Kreasi yang dipersembahkan oleh SMA PGRI 1 Jombang ini bermula dari pembuatan kolam ikan lele untuk ternak serta budidaya ikan. Merasa masih belum puas pada pengembangannya, kepala sekolah menggagas pemanfaatan air dengan menciptakan kincir air pembangkit listrik.

JOMBANG, MSP – Bermula dari keinginan untuk membangun tempat pendidikan yang nyaman bagi peserta didik. Sekolah Menengah Atas (SMA) PGRI 1 Jombang berkarya dengan menciptakan kincir air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai media pembelajaran peserta didik.

PLTA merupakan salah satu pembangkit yang memanfaatkan aliran air untuk diubah menjadi energi listrik. Energi listrik yang dibangkitkan ini sering disebut sebagai hidroelektrik. Pembangkit listrik ini bekerja dengan cara merubah energi air yang mengalir menjadi energi mekanik (dengan bantuan turbin air) dan dari energi mekanik menjadi energi listrik (dengan bantuan generator). Kemudian energi listrik tersebut dialirkan melalui jaringan-jaringan yang telah dibuat, hingga akhirnya energi listrik tersebut dapat dipakai oleh manusia untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Namun kreasi yang dipersembahkan oleh SMA PGRI 1 Jombang ini bermula dari pembuatan kolam ikan lele untuk ternak serta budidaya ikan. Merasa masih belum puas pada pengembangannya, kepala sekolah menggagas pemanfaatan air dengan menciptakan kincir air pembangkit listrik.

Kepala SMA PGRI 1 Jombang, Eddi Sihono, S.Pd., MM. mengungkapkan, pengembangan dilakukan dari bulan Juli dengan memanfaatkan penadah kolam lele dari perencanaan bulan September. 250 watt listrik dapat dihasilkan dari kincir air dengan diameter 3 meter. Perkembangan selalu dilakukan dan akan ada penambahan daya jika berhasil.

Cara kerja PLTA tersebut adalah air mengalir dari kolam ikan yang memiliki panjang 4 meter, lebar 3 meter, dengan kedalaman 90 centi meter. Mampu mengolah energi gerak menjadi listrik serta proses kerjanya ialah disedot menggunakan mesin pompa air, kemudian keluar dan mengalir disetiap ruas baling-baling kincir. Berawal uji coba 1 meter, tetapi hasil putar baling-baling belum sempurna dan untuk saat ini sudah mendekati sempurna.

“Implementasi nyata dan dengan memiliki tujuan proses pembelajaran serta menampilkan kepada peserta didik tentang inovasi, bahwasannya menciptakan listrik dari pembangkit tenaga air untuk kebutuhan sehari-hari tidak terlalu sulit,” terang bapak bertubuh tegap itu.

Sebagai Ketua MKKS SMA PGRI tingkat Provinsi, ia juga mengharapkan jika memperbesar daya listrik pada kincir air, diperkuat dengan aliran air yang dituang pada tuas-tuas kincir. Maka akan mampu memenuhi aliran listrik secara menyeluruh, sehingga akan ditularkan kepada peserta didik lain yang ingin belajar berinovasi.

Muslikin adalah perancang dari cita-cita laki-laki berkumis tebal ini. Melalui ketelatenannya, mampu merealisasikan angan pembuatan kincir air sebagai PLTA.

Sebagai tangan kanan Eddi Sihono, ia menjelaskan pemanfaatan listrik (demontrasi) sudah digunakan sebagai pengeboran, lampu, dan juga kipas angin dalam batas wilayah lebih kurang 3 hingga 5 meter dari sumber pencipta tenaga listrik.

Dimampukan nantinya akan secara skala besar mengaliri listrik di lingkungan sekolah. Karena saat ini kami aktif menggunakan listrik sebesar 60 ribu watt untuk menggerakkan seluruh mekanisme sekolah.

Harapan kedepannya lulusan SMA PGRI 1 Jombang mampu mengembangkan inovasi dalam pemanfaatan di keluarga dan masyarakat. Kemudian mampu mandiri dengan menciptakan lapangan kerja untuk pengembangan inovasi pengetahuan.

“Berharap peserta didik disamping pintar kognitif, praktik serta mantab spiritualnya, dan mampu masuk di perguruan tinggi,” tutup Eddi Sihono. 
 chicilia risca
Sebelumnya Berikutnya