Raden Ronggo Warsito atau dikenal sebagai Ki Demang Singo Joyo merupakan orang yang pertama kali membuka lahan wilayah Desa Karomat.

PLOSO, MSP – Menelisik sebuah sejarah tentu sangat menarik, terlebih bila ada kaitannya dengan kita. Termasuk di Jombang, banyak nama desa yang kalau diartikan secara bahasa memiliki makna ‘nyeleneh’. Salah satunya adalah Desa Tanggung Kramat di Kecamatan Ploso.

Berdasar penuturan Kepala Desa Tanggung Keramat, Agus Hadi Suroso, bahwa desa yang bersebelahan dengan Sungai Berantas itu merupakan gabungan tiga desa, yakni Desa Karomat, Tanggungan dan Kleco. Karena sebelum masa kemerdekaan belum ada pembagian wilayah antara desa dan dusun. Sehingga masing-masing kawasan memiliki tokoh pemekar berbeda juga.

Untuk wilayah Desa Karomat, orang yang pertama kali membuka lahan adalah Raden Ronggo Warsito atau dikenal sebagai Ki Demang Singo Joyo. Selanjutnya Desa Tanggungan ada Mbah Menggolo, sedangkan Mbah Nolo merupakan tokoh Desa Kleco. Semua figur tersebut berasal dari Jawa Tengah datang ke Jombang dikarenakan ingin mengembara menyebarkan agama Islam.

“Lebih kurang di tahun 1950 dengan segala pembaharuan peraturan pemerintah, semua kepala desa sepakat jika ketiga desa itu menjadi satu dengan nama Tanggung Keramat. Nama Desa Karomat pun berubah menjadi Keramat,” jelas Agus Hadi Suroso.



Ketiga aktor pembuka lahan pun akhirnya mendiami daerah Tanggung Keramat sampai akhir hayatnya tiba dan disemayamkan di beberapa titik desa sesuai asal usul sebelumnya. Hanya saja, pengetahuan masyarakat desa perihal kisah para pendahulunya sangat minim. Terlebih makam Ki Demang Singo Joyo yang ber puluh-puluh tahun tertutup tumpukan tanah sempat menjadi lokasi dapur salah satu warga.

Pada akhirnya ada seorang pemuka agama yang melakukan perjalanan spiritual menemukan petunjuk lokasi dimana makam berada dan melakukan pemugaran dengan merenovasi ulang makam. Tujuannya agar masyarakat bisa mengetahui siapa leluhurnya serta menjaga kebudayaan lokal secara turun temurun.

Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Tanggung Keramat, Nyono menuturkan, “Di balik cerita tersebut ada kepercayaan lain yang berkembang di tengah masyarakat Desa Tanggung Keramat hingga keluar daerah, yakni keberadaan makam sepasang pengantin yang konon katanya meninggal karena dimakan buaya ketika sedang duduk di tepi Sungai Berantas.”

Kala itu, ada sepasang pengantin belum lama menikah. Sesuai kepercayaan, sebelum melampaui sepasaran (lima hari) seorang pengantin tidak diperbolehkan keluar rumah dahulu agar terhindar dari mara bahaya. Tanpa menghiraukan kepercayan semacam itu, pasangan yang sedang dalam masa bahagia tersebut pun pergi ke tepi sungai alih-alih mencari angin segar. Tidak lama sesampainya di tepi sungai, ada seekor buaya mendekat tanpa adanya keraguan menerkam kedua insan manusia.

“Seketika, penyerangan buaya hanya menyisakan telapak tangan pengantin yang dikuburkan dimana terjadinya peristiwa pilu itu. Hingga saat ini lokasi pemakaman menjadi tempat masyarakat melaksanakan pelbagai kegiatan untuk menyampaikan rasa syukur terhadap sang pencipta,” tambah Nyono. fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya