Gudang Goni Rupa Perlawanan


Rumah gaya jengki memiliki arsitektur yang berbeda pada bangunan bergaya kolonial, dan bahkan sangat lain dengan bangunan tradisional Indonesia. Sebagai karya arsitektur gaya Jengki merupakan bangunan modern khas Indonesia.

JOGOROTO –
Sebuah bangunan kuno selalu menyimpan sebuah cerita lama dan filosofi. Layaknya dalam membangun rumah atapnya hidup selalu mewakili akan maksud tertentu. Sehingga selain berupaya menciptakan kenyamanan, tujuan lain pun tersemat utamanya dalam arsitekturnya.

Seperti halnya bangunan rumah lawas yang berjajar di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto. Siapa sangka, dahulunya merupakan gudang penampungan karung goni yang menyuplai beberapa kabupaten/kota di sekitar Kabupaten Jombang seperti Kabupaten Nganjuk, Kediri dan lainnya. Namun karena sesuatu hal, gudang milik BUMN tersebut akhirnya tidak terpakai lagi.


Baca Juga : Operator Pelajari Dapodikdasmen 20.20


Salah satu pensiunan karyawan gudang, Sumantri mengatakan, “Dibangunnya gudang tersebut sejak tahun 1957. Namun pada era tahun 1980-an karung goni sudah jarang dipakai dan dipergunakan, karena tuntutan tersebut akhirnya gudang tersebut di tutup.” 


Kini bangunan yang terdiri dari 6 rumah, 1 musala, dan gudang, tambah laki-laki asal Solo, Jawa Tengah, yang berdiri ditanah seluas lebih kurang 1 hektar tersebut menjadi pemukinan beberapa warga. Selain itu bekas gudang goni tersebut disewakan untuk kepentingan lain.

Meski bangunan tersebut seperti tidak terawat, namun kontruksi rumah masih terbilang kokoh. Pasalnya menginjak umurnya yang hampir setengah abad lebih, bangunan tersebut belum pernah di renovasi. Setiap bangunan rumah dengan model arsitektur jengki itu rata-rata memiliki 6 ruang kamar tidur dan 2 kamar mandi.

Rumah gaya jengki memiliki arsitektur yang berbeda pada bangunan bergaya kolonial, dan bahkan sangat lain dengan bangunan tradisional Indonesia. Sebagai karya arsitektur gaya Jengki merupakan bangunan modern khas Indonesia. Mulai tumbuh pada tahun 1950-an ketika arsitek-arsitek Belanda dipulangkan ke negerinya.

Menurut morfologi atau pembentukan kata, istilah “jengki” berasal dari kata “Yankee”, yaitu sebutan untuk orang-orang New England yang tinggal di Amerika Serikat bagian Utara. Penamaan jengki juga dihubungkan dengan model busana celana jengki yang marak pada saat perkembangan langgam arsitektur tersebut.

“Muncul keinginan membuat bangunan tersebut adalah untuk membebaskan diri dari segala sesuatu yang berbau kolonialisme. Arsitektur pada saat itu berusaha menciptakan sebuah ciri arsitektur yang berbeda meski kemampuan arsitektural yang dimiliki masih terbatas. Akhirnya mereka hanya mampu mengembangkan ciri arsitektur pada penonjolan sisi dekoratifnya saja, bukan pada fungsi dan tata ruang. Sedangkan sistem tata ruang yang terbentuk masih terpengaruh ciri arsitektur kolonial.


Rumah jengki sendiri memiliki ciri-ciri menggunakan konsep bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur kolonial. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya.

Bentuk atap bangunan seperti rumah kampung dengan kemiringan lebih landai dibanding atap rumah kolonial. Dinding umumnya dihias beragam motif buatan dari material alam. Upaya ini memberikan suasana riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern. Adapula dinding yang difinishing menggunakan cat putih.

Terdapat banyak bukaan berupa jendela dengan kusen berbahan kayu atau alumunium dengan variasi warna kusen. Pada pinggiran jendela, biasanya terdapat bordes tebal dari beton. Penggunaan penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya berbahan beton dan tidak terlalu lebar dan luas. Selain itu, elemen tiang penyangga kanopi biasanya sedikit miring. Pada kayu dan perabot banyak menggunakan proses pewarnaan beranekaragam, terkadang diselingi warna gelap. aditya eko

No comments

Powered by Blogger.