Permainan bentengan sudah ada di nusantara sejak jaman penjajah Belanda dahulu. Karena memang menurut sejarah, permainan betengan ini di ilhami dan terinspirasi oleh perjuangan para pahlawan dalam merebut benteng-benteng Belanda.

Sudiro Adhi Muljono, S.Pd.*)

Menarik untuk dicermati apa yang telah disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan (mantan Mendiknas) dalam acara ASESI yang ke-5 di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Bahwa pendidikan adalah tentang masa depan, pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru, pendidikan adalah tentang menumbuhkan karakter anak. Untuk itu perlu disiapkan kondisi dan lingkungan yang baik agar tumbuh generasi yang baik pula. Maka kita harus merekayasa lingkungan bagi tumbuhnya generasi baru yang handal. Kondisi dan lingkungan tersebut mencakup tiga hal yaitu lingkungan disekolah, dirumah dan lingkungan diantara sekolah dan dirumah yaitu di masyarakat.

Sebagai seorang guru yang mempunyai otoritas secara penuh menumbuhkan karakter anak dilingkungan sekolah, sudah barang tentu kita juga harus bisa merekayasa lingkungan sekolah agar bisa menumbuhkan karakter anak didik. Apalagi sebagai guru kita mempunyai tanggungjawab dan amanah secara konstitusi untuk mengajar, mendidik, mengarahkan, merekayasa, menumbuhkan, menyiapkan generasi yang tangguh di masa yang akan datang, dan membekali anak didik kita dengan karakter yang kuat, dan mampu menyelesaikan segala rintangan dan hambatan di kehidupannya nanti.

Kita harus membekali anak didik kita dengan dua karakter yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral seperti; iman, taqwa, jujur, rendah hati, amanah dll. Sedangkan karakter kinerja meliputi; kerja keras, ulet, tangguh, tuntas, tidak mudah menyerah, dll. Jangan sampai anak didik kita nantinya berkarakter jujur tapi malas, pekerja keras tapi culas, bertaqwa tapi tidak tuntas. Sebenarnya orang tua kita dulu dan nenek moyang kita telah memberikan contoh untuk menumbuhkan karakter anak diatas, salah satunya lewat permainan tradisional. Banyak permainan tradisional yang sarat dengan filosofi dan segudang manfaat untuk menumbuhkan karakter anak yang baik. Seperti permainan tradisional betengan.

Namun sayang di era globalisasi dan teknologi maju sekarang ini banyak anak didik kita yang tidak tahu permainan betengan, mereka lebih canggih dan familiar dengan gawai dan game-game versi android. Kalau kita tanya kepada generasi melineal sekarang ini (kids zaman now dan generasi Z) pasti mereka tidak banyak yang tahu apalagi bisa bermain betengan. Pada hal betengan adalah permaian paling favorit kids zaman old (generasi X). Di era sebelum tahun 90-an permainan betengan sangat booming dan dimainkan oleh anak di seluruh wilayah nusantara dengan nama dan sebutan daerahnya masing-masing. Permainan betengan sudah ada di nusantara sejak jaman penjajah Belanda dahulu. Karena memang menurut sejarah, permainan betengan ini di ilhami dan terinspirasi oleh perjuangan para pahlawan dalam merebut benteng-benteng Belanda.

Permainan betengan ini dimainkan oleh dua kelompok yang masing-masing kelompok menentukan betengnya masing-masing. Bisa berupa pohon, tiang, dinding atau sesuatu yang bisa dipegang dan tidak roboh, bergeser atau rusak ketika dipegang anggota kelompoknya. Selain itu setiap kelompok juga menentukan suatu daerah yang dekat dengan betengnya (penjara) untuk menawan musuh. Nyaris selain itu tidak dibutuhkan lagi peralatan untuk bermain betengan. Setiap kelompok harus berusaha sekuat tenaga untuk menjaga betengnya jangan sampai diduduki (dipegang oleh lawan). Dan juga harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi anggota kelompoknya supaya tidak ditawan oleh musuh.

Permainan bentengan ini memang dibutuhkan pembagian tugas agar dapat memenangkan permainan. Satu kelompok ada yang menjadi penyerang, mata-mata, pengganggu, penjaga beteng dan pemimpin. Cara bermainnya pun sangat mudah, biasanya seorang pengganggu keluar terlebih dahulu dari benteng kemudian lawan boleh menangkap si pengganggu tadi, agar tidak tertangkap si pengganggu dapat kembali ke benteng dan keluar lagi untuk mengganggu. Intinya siapa yang keluar lebih dahulu bisa ditangkap dan dijadikan tawanan. Disinilah peran mata-mata untuk memberikan informasi kepada temannya, mana musuh yang bisa dikejar dan ditangkap sehingga bisa dijadikan ditawanan. Memberikan informasi agar hati-hati terhadap penyerangan musuh. Dibutuhkan pula penjaga yang kuat dan tangguh yang selalu waspada terhadap serangan musuh yang serba mendadak. Disinilah letak seorang pemimpin diuji untuk bisa mengatur strategi agar bisa memenangkan permainan.

Banyak stretegi dan taktik yang bisa dipakai untuk memenangkan permainan ini seperti; a) taktik serangan mendadak, taktik ini mengirimkan semua anggota ke segala penjuru dalam waktu bersamaan dan secara cepat kilat, dengan harapan salah satu angggota kelompok berhasil memegang beteng, b) taktik pengganggu, taktik ini mengirimkan tim penggannggu dikedua sisi luar beteng, tujuan untuk memecah konsentrasi lawan, ketika lawan sibuk, kirimkan anggota penyusup untuk memegang beteng, c) taktik menghadang dan melindungi, caranya kumpulkan anggota kelompok dan pastikan pelari tercepat berada di tengah-tengah kelompok untuk dilindungi, maju secara bersama-sama dalam satu garis lurus untuk menuju beteng musuh dan memegang beteng.

Banyak lagi taktik, cara, model, strategi dan pelajaran dari permainan bentengan ini, dari sini kita bisa menumbuhkan karakter anak. Karakter yang bisa tumbuhkan melalui permainan tradisional bentengan antara lain:

1. Waspada bukan paranoid.

Setiap anggota kelompok harus selalu bersikap waspada terhadap semua taktik strategi serangan musuh, tapi juga tidak harus takut untuk menyerang beteng musuh. Ini akan menumbuhkan sikap berani dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupannya nanti. Waspada terhadap sesuatu hal yang bisa merusak diri, keluarga, masyarakat dan negeranya dari berbagai ancaman seperti; narkoba, miras, sek bebas, LGBT, korupsi dll. Termasuk juga harus berani berjuang untuk memerangi semua ancaman tadi.

2. Kerjasama bukan sama-sama kerja

Dalam permainan bentengan mutlak di perlukan kerjasama, mustahil tanpa kerja sama akan memenangkan permainan, kerjasama tersebut ditandai dengan kekompakan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing yang telah di perintahkan oleh pemimpin kelompok. Ini memberikan bekal kepada anak didik kita nanti agar punya tanggungjawab yang besar terhadap apapun posisinya di keluarga dan masyarakatnya. Jangan sampai keberadaan dirinya akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungannya.

3. Adu strategi bukan main curang

Adu strategi juga merupakan hal yang harus dilakukan agar menang dalam permainan, akan tetapi juga tidak boleh dilupakan untuk tidak bermain curang ini penting, buat apa menang tapi dengan cara curang, itu akan membuat kita jadi pecundang. Karakter ini pula yang harus ditumbuhkan kepada anak didik kita agar punya strategi untuk mengarungi bahtera kehidupannya kelak dikemudian hari, jangan sampai nanti dalam kehidupan selalu berlaku curang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

4. Percaya diri bukan sombong

Kepercayaan diri yang tinggi harus dipunyai oleh setiap anggota kelompok dan ini bisa juga ditingkatkan oleh keberadaan seorang pemimpin. Tanpa adanya rasa percaya diri kita akan selalu terjebak dalam ketakutan yang tidak beralasan. Tetapi percaya diri yang tinggi juga bisa menjadi bumerang, karena akan jatuh pada kesombongan, sombong pangkal dari kerusakan dan kehancuran baik individu, kelompok, masyarakat atau negara sekalipun.

5. Sportifitas bukan egois

Mengakui keunggulan dan kehebatan lawan adalah suatu pelajaran dalam permainan betengan, dan ini memang sulit karena biasanya anak didik kita terlalu egois untuk bisa dan mau mengakui kekalahan kelompoknya dan kesalahan dirinya sendiri. Karakter ini harus selalu dan selalu di tananamkan supaya tumbuh di kemudian hari menjadi sifat sportifitas yang tinggi. Berapa banyak kejadian kekerasan hari ini yang dipertontonkan didepan kita bermula dari rendahnya rasa sportifitas, kalah dalam pertandingan liga sepak bola wasit jadi sasaranya, kalah dalam pilkada anarkisme pelampiasannya, kalah dalam pengaruh dan kredibiltas ujaran kebencian berbau sara serta intoleransi yang mengumbar hoax menjadi solusinya.

6. Setia kawan bukan menikam.

Kesetiakawanan juga harus dibangun dalam permainan bentengan, ini tercermin dari upaya anggota kelompok untuk melindungi anggota kelompoknya, dan juga upaya untuk membebaskan anggota kelompok apabila ada yang ditawan. Berapa banyak kesenjangan sosial di tenggah-tengah masyarakat kita, karena memang rendahnya rasa setia kawan dilingkungan kita. Kita abai terhadap kesulitan dan kesukaran orang lain padahal kita mampu meringankan beban mereka, jangan sampai anak didik kita nanti mempunyai karakter yang egois, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Rasa simpati dan empati harus ditumbuhkan dan jangan sampai menjadi sikap antisosial.

7. Toleransi bukan diskriminasi.

Tepo seliro atau toleransi memang harus dipunyai karena hal ini akan melahirkan sikap menghargai kekurangan dan kelebihan dari setiap anggota kelompok. Karena dengan toleransi ini permainan bentengan dapat berjalan dengan lancar, enak, mengairahkan, menyehatkan dan menyenangkan. Sikap diskriminasi hanya akan melahirkan pertentangan, pertengkaran, perselingkuhan serta perpecahan. Dan berujung pada kehancuran seorang individu, kelompok masyarakat atau negara.

Permaian bentengan hanya sekedar permainan, tetapi melalui cara atau sarana permainan tersebut kita bisa menjelaskan dan menerangkan manfaat atau pelajaran yang bisa kita ambil dari permainan tersebut. Untuk itu alangkah bijaknya kita sebagai pendidik ketika bermain betengan juga menjelaskan nilai-nilai kebaikan dan filosofi dari permaian tersebut. Karena dengan penjelasan atau informasi yang kita jelaskan kepada anak didik kita, disertai fakta yang ada (permaian bentengan) akan membentuk suatu pemahaman baru bagi anak didik kita, diharapkan nantinya akan menjadi prinsip dalam hidupnya. Dari pemahaman inilah akan lahir perilaku. Pemahaman yang baik dan benar akan melahirkan perilaku yang baik dan benar, demikian sebaliknya. Inilah tantangan dari pendidikan kita hari ini, yaitu menyiapkan generasi mendatang yang tangguh, serta mempunyai karakter mental yang kuat dan karakter kinerja yang handal.

*) Guru di SDN Sumbersari II Megaluh.
Sebelumnya Berikutnya