekal kelak berdakwah di tengah masyarakat.

Walaupun begitu pelbagai informasi lain pun harus diperoleh sebagai rujukan dalam melihat persoalan agar lebih bijaksana. Tentunya dengan cara membaca seperti yang diperintahkan dalam Islam yakni Iqro’, bacalah. Oleh karena itu, santri harus mampu melahap bermacam-macam jenis bacaan supaya selalu mendapatkan banyak referensi serta memperdalam wawasannya.

Namun kondisi yang terjadi di Ponpes Al Anwar, Paculgowang, Diwek sebaliknya, gairah membaca belum tumbuh begitu pesat dari para santri. Perpustakaan yang disediakan ponpes minim pungunjung. Begitu pun koleksi bukunya tidaklah banyak. Bisa jadi hal itu yang menjadi alasan sejumlah santri enggan berkunjung dan membaca disana. Bahkan memang tidak ada kerentek (Jawa: Keinginan).


Baca Juga : SMK Negeri 3 Jombang Berinovasi Melahirkan Teknologi Tepat Guna


Siti Sa’adah, S.Pd., pustakawan disana merasa gelisah. Mengingat membaca merupakan bagian dari aktivitas santri. Sehingga bilamana untuk membaca buku ataupun jenis bacaan lain saja sulit, bagaimana dengan memahami bacaan yang bertuliskan huruf Arab. Walaupun telah menguasai namun kurangnya etos dalam berliterasi sehingga hanya sebatasnya saja. Untuk itu guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tembelang menjajal pelbagai cara agar menarik minat santri berkunjung ke perpustakaan dan membaca disana,

“Berawal dari saya menjadi petugas perpustakaan pada tahun 2009 silam. Selama saya menjaga di perpustakaan tersebut, tidak banyak para santri yang mengunjungi untuk membaca buku-buku di situ. Saya merasa prihatin mengani hal tersebut. Terlebih buku-buku yang tersedia di perpustakaan juga tergolong masih sedikit,” keluh Siti Sa’adah.

Akhirnya berinisiasi untuk membawa buku koleksi pribadinya untuk ditawarkan kepada peserta didiknya untuk dibaca. Alhasil idenya tersebut ditanggapi dengan antusias oleh peserta didiknya. Berhubung buku yang dia bawa hanya sedikit, maka Siti Sa’adah mengadakan lomba agar mendapatkan hadiah buku darinya.

“Lombanya ialah menulis tentang seseorang yang ada di sekolah, entah itu guru, teman atau siapapun. Nanti hadiahnya adalah membaca buku, bukan mendapatkan buku. Tidak disangka banyak dari peserta didik saya yang antusias mengikutinya dari MTs hingga MA,” kata perempuan yang berdomisili di Kecamatan Perak tersebut.

Seiring berjalannya waktu, banyak karya-karya yang dihasilkan oleh santri binaannya tersebut. Agar semakin menambah semangat mereka dalam menulis dan mampu berimbas kepada teman-temannya, tidak tanggung-tanggung Siti Sa’adah mengirimkan tulisan peserta didiknya untuk dimuat di media massa, seperti koran, majalah, bahkan Online. Metode tersebut menurutnya sangat efisien untuk mengembangkan karya menulis peserta didiknya.

Tak heran jika saat ini, kumpulan karya-karya didikannya sudah dapat menghasilkan buku, bahkan sudah ada yang ISBN. Menurutnya, pada dasarnya tidak sulit menerapkan budaya literasi terhadap anak. Caranya adalah dengan menyuruh anak membaca buku apa saja yang dia sukai, dengan cara itu anak tidak terbebankan dengan apa yang di bacanya. Namun peran guru atau orangtua adalah mengontrol buku bacaan yang sesuai dengan usia mereka.

“Merespon positif dukungan kepada para santri agar melek literasi, itu artinya zaman sekarang berada dalam zona banjir informasi. Sesungguhnya prestasi terbaik tidak hanya di bidang kajian Agama, namun yang paling terlihat adalah bisa memaksimalkan karya jurnalistik yang nyata. Agar senantiasa berhati-hati serta bisa mefilterisasi dampak dari pesatnya dunia informasi saat ini,” ujarnya. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.