Penanganan Stres Peserta Didik


Penanganan stres mampu diatasi dengan empat cara, diantaranya membiasakan diri dengan situasi rutinitas. Ketika seseorang sudah terbiasa maka membentuk sebuah prilaku, dan jika tak mampu beradaptasi bisa menjadi stres yang semakin meningkat.

CH. Widayanti, S.Psi.,M.Si.,M.Psi.*)

JOMBANG – Tekanan belajar di sekolah akan berakibat timbulnya stres peserta didik. Meski terkesan biasa saja, tetapi sesungguhnya terdapat beban yang di emban oleh peserta didik. Baik dari dalam dirinya yang terpacu dalam menggapai target tertentu serta dari aspek di luar dirinya. Misalkan orang tua atau lingkungan peserta didik tumbuh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa orangtua seringkali memberikan beban berlebih peserta didik tanpa mengetahui kemampuannya sebelumnya. Demikian lingkungannya yang telah terbiasa dengan iklim kompetisi yang tinggi, kerab menjadikan beban tersendiri walaupun sesungguhnya tidak ada yang menginginkannya seperti itu. Tapi dengan kesadaran dalam batin peserta didik mendorong untuk tidak mau tertinggal bahkan kalah dari rekan-rekan lainnya.


Baca Juga : HBH: Ikhlaskan Khilaf

Oleh karena itu, stres dapat dibagi menjadi dua yakni berdasrkan keinginan egomotif dan egoelien. Penjelasannya, keiingin egomotif seperti diungkapkan diatas berasal dari dalam dirinya (internal), sedangkan egoelien berasal dari luar (eksternal). Keduanya memberikan pengaruh kuat terhadap pesreta didik khususnya dalam konteks pembelajaran di sekolah.

Guna menghindari keduanya maka diperlukan kesepahaman dan kesepakatan yang dijalin baik dari sisi internal maupun eksternal. Artinya, peserta didik harus memahami dirinya sendiri dan mampu menjangkau target pembelajaran selaiknya batas kamampuan diri. Begitu juga dari sisi ekstrenal, menyadari kemampuan peserta didik sehingga tidak memberikan justifikasi atau tekanan berlebih karena sudah mengetahui dasar kemampuannya.

Penanganan stres mampu diatasi dengan empat cara, diantaranya membiasakan diri dengan situasi rutinitas. Ketika seseorang sudah terbiasa maka membentuk sebuah prilaku, dan jika tak mampu beradaptasi bisa menjadi stres yang semakin meningkat. Cara kedua dengan mengendalikan atau menahan diri dari emosi, pikiran, dan tindakan. Selanjutnya, persiapkan fisik dengan konsumsi asupan makanan yang bergizi, minum air mineral yang cukup. Biasakan lakukan olahraga atau jalan kaki, hal ini bisa dilakukan dengan pergi bersama keluarga dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Hal ini guna menumbuhkan hormon endorvin yang membuat seseorang tersebut merasa bahagia. Secara tidak langsung mampu menurunkan tingkat stres seseorang.

Pendalaman dari olahraga ialah relaksasi yang sederhana seperti mengatur nafas (jika saat emosi atau marah) dengan menghirup nafas dari hidung dan dikeluarkan dari mulut secara berkala. Tahapan kedua dengan meditasi, hal ini berdampak mean bodies fullness atau merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh secara langsung dengan melibatkan panca indera.

Tips untuk peserta didik agar mampu mengusir stres, ialah usahakan istirahat cukup, berikan waktu luang untuk anak bermain dengan teman, dan agendakan waktu berkualitas bersama keluarga dengan bertemu. Selanjutnya berilah melakukan kegiatan yang sukai hingga merasakan puas, namun tetap dalam pengawasan agar tidak melupakan kewajiban lainnya. Cara memanjakan diri inilah yang mampu mengurangi stres pada peserta didik. chicilia risca

 
*) Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jombang.

No comments

Powered by Blogger.