Keaslian bangunan juga masih terjaga hingga saat ini, terlihat dari konstruksi luar masjid. Tepi pintu dan cendela masih terbuat dari kayu serta bagian tengah berupa tralis besi yang ditata rapi. Pagar samping bagian luar pun masih nampak jelas sangat kokoh terbuat dari kayu jati. Terlebih pemisah antara laki-laki dan perempuan hanya menggunakan bentangan kain hijau peninggalan waktu lampau.

JOMBANG, MSP – Kabupaten Jombang terkenal dengan julukan Kota Santri, hal tersebut sudah menunjukkan identitas aslinya sebagai daerah yang mendidik ribuan santri. Dari sejumlah tersebut, ada empat pesantren dengan nama besarnya sudah terkenal hingga berbagai pelosok Indonesia, yakni Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Darul ’ulum. Meski berada di lokasi terpisah, pesantren tersebut masih terkait satu samalain.

Menurut sejarah, ada satu majid tua yang menjadi cikal bakal berdirinya pesantren Tebuireng, Denanyar dan Tambakberas. Masjid itu bernama Gedang Selawe. Nama ‘Gedang’ tersebut diambil nama Dusun Gedang, Desa Tambakrejo tempat masjid berada, sedangkan ‘Selawe’ (dua puluh lima) merupakan jumlah santri yang ada di pesantren sebelah masjid. Diambilnya kata ‘Selawe’ juga karena tujuan masjid itu dibangun untuk dipergunakan para santri.

Masjid yang dibangun pada tahun 1826 itu sudah berusia 190 tahun, dibangun oleh Kiai Abdussalam dan Kiai Usman. Kiai Usman sendiri adalah menantu dari Kiai Abdussalam. Sehingga sampai saat ini masjid berukuran delapan kali dua puluh lima meter persegi ini juga sering disebut Masjid Usman. Saat itu masjid ini merupakan masjid terbesar yang ada di kota santri.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyakat pada abad 19 masehi lalu, para pendiri pesantren besar itu dilahirkan dari keturunan Kiai Usman di pesantren tersebut. Dari situ lah awal pendiri pesantren-pesantren besar itu bermula.

“Pertama kali dibangun, seluruh bagian masjid terbuat dari batu bata, gamping, dan santan kelapa sebagai perekat pengganti semen. Sebagai penyangga, masjid dengan kubah berbentuk bunga melati ini menggunakan enam kayu jati setinggi 6 meter dengan lebar 20x30 sentimeter sebagai pilar utama di bagian utama masjid,” jelas Ketua Pesantren Usman, Yusuf.

Keaslian bangunan juga masih terjaga hingga saat ini, terlihat dari konstruksi luar masjid. Tepi pintu dan cendela masih terbuat dari kayu serta bagian tengah berupa tralis besi yang ditata rapi. Pagar samping bagian luar pun masih nampak jelas sangat kokoh terbuat dari kayu jati. Terlebih pemisah antara laki-laki dan perempuan hanya menggunakan bentangan kain hijau peninggalan waktu lampau.

Butuh beberapa pemugaran di bagian masjid. Hal ini lantaran banyak yang sudah termakan usia, sehingga rentan mengakibatkan bencana kalau tidak segera diperbaiki pada salah satu cagar budaya Jombang ini. Pada lantai serambi masjid sudah ditambah dengan keramik, agar lebih rata. Sedangkan setengah sisi dari dinding juga diberi keramik, tujuannya adalah mengurangi pengelupasan tembok. Serta kamar mandi juga sudah direnovasi, agar lebih nyaman dan bisa dipergunakan banyak pengunjung maupun santri yang hendak bersuci sebelum beribadah.

“Selain menjadi awal mula tiga pesantren besar tadi, masjid ini juga menjadi awal lahirnya Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU),” urai pria yang kerap disapa Cak Yusuf itu. fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya