Berantas Zona Merah Buta Aksara Melalui Kegiatan Produktif


Koordinator Data Pokok Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal (PAUD dan PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Winarno mengatakan bahwa di Kabupaten Jombang setidaknya ada dua kecamatan yang berada pada zona merah. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Plandaan dan Kecamatan Kabuh.

JOMBANG – Indonesia kini perlu bersyukur karena dalam sepuluh tahun terakhir telah berhasil meningkatkan keaksaraan masyarakat secara signifikan. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia telah membuktikan keberhasilannya dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan Untuk Semua (PUS) dakar. Yakni, mengurangi setengah penduduk buta aksara dari 15,4 juta (10,20 persen) pada 2004 menjadi 7,54 juta (5,02 persen) pada 2010. Sementara itu, pada dua tahun terakhir, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen atau tinggal sekitar 3,9 juta orang (2,07 persen) yang buta aksara.

Beberapa tantangan besar dalam pengentasan penduduk buta aksara sekarang, yaitu karakteristik penduduk buta aksara yang tersisa sekitar 2,07 persen berasal dari kelompok paling miskin, terpencil, dan terpancar. Selain itu, sebagian berada di komunitas dengan budaya tertentu. selanjutnya, masih besarnya jumlah aksarawan baru yang mengalami relapsing (menjadi buta aksara kembali).

Koordinator Data Pokok Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal (PAUD dan PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Winarno mengatakan bahwa di Kabupaten Jombang setidaknya ada dua kecamatan yang berada pada zona merah. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Plandaan dan Kecamatan Kabuh.


Baca Juga : Drs. Sugiyono, M.MPd Ilhami Batik Jombangan

“Kedua kecamatan tersebut harus dituntaskan untuk buta aksaranya. Untuk meningkatkan minat baca dan mewujudkan masyarakat yang literal, Disdikbud Kabupaten Jombang menggiatkan sejumlah gerakan literasi secara masif, baik di tingkat pusat maupun daerah. Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan berbagai pihak. Di antaranya, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas baca, pejuang dan penggiat literasi, sahabat literasi, serta pemerintah daerah,” ujar Winarno.

Selain itu, lanjutnya, juga terdapat program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Program tersebut merupakan bentuk layanan program melestarikan keaksaraan dengan memberdayakan masyarakat melalui kewirausahaan. Tujuan utama dari program KUM adalah meningkatkan keberdayaan penduduk buta aksara usia 15 tahun keatas melalui peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan dan berusaha secara mandiri.

Dalam hal ini masyarakat di berikan keterampilan guna mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada sehingga masyarakat menjadi berdaya. Pemberdayaan masyarakat melalui program tersebut dalam proses kegiatan pembelajarannya menekankan pada pendidikan ketrampilan yang berpeluang menjadi suatu bidang usaha yang sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki oleh warga belajar.


“KUM merupakan kegiatan peningkatan kemampuan keberaksaraan bagi warga belajar yang telah mengikuti dan atau mencapai kompetensi keaksaraan dasar, melalui pembelajaran keterampilan usaha (kewirausahaan) yang dapat meningkatkan produktivitas warga belajar, baik secara perorangan maupun kelompok sehinggga diharapkan dapat memiliki mata pencaharian dan penghasilan dalam rangka peningkatan taraf hidupnya,” jelas Winarno.

Selama program berlangsung, Disdikbud Kabupaten Jombang akan melakukan pelestarian atau pemeliharaan kemampuan keaksaraan dasar sekaligus diberikan pendidikan kecakapan hidup, baik soft-skill berupa sikap dan karakter maupun hard-skill dalam bentuk keterampilan vokasional. Salah satu bentuk langkah konkritnya adalah mulai dari pembelajaran, praktek sampai dengan evaluasi.

“Jadi para warga belajar ini kita berikan modal keterampilan seperti cara membuat kue atau jajanan. Kalau sudah bisa, kita arahkan mereka untuk belajar menjual atau menjadi pengusaha jajanan kecil-kecilan sembari mereka terus mengasah kemampuan baca tulis,” imbuhnya.

Menurut dia, melalui program lanjutan pascakeaksaraan dasar itu, banyak warga belajar dan akhirnya memiliki keterampilan dan mampu memiliki usaha, baik secara pribadi maupun kelompok (kelompok belajar usaha), sehingga akan lebih sejahtera. Tidak mudah menjalankan semua program tersebut. Harus ada kerja sama semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, lembaga penyelenggara pendidikan keaksaraan, para tutor dan juga warga belajar serta fasilitas pendukung. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.