Sampai saat ini warga Desa Pulorejo masih mempercayai sejarah tersebut. Setiap satu tahun sekali pada Bulan Sapar (setelah Bulan Suro/Muharram) di hari jumat para warga desa menggelar acara barikan (sedekah desa) di area pemakan umum yang dipercaya makam dari Mbah Juminten.

NGORO, MSP – Nama Pulorejo diambil dari sejarah zaman dahulu yang diceritakan secara turun temurun dari nenek moyang masyarakat tentang asal muasal Desa Pulorejo. Nama Pulorejo berasal dari dua kata, yaitu Pulo yang berarti pulau dan Rejo yang dalam Bahasa Indonesia adalah ramai. Jadi Pulorejo adalah pulau yang ramai.

Menurut salah satu staf kantor Desa Pulorejo, Suwarno, sejarahnya pada dahulu kala kawasan ini adalah hutan belantara yang pohonnya sangat lebat dan identik berbatang besar. Letak hutan ini berada diantara persimpangan antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Kediri, yang mana pada waktu itu hutan belantara tersebut belum memiliki nama.

“Menurut cerita mbah-mbah dulu pada waktu itu ada seorang yang bernama Mbah Juminten. Beliau tinggal disuatu pedusunan yang pada waktu itu bukanlah suatu desa atau kampung, tapi hanya seunit dusun kecil yang didiami oleh beberapa keluarga yang terletak di hutan tersebut,” kata Suwarno.

Pada saat itu Mbah Juminten diyakini oleh masyarakat sekitar bahwa beliaulah yang babat alas di kawasan itu. Letaknya dipersimpangan dua kabupaten dan banyak orang yang melintasasi hutan belantara itu, maka Mbah Juminten menyebutnya sebagai Pulorejo. Dusun Pulorejo inilah yang menjadi poros cikal bakal terbentuknya Desa Pulorejo yang berada di Kecamatan Ngoro.

Salah satu warga Dusun Pulorejo, Samad mengatakan, “Sampai saat ini makam dari Mbah Juminten masih belum diketahui secara pasti oleh warga Pulorejo. Namun mereka percaya makamnya ada di tengah pemakaman umum.”

Selain itu, tambah Samad ketika bercerita di Kantor Desa Pulorejo, terbentuknya Desa Pulorejo ini tidak jauh dari perjuangan Radem Mas Drono yang merupakan salah satu prajurit dari Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, keturunan serta para pengikutnya sempat mengalami masa-masa sulit. Mereka diburu oleh Belanda karena dianggap bagian dari pemberontak.

“Salah satunya adalah Raden Mas Drono, beliau bersama pasukannya lari ke arah Timur dari kejaran Belanda dan sampai di Jawa Timur. Akhirnya Raden Mas Drono sampai di Desa Pulorejo dan tinggal di sini. Meski keberadaannya selalu berpindah-pindah, tetapi beliau termasuk orang yang berjasa terhadap warga setempat,” kata laki-laki kelahiran 1946 ini.




Semasa tinggalnya di desa yang memiliki tujuh dusun ini, Raden Mas Drono bersama prajuritnya tetap memperangi penjajah. Strateginya dalam berperang tidak bisa dipandang sebelah mata. Raden Mas Drono beserta prajuritnya selalu berhasil mengalahkan penjajah di desa ini. Jika pasukan Belanda mengirim logistik dan melewati desa Pulorejo pasti dirampok,namun hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada penduduk setempat.

“Karena pemberontakan tersebut rumah Raden Mas Drono sempat dibakar kala itu. Tetapi beliau sempat lari, jadi di rumahnya tidak ada penghuninya. Sampai sekarang warga tidak tahu menahu dimana Raden Mas Drono berada. Apakah ditangkap oleh Belanda atau melarikan diri ke suatu tempat,” ujar kakek delapan cucu tersebut.

Sampai saat ini warga Desa Pulorejo masih mempercayai sejarah tersebut. Setiap satu tahun sekali pada Bulan Sapar (setelah Bulan Suro/Muharram) di hari jumat para warga desa menggelar acara barikan (sedekah desa) di area pemakan umum yang dipercaya makam dari Mbah Juminten.

“Tidak ada unsur musrik atau apa di sini. Kami hanya melestarikan kebudayaan dari nenek moyang kami. Acara barikan biasanya dengan syukuran tumpeng dan berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki dan dijauhkan dari bencana alam. Setelah itu pembagian tumpeng dan dibawa pulang, tidak boleh dimakan diarea itu,” papar Samad. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya