Mujur Berkat Badut dan Jam Busur

Play Dough Badut adalah media pembelajaran matematika kreasinya yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah sudut segi banyak (segi-n) pada materi pembelajaran matematika kelas IV.

SUMOBITO, MSP – Prestasi tidak lelah-lelahnya diukir oleh Didin Handoko, S.Pd. Didin begitu ia akrab disapa, dalam dua tahun berturut-turut berhasil keluar menjadi juara dalam ajang Olimpiade Nasional Inovasi Pembelajaran (ONIP) yang diadakan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika.

Pada ONIP 2017, pendidik di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam, Curahmalang, Sumobito ini berhasil menggondol juara kedua berkat ‘Play Dough Badut’ media pembelajaran matematika kreasinya yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah sudut segi banyak (segi-n) pada materi pembelajaran matematika kelas IV. Setahun sebelumnya, pada tahun 2016 Didin bahkan berhasil menjadi yang pertama berkat ‘Media Jamur Bandul (Jam Busur dari Bahan Daur Ulang) yang merupakan media pembelajaran matematika untuk materi sudut pada peserta didik kelas V.

“Sebenarnya untuk tahun 2017 ini saya tidak lolos seleksi awal ONIP. Tetapi kemudian ada dua nominator yang mengundurkan diri, saya lantas dihubungi oleh panitia untuk mengisi tempat yang kosong. Tidak diduga saya justru berhasil jadi juara kedua,” ujar Didin ketika ditemui di tempatnya mengajar.

Sembari menunggu peserta didiknya yang tengah mengerjakan Penilaian Akhir Semester (PAS) lelaki 26 tahun ini menceritakan motivasinya menciptakan inovasi media pembelajar yang pada akhirnya mengantarkannya mengharumkan nama Jombang ini adalah karena ia ingin menciptakan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan. Disamping alasan keterbatasan anggaran lembaga yang tidak mencukupi untuk membeli media pembelajaran sehingga memaksa guru untuk kreatif dalam membuat media pembelajarannya sendiri.

Didin berkata, “Dalam perjalanan membuat inovasi pembelajaran seperti ini tidak bisa sekali coba langsung jadi. Tetapi harus berkali-kali dan juga mengalami kegagalan yang berulang kali juga. Kebanyakan karena alat yang coba diciptakan itu tidak praktis sehingga tidak dapat diaplikasikan. Karena syarat dari membuat media pembelajaran ini diantaranya harus bermanfaat, mudah dan praktis untuk dibuat, dan mampu membuat anak-anak senang dalam proses pembelajaran.”

Kendati kerap menemui kesulitan, dalam perspektif anak bungsu dari enam bersaudara ini inovasi itu akan tumbuh jika terus digali. Kuncinya dengan banyak membaca, mencari referensi, dan membaca. Oleh karena itu meskipun dua metode pembelajarannya berhasil membawanya berprestasi, ia masih ingin tetap mencoba untuk berinovasi dengan hal-hal lain.

Kedepannya Didin berharap, ia bisa semakin menularkan semangat menulis, berliterasi, dan berprestasi kepada sesama rekan guru baik yang mengajar di MI atau di SD. Selain itu ia juga berharap akan ada dukungan dan juga perhatian dari instansi terkait atau bahkan pemerintah kabupaten terhadap guru-guru berprestasi. Adanya wadah bagi guru-guru untuk saling diskusi dan sharing satu sama lain juga sangat diharapkan oleh alumnus STKIP PGRI Jombang ini. fitrotul aini