Desa Sebani Kecamatan Sumobito Dari Poligami Hingga Agresi


Sejarah Desa Sebani juga tidak jauh dari cerita perlawanan masyarakat melawan penjajahan Belanda pada waktu itu. Terbukti saat dimulainya Agresi Militer II, para pejuang di kawasan ini berupaya meledakkan jembatan yang berada di Desa Sebani.

SUMOBITO – Desa Sebani, Kecamatan Sumobito yang kini diketahui masyarakat sebagai sentra usaha kerupuk ini sesungguhnya memiliki sejarah yang pasti berbeda dari desa-desa lain yang berada di Kabupaten Jombang. Sejarah tersebut, menjadi alasan dan cikal bakal terbentuknya Desa Sebani.

Dahulu, daerah yang saat ini dikenal oleh masyarakat sebagai Desa Sebani adalah hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon besar serta semak belukar. Sehingga untuk membabat hutan tersebut sangatlah sulit. Tetapi pada waktu itu, ada seorang tokoh masyarakat yang terkenal sebagai perambah hutan yang hebat. Mulailah dia membabat hutan-hutan tersebut untuk dijadikan lahan pertanian dan perkampungan. Setelah bertahun-tahun lamanya, mulailah orang-orang datang untuk membuat rumah sederhana.


Baca Juga : Kemeriahan Tari Kolosal Klono Sewu

Salah satu sesepuh desa Mbah Sumarti bercerita, “Dahulu ada pasangan suami istri yang datang ke sini untuk mencari tempat tinggal. Saya kurang tahu nama aslinya siapa, namun orang-orang desa menyebutnya Buyut Malem. Buyut Malem ini adalah seorang istri dari yang membabat desa ini dahulu.”

Tahun berganti tahun, perkembangan penduduk semakin meningkat sehingga berdirilah gubuk-gubuk kecil yang kemudian menjadi sebuah perkampungan. Kampung tersebut dinamakan Kampung Sebani. Dari sumber yang didapat, kebanyakan masyarakat tidak mengetahui tentang arti dari Sebani itu apa. Namun, konon mitos yang beredar adalah bahwa laki-laki di kampung Sebani dahulu sering bermain perempuan dan mempunyai istri lebih dari satu.

“Kalau cerita dari orang tua saya dahulu, suami Buyut Malem pernah merantau setelah membuat kampung di sini. Setelah itu dia kembali ke desa sini dan membawa istri baru, yang saat ini dikenal sebagai Buyut Diah. Orang dulu mengubung-hubungkan dengan kejadian tersebut. Sampai saat ini, makam dari Buyut Malem dan Buyut Diah disakralkan oleh masyarakat sekitar,” ujar perempuan yang lahir pada tahun 1951 tersebut.


Sejarah Desa Sebani juga tidak jauh dari cerita perlawanan masyarakat melawan penjajahan Belanda pada waktu itu. Terbukti saat dimulainya Agresi Militer II, para pejuang di kawasan ini berupaya meledakkan jembatan yang berada di Desa Sebani. Maksud dari peledakan ini adalah untuk mencegah atau menghambat gerak laju pasukan Belanda.

“Waktu kejadian itu, kata ibu saya sedang mengandung kakak saya. Pada hari Jumat Legi pengeboman itu dilakukan. Suasana pada hari itu benar-benar hening, sampai-sampai kicauan burung pun tidak terdengar. Tahu-tahu letusan bom terdengar,” papar Mbah Sumarti.

Mengetahui Belanda akan mendatangi markas TNI di sekitar Menturo, jembatan Sebani kemudian dibom. Akibatnya ketika mau melintasi sungai, akses Belanda terhambat. Sehingga terpaksa mereka harus masuk ke dalam sungai. Nah, pada saat mereka berada di sungai itulah, pasukan TNI yang sudah siap siaga, melepaskan tembakan. Akibatnya 32 orang musuh tewas.

Tidak tinggal diam, tambahnya, masyarakat setempat pun ikut berjuang dengan alat seadanya. Bambu runcing yang mereka kenakan pun digunakan untuk memukul mundur pasukan Belanda pada waktu itu. Meski jembatan tidak hancur secara keseluruhan, namun rencana itu membawakan hasil serta Belanda tidak dapat menyerang markas TNI tersebut. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.