TK Al-Wardah Peterongan memilih mengusung metode pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Metode pembelajaran yang di pilih tepat serta guru mampu mengiplementasikan, maka hasilnya sudah jelas bakal maksimal.

PETERONGAN, MSP – Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di era modern kini jauh lebih tinggi. Ditunjukkan sejak dini sudah memproyeksikan jenjang pendidikan yang bakal di tempuh dengan memilih lembaga pendidikan dengan capaian belajar paripuna. Oleh karena itu, tidak heran bila rela merogoh kantong dalam dan menempuh jarak dengan rumah yang relatif jauh demi memberikan yang terbaik.

Sebagi indikator penilaian tersebut dapat disaksikan melalui metode pembelajaran yang dilaksanakan guru. Jika metode pembelajaran yang di pilih tepat serta guru mampu mengiplementasikan, maka hasilnya sudah jelas bakal maksimal. Hal itu disadari oleh TK Al-Wardah Peterongan sehingga memilih mengusung metode pembejalan dengan pendekatan saintifik.

Kepala TK Al-Wardah, Eni Lailiyah, S.Pd., M.Pfis., mengatakan bahwa pendekatan saintifik diarahkan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang mendorong anak didik dalam mencari tahu informasi dari berbagai sumber melalui observasi. Baik secara langsung maupun melalui media, tidak hanya sekedar diberi informasi.

“Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan ini bukan berarti tidak membutuhkan peran guru. Guru sangat diperlukan sebagai pemberi dasar ilmu, pemantik semangat belajar anak didik dan membimbing pemahamannya ke arah yang benar. Seperti pada pembelajaran terjadinya gunung meletus, kami menggunakan replika alat ajarnya supaya mereka tahu prosesnya,” tambah perempuan lulusan Pascasarjana Institut Teknologi Bandung.

Selain itu model pembelajaran lain sebagai penunjang keberhasilan pendekatan saintifik juga diterapkan TK Al-Wardah seperti model pembelajaran sentra, area dan kelompok. Menurut Eni Lailiyah, model pembelajaran area lebih memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajarannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya serta menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak.

“Model kelompok, biasanya anak dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda. Satu kali pertemuan, anak harus menyelesaikan dua sampai tiga kegiatan secara bergantian,” jelas ibu tiga anak itu.

Apabila dalam pergantian kelompok, tambah Eni Lailiyah, terdapat anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari temannya, maka anak tersebut dapat meneruskan kegiatan lain sejauh di kelompok lain tersedia tempat. Namun apabila tidak tersedia tempat, maka anak tersebut dapat bermain pada tempat tertentu di dalam kelas yang telah disediakan guru yang disebut dengan kegiatan pengaman. Pada kegiatan pengaman sebaiknya disediakan alat-alat yang lebih bervariasi dan sering diganti disesuaikan dengan tema atau sub tema yang dibahas.

“Selanjutnya adalah model pembelajaran sentra yang mempunyai ciri utama yaitu pemberian pijakan (scaffolding) untuk membangun konsep aturan, ide, dan pengetahuan anak serta konsep densitas dan intensitas bermain,” paparnya.

Demi menguji keberhasilan setiap metode pembelajaran yang telah dilakukannya, Eni Lailiyah dan para guru selalu mengadakan evaluasi mingguan di setiap kelasnya. Jika dirasa kurang berhasil maka ia akan mencari masalahnya dan menerapkan metode yang tepat untuk anak didiknya.

Pembiasaan Diri Anak Didik


Selain metode pembelajarannya yang sangat diperhatikan TK Al-Wardah, pendidikan karakter anak didiknya pun terus dikembangkan. Pasalnya, Pada saat usia antara 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80%.

“Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak,” kata salah satu guru TK Al-Wardah, Yossy Irawati, S.Psi.

Untuk itu, tambahnya, anak didik di TK yang berbasis Islam ini selalu membiasakan membaca surat-surat pendek di setiap pagi sebelum memulai kegiatan di dalam kelas. Peserta didik juga diharuskan membaca doa ketika masuk dan keluar kelas.

“Berbicara sopan santun pun sangat dianjurkan di sini. Cara yang paling mudah adalah pencontohan dan pembiasaan. Selain itu, setiap tindakan yang dilakukan anak selalu kita hargai. Apalagi tindakan tersebut adalah sebuah sikap sopan santun dalam berbicara. Ketika menemukan peserta didik yang senantiasa menunjukkan sikap demikian berdasarkan pengamatan yang anda lakukan, maka segera berikan penghargaan kepada anak tersebut,” ujar Yossy Irawati.

Pembiasan perilaku dan berbicara sopan santun ini juga terlihat terhadap peserta didik Kelompok Belajar (KB). Pasalnya, PAUD yang terdiri dari beberapa lembaga ini membiasakan anak didiknya memanggil kakak dan adik. Ini akan menumbuhkan rasa sayang terhadap mereka karena seperti keluarga.

“Dengan pembiasaan memanggil kakak dan adik, Alhamdulillah mereka tidak pernah berkelahi. Karena kami menanamkan bahwa adik itu harus di sayang dan dilindungi,” kekeh guru yang beberapa kali menjuarai guru berprestasi tersebut. aditya eko

Data Sekolah:

Nama Lembaga : PAUD Al-Wardah

Alamat : Kol. H. Ismail RT/RW 05/04 Budug, Kecamatan Peterongan, Jombang

Tahun Pendirian : 2007

Tahun Beroperasi : 2008

Jumlah siswa TK 2018 : 120 siswa

Fasilitas :

Tempat bermain luas

Kolam renang

Alat permainan edukatif yang beragam

Tempat belajar dan bermain yang aman

Kegiatan dan Ekstrakurikuler :

TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran)

Drumband

Berenang

Tadabur alam

Parenting

Manasih Haji
Sebelumnya Berikutnya