Proses pendidikan serta proses pembentukan karakter pada anak juga berlangsung di sekolah (pendidikan formal), keluarga (pendidikan informal), dan masyarakat (pendidikan non formal).

JOMBANG, MSP – Untuk menyiapkan Generasi Emas tahun 2045 yang memiliki kecakapan abad 21, pemerintah menginisiasi program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK akan berperan dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan berkarakter. Dalam PPK terdapat lima nilai karakter utama yang menjadi prioritas pengembangan gerakannya yaitu : religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan kegotongroyongan.

Dalam pelaksanaannya, program yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut mendorong sinergi tiga pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga (orang tua), serta komunitas (masyarakat). Karena menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy ketiga kegiatan itu seakan-akan berjalan sendiri, padahal jika bersinergi dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Jombang, Saidun, M.MPd. Pria bertubuh tegap itu juga menyatakan bahwa sejatinya proses pendidikan serta proses pembentukan karakter pada anak juga berlangsung di sekolah (pendidikan formal), keluarga (pendidikan informal), dan masyarakat (pendidikan non formal).

Ditambahkan Saidun banyak faktor pula yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter seorang anak. Di pendidikan formal (sekolah) pembentukan karakter itu bisa saja didorong melalui waktu-waktu yang telah disediakan sekolah seperti mengaji bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional, atau membaca pancasila dan sebagainya. Namun bisa saja pembentukan karakter itu mentah kembali ketika di luar sekolah. Apalagi di masyarakat banyak sekali hal-hal yang mewarnai pembentukan karakter anak seperti hubungan pertemanan dan pergaulan anak.

“Namun tentang bagaimana karakter anak itu terbentuk sebenarnya bergantung pada bagaimana karakter lingkungan keluarga, bagaimana orang tua menanamkan sebuah karakter pada anak. Sehingga prosesnya dominan pada orang tua,” ujar Saidun.

Untuk itu kepada orang tua, guru BK SMA Negeri 1 Jombang ini menghimbau agar membangun komunikasi aktif diantara orang tua, anak, dan juga pihak sekolah untuk menyinergikan langkah yang dilakukan dalam pembentukan karakter anak. Orang tua juga diharapkan mampu melakukan pengawasan atau pengontrolan terhadap anak, memahami tugas perkembangan anak, serta jangan lupa meluangkan waktu untuk memperhatikan anak sesibuk, apapun kegiatan yang dimiliki. Memberikan contoh nyata berperilaku yang baik juga dapat dilakukan agar anak turut meniru apa yang orang tua lakukan.

“Namun orang tua juga jangan terlalu mengekang anak. Beri juga izin serta kesempatan kepada anak untuk berperilaku atau mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan aturan yang ada,” ucap Saidun.

Satu hal terakhir yang sangat diyakini oleh pria 40 tahu ini adalah orang tua harus memberikan penanaman agama yang kuat kepada anak. Dengan dasar agama yang kuat serta nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga, anak tentu akan memiliki karakter-karakter baik yang diharapkan. fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya