Keuntungan Melukis Dinding Bikin Merinding


Salah satu pembuat jasa mural tersebut adalah Siswanto. Ayah tiga anak tersebut menekuni mural sejak tahun 2017 silam. Kepiawainnya dalam melukis sudah ada sejak dirinya masih kecil dahulu. Namun untuk medianya masih menggunakan kertas dan kanvas.

JOMBANG – Belakangan ini, seni melukis dinding atau biasa disebut mural semakin marak di beberapa kota besar. Dulu, seni melukis dinding dianggap pekerjaan seniman iseng. Tetapi kini, sudah banyak pihak yang menggunakan jasa mereka untuk memperindah interior bangunan. Seni mural telah menjelma menjadi bisnis kreatif. Untuk target market-nya sendiri adalah mulai dari operator telekomunikasi, pengusaha properti, kafe sampai dengan instansi pemerintah. Media lukisnya sendiri meliputi dinding dan langit-langit gedung, tembok pagar hingga outlet toko yang bersifat permanen.

Salah satu pembuat jasa mural tersebut adalah Siswanto. Ayah tiga anak tersebut menekuni mural sejak tahun 2017 silam. Kepiawainnya dalam melukis sudah ada sejak dirinya masih kecil dahulu. Namun untuk medianya masih menggunakan kertas dan kanvas.

“Sejak kecil memang saya sudah suka menggambar. Ayah saya dahulu juga suka melukis, kemudian dari situ saya mencoba-coba melukis karena tertarik dengan apa yang dikerjakan ayah saya pada waktu itu. Menduduki SMA, karya lukis saya sempat ditawar dan dibeli oleh seseorang dengan harga 40 ribu rupiah. Itu pada tahun 1990-an,” ujar Siswanto.


Baca Juga : Meneguhkan Keberadaan Bahasa Ibu

Percaya memiliki passion dalam bidang lukis, laki-laki asal Kabupaten Trenggalek tersebut melanjutkan kuliah di jurusan Seni Rupa. Dalam perkuliahannya, Siswanto mengaku banyak memperoleh pengalaman tentang menggambar, terlebih dengan menggunakan aplikasi-aplikasi canggih yang dapat diakses pada komputer. Sejak saat itu dirinya pun beralih pada desain dengan menggunakan aplikasi, dan mulai meninggalkan lukisan manual (dengan menggunakan tangan).

Tak mau menyiakan passion yang dia dapat sejak kecil, Siswanto memilih untuk serius terjun ke bisnis jasa pembuatan mural. Langkah tersebut diambilnya sejak tiga tahun belakangan. Awalnya, setelah lulus kuliah dia lebih memilih bekerja dipercetakan. Namun, rasa bersalahnya muncul karena merasa meninggalkan keahliannya di bidang seni rupa.

“Ya pada 2017 itulah passion saya kembali. Pada saat itu saya ditawari teman yang ingin meperindah kafenya dengan lukisan tiga dimensi. Karena memang saya belum pernah membuatnya, saya bingung dan akhirnya mencari reverensi dan akhirnya dapat. Itulah proyek pembuatan mural pertama saya,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam pengerjaan mural, Siswanto biasanya mengerjakan sendiri. Namun, jika tingkat kesulitan dari segi ukuran bertambah maka dia memilih untuk mengajak rekan tambahan. Jasa yang ditawarkannya adalah melukis dekorasi ruangan. Target yang disasar menurutnya tidak terbatas atau siapapun yang menginginkan layanan pembuatan mural.

Kendati demikian, dalam mengerjakan pesanan dia tetap menyesuaikan dengan permintan konsumen. Konsep yang ditawarkannya adalah sesuai dengan refleksi karakter sang pelanggan. Untuk itu, dirinya akan membuat ilustrasi yang akan ditawarkan kepada calon konsumen. Setelah diterima barulah proses pengerjaan dimulai.

Tidak jarang dalam pengerjaannya, Siswanto harus menggunakan proyektor atau grid line agar gambar yang diterapkan pada bidang tembok dapat persisi. Lama pengerjaan pada setiap bidangnya juga tergantung pada konsumen, namun rata-rata dapat dikerjakan dari kurun waktu 2-4 minggu tergantung kerumitan dan lebar bidang.

“Harganya pun beragam tergantung dari tingkat kerumitan gambar yang dipesan. Biaya yang dipasang mulai dari 350 ribu rupiah per meter. Namun jika rumit bisa sampai 800 ribu rupiah per meternya. Kalau omzet pertahun rata-rata yang saya dapat Insya Allah sekitar 100 juta rupiah lebih,” kata laki-laki yang memiliki akun IG magicbrushmural tersebut.

Namun disayangkan, Siswanto sementara ini masih sering menggarap di Ibu Kota dari pada di daerah sendiri. Pasalnya menurut Siswanto, hal tersebut masih perihal biaya yang dibandrolnya. Masyarakat lokal sendiri masih menganggap bahwa harga tersebut masih tinggi. Oleh sabab itu, dirinya lebih sering menggarap di luar daerah. aditya eko

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.